dunia di penuhi berbagai macam kehidupan. begitu luas dan beragam. jadikan semuanya bermanfaat bagi hidup. khikmah di balik musibah, sabar meski menderita. karena yakinlah... pasti akan ada kisah di baliknya... ingatlah untuk bersyukur...
Selasa, 13 September 2011
Suatu waktu seseorang teman menceritakan kisahnya kepada kami teman kuliahnya. Dengan jujurnya ia mengungkapkan kisahnya sebagai seorang kakak yang harus menjadi “orang tua” bagi adik-adiknya sejak ayahnya meninggal dunia. Ia harus bekerja paruh waktu dan kuliah setengah hari. Ia menjadi tulang punggung keluarga. Ia harus menafkahi seluruh keluarganya. . Demi kelanjutan biaya pendidikan dan menghidupi nyawa keluarganya, ia pun rela banting tulang peras keringat bekerja sebagai pembuat tempe dan sore hari atau siang hari ia harus jalan kaki ke kampus.Bagiku ia sangat hebat melewati segala perjalanan tanpa keluh dan kesah kehidupan. Kata yang mungkin tersirat dari wajahnya hanyalah kepuasan. Ternyata makna yang bisa terlukis dari kisahnya adalah keajaiban kasih sayang. Kasih sayang yang menjadi kendaraannya menjalani roda kehidupan yang serba keras, rumit, dan penuh tantangan. Kekuatan kasih sayangnya pada kelangsungan hidup keluarga mengalahkan ego pribadinya. Kasih sayang pada keluarga telah mengalahkan keangkuhannya. Kasih sayang telah membuat dirinya berpikir dan bertindak bijaksana. Baginya mengorbankan diri sendiri lebih berharga di bandingkan harus melantarkan masa depan adiknya. Seandainya ia lebih memilih kuliah dan membebankan biaya pada ibunya, mungkin ia tak perlu bekerja dan tetap kuliah. Adiknyalah yang harus meninggalkan sekolahnya. Namun akhirnya akan berdampak kembali kepadanya sebagai tulangpunggung keluarga.
Inilah gambaran kecil memaknai arti kasih sayang yang secara komprehensif. Kita harus menyadari bahwa suasana hati melepasksn balutan kasih sayang persoalan yang sesungguhnya kecil bisa berubah menjadi hal yang merisaukan. Kasih sayang yang dilakukan teman tadi adalah refleksi sikap mengalah yang lebih besar. Kasih sayang adalah solusi atau pilihan yang bijak dalam menghadapi setiap masalah. Nilai kasih sayang mampu menjadi modal seseorang meniti jalan kehidupan tanpa terjebak pada persoalan-persoalan yang menjauhkan diri kita dari lingkungan pergaulan masyarakat.
Jika kita mau mencermati dan menelisik makna kasih sayang, kita akan menerima kunci kehidupan. Sebuah kunci yang akan mengantar kita dalam setiap aktivitas yang kita lakukan. Kasih sayang itu mampu menciptakan/ menularkan sindrom kebahagiaan agar orang lain juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengan demikian kasih sayang itu dapat di terjemahkan sebagai upaya untuk berbagai rasa. Di samping itu, ia adalah pondasi yang menuntut kita memahami aturan main yang di sadari atau tidak di sadari mengikat semua yang ada dalam suatu komunitas. Artinya, kasih sayang menjadi meraih kedamaian secara kolektif di setiap hubungan antarindividu dalam suatu masyarakat. Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya kasih sayang mampu membawa kita kepada kehidupan yang lebih damai, aman, dan bahagia.
Kehidupan ini menjadi kacau tanpa sentuhan kasih sayang. Potret alam yang menebar pesona keindahan menjadi tidak bersahabat saat kita tidak lagi memberikan kasih sayang kepadanya. Keserakahan dan kesewenangan manusia dalam mengelolah alam menjadi petaka yang begitu dasyat jika kita hanya mementingkan diri sendiri. Kekuatan kasih atau cinta akan menaklukkan watak manusia yang keras. Sekeras singa sekalipun. Kekuatan kasih mampu meluluhkan keserakahan yang hadir dalam benak seseorang. Kekuatan jiwa mampu memberikan kesegaran jiwa karena kejernihannya memberikan pengaruh energi kebahgiaan yang tak pernah lekah oleh keadaan. Ibarat mata air yang tak pernah habis walaupun terus diambil dan di pergunakan untuk keperluan hidup sehari-hari. Demikian halnya dengan kasih sayang yang semestinya tak pernah pudar dalam kehidupan kita. Kasih sayang adalah semangat hidup yang harusnya kita bawa kemana pun berada. Kasih sayang itu tidak pernah luntur di tengah derasnya arus kehidupan yang kita jalani.
Kasih sayang bersifat abadi. Kasih sayang seperti apa kehidupan yang tidak boleh padam. Ia mampu menerangi kehidupan hati orang yang telah di selimuti egoisme pribadi yang berlebihan. Kasih sayang tidak pernah menyerah untuk terus bersuara lantang menuntut dan mencerahkan orang-orang yang telah kehilangan kendali (kasih sayang). Karena itu kasih sayang harus juga di maknai sebagai usaha atau semangat yang membara.
Kasih sayang bisa di wujudkan di setiap insan, tergantung ia menilainya. Kasih sayang seorang ibu adalah kasih sayang panjang bagi seorang anak, kecuali ia durhaka. Kemungkinan ia tak mengerti arti kasih sayang.
Dalam perlombaan fisik pun di tunjjukkan nya kasih sayang terhadap saingan. Atau pertandingan silat atau karate yang jelas-jelas menggunakan fisik dan saling melukai satu sama lain. Namun di balik semua itu, mereka harus memegang prinsip menaklukkan lawan tanpa akan ada dendam setelahnya.
Masih teringat tulisan dari lomba pertandingan ko ju kai Perkemi persaudaraan kempo indonesia yang di adakan di Unhas yang mengatakan bahwa kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan. Kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman. Seperti itulah kasih sayang. Berbagai ragam berbagai macam perwujudannya.Tergantung dari kita mewujudkannya kepada orang yang kita sayangi. Orang tua, teman-teman, dan sahabat kita, tak terkecuali orang yang di sayangi lewat jalinan kasih. Itulah makna kasih sayang tak pernah terlukiskan. Kasih sayang itu muncul dari lubuk hati setiap insan, dari setiap jiwa manusia yang terlahir dan tercipta karena sebuah kasih sayang. Makna kasih sayang itu telah ada sejak manusia terlahir, kasih sayang Tuhan kepada makhluknya adalah bukti nyata. Perdamaian akan tercipta, ketentraman, kedamaian akan terlaksana jika orang atau makhluk menghargai realitas keajaiban sebuah KASIH SAYANG.
Kamis, 02 Juni 2011
JEPANG...NEGARA TUJUAN UNTUKKU...
Jepang di Mata Orang Indonesia
Negara Nippong. Negara yang bangkit setelah di luluh lantakkan oleh Bom yang di lancarkan Amerika pada dua kepulauan besar negeri sakura. Pulau hirozima dan Nagasaki, saksi sejarah lahirnya peradaban Baru. Lagu khas yang tercipta dari alunan musik kecapi menjadikan ciri khas nada yang tercipta.
Jepang memukau dunia. Pasti. Perang dunia kedua usai menjadikan Produktivitas perusahaan Jepang meningkat, bahkan mengalahkan Amerika sebagai Negara yang memiliki Produktivitas perusahaan tertinggi.
Bagi indonesia sendiri, Jepang adalah negara yang pernah menoreh luka bagi bangsa indonesia. Akan tetapi hal tersebut menjadikan bangsa indonesia melek akan perubahan. Hal ini dapat di lihat dari bangunan peninggalan jepang yang masih awet. Masa penjajahan Jepang mereka meninggalkan berbagai Aset yang kemudian di lestarikan oleh masyarakat pribumi. Jika di bandingkan ke kaguman bangsa indonesia terhadap jepang, ternyata dunia internasional sangat kagum akan kemampuannya. Terbukti dengan adanya berbagai penelitian yang di lakukan oleh beberapa manajer Amerika dengan bekerja tanpa di gaji asalkan mereka mengetahui rahasia manajemen Jepang.
Keunikan jepang sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan bangsa Jepang serta nilai-nilai tradisional yang terkait di dalamnya. Mereka dapat mensinergikan budaya modern yang masuk dan Nilai Tradisional yang masih kental dan melekat pada masyarakat jepang. Meski sebelumnya jepang sangat menolak Pengaruh dari luar setelah pengeboman atas Hirosima Dan Nagasaki yang sekaligus mengakhiri Perang Dunia II, negara Matahari Terbit ini berada di kawasan Amerika Serikat yang berlangsung 1945 hingga 1952. Berlatar belakang Tegen Prestatie adalah awal politik luar negeri Jepang cenderung seirama dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Di antara negara kecil di Asia tenggara, Jepang memiliki Reward di mata Dunia. Jepang termasuk negara di Asia yang mampu bangkit dari kehancurannya dan menjadikan masa silamnya untuk membangun dengan semangat kerja keras yang mampu menempatkan dirinya sebagai negara paling maju di Asia. Jepang mampu menjadi negara yang memiliki kehidupan ekonomi yang relatif kondusif di dunia. Dengan kondisi ekonomi dan politik yang demikian Jepang mampu mengucurkan jutaan Yen bagi berbagai proyek di Indonesia.
Selain dari itu, ke istimewaan dari Jepang yaitu kemajuan dan Perkembangan Negaranya dapat berkembang justru karena mereka tidak memupuskan nilai-nilai tradisional yang telah menjadi budaya bangsa. Di dalam berbagai upacara kenegaraan, nilai –nilai tradisional masih tetap di pertahankan . kantor-kantor perwakilan Jepang di luar negeri pun pada hari-hari tertentu selalu merayakn hari bersejarah yang sudah di rayakan secara tradisional oleh rakyatnya. Perayaan hari-hari tertentu pada setiap Bulannya menjadi sesuatu yang akan di temui d Jepang. Salah satu budaya yang terkenal dari Jepang dan di lestarikan yaitu bangunan-bangunan peninggalan zaman kekaisaran Jepang, kimono, geisha, samurai,sampai penggunaan produk dalam negeri.
Titik balik ditangan Tokugawa.
Jepang masa lalu adalah Jepang yang senantiasa diwarnai dengan perpecahan, perselisihan, dan peperangan antara suku-suku dan daerah-daerah serta perampokan. Kerusuhan melanda seluruh negeri sehingga rakyat merasakan tidak ada keamanan sama sekali. Tetapi setelah Ieyashu Tokugawa mengambil alih kekuasaan pada tahun 1603, Jepang mengalami titik balik yang penting dalam sejarahnya. Tokugawa seakan menciptakan semacam cetakan induk yang didalamnya semua segi kehidupan bangsa jepang diatur, termasuk social dalam masa 265 tahun selanjutnya.
Setelah Tokugawa berkuasa kemudian berhasil menyatukan bangsa Jepang dengan membangun masyarakat secara terstruktur dan berkasta-kasta. Di luar kaum bangsawan, maka masyarakat Jepang terkelompok ke dalam empat kasta, yaitu militer, petani, cendikiawan, dan pedagang. Yang menjadi dasar pengelompokan ini adalah seberapa banyak kontribusi atau sumbangan produktivitas mereka kepada masyarakat. Kaum militer dianggap kasta yang paling tinggi karena sumbangan produktivitasnya kepada masyarakat d innilai yang tertinggi. Hal ini bisa dimaklumi karena situasi keamanan dan ketertiban masyaakat saat itu dinilai “sangat mahal” harganya, dan militerlah yang dinilai mampu mengupayakannya.
Kelompok militer diatas dikenal juga dengan sebutan “Samurai”. Selanjutnya kelompok dibawahnya adalah kelompok petani biasa. Kelompok ini dianggap besar pula sumbangan produktivitasnya terhadap masyarakat dan negara. Sedangkan kelompok yang d inilai paling rendah kasanya adalah kelompok pedagang. Mereka dinilai tidak mempunyai sumbangan produktivitas apa-apa terhadap masyarakat. Akan tetapi, pada perkembangan berikutnya ternyata kelas pedagang ini semakin unggul, bahkan kelas samurai dan petani kemudian tergantung kepadanya. Maka kelas pedagang mulai punya pengaruh penting kepada kekuasaan feudal.
Nilai-nilai Masyarakat “Warisan” Tokugawa.
Dibawah kepemimpinan Tokugawa, bangsa Jepang dapat hidup dalam keadaan relatif stabil, meskipun cara hidup mereka terpola-pola dan terkasta. Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya, sebagaimana dikemukakan oleh Mirrian Syofian Arif (1986), yakni:
Pertama, pemerintahan militer (shogun) Tokugawa menggunakan ajaran konfusianis sebagai falsafah hidup bangsanya. Konfusianis mengajarkan bahwa masyarakat yang besar adalah masyarakat yang mempunyai empat ciri dalam hidupnya, yaitu: kebajikan, sopan santun, bijaksana dan percaya mempercayai sesamanya, ajaran konfusianisme ini bukan ditanamkan sebagai ajaran agama, tetapi berorientasi pada kehidupan dunia. Dengan demikian, terciptalah pola kehidupan yang disarankan kepada lima kunci semboyan hidup, yaitu:
1. hormat antara bapak dan anak.
2. penghargaan dan loyalitas antara atasan dan bawahan
3. harmonis anara suami dan istri
4. keteladanan antara kakak dan adik
5. percaya mempercayai sesama teman
Empat semboyan terdahulu erat kaitannya dengan system masyarakat yang berkasta-kasta, sedangkan yang terakhir tatanan seluruh kehidupan masyarakat.
Dalam ajaran busindo siapapun yang menduduki jabatan diharapkan dapat memberi kebajikan atau karunia kepada bawahan. Bagi bawahan kebajikan itu dirasakan sebagai berhutang budi kepada atasannya yang tidak dapat dibalas dengan apapun juga selain kesetiaan. Bawahan yang gagal memberikan kepuasan dan kesetiaan kepada atasannya dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang tidak tau kebajikan. Orang yang bersangkutan akan merasa malu dan perasaan ini sangat berat menghimpit jiwanya. Konsep kebajikan dan kesetiaan ini merupakan pola hidup masyarakat Jepang.
Ketiga, nilai lain yang dianut bangsa jepang adalah nilai kehidupan yang berorientasi kepada kelompok atau kolektif, setiap bidang kehidupan yaitu bidang politik, ekonomi dan sosial masyarakat Jepang, erat kaitannya dengan kelompok sehingga hampir tidak ada kebebasan bagi individu. Norma dan nilai kelompok dijadikan sebagai dasar bertindak setiap anggota kelompok, misalnya dalam bidang ekonomi terlihat adanya kerja sama kolektif atau famili sehingga kemakmuran seseorang erat kaitannya dengan kemakmuran kelompok atau familinya.
Perlu diketahui bahwa bangsa jepang adalah bangsa homogen, mempunyai kesamaan bahasa, agama, sejarah, dan kebudayaan. Salah satu sifat yang bisa dibanggakan pada bangsa jepang adalah kesanggupan mereka untuk bekerja sama secara kolektif dalam suasana yang harmonis. Agaknya aspek inilah yang sukar dipahami oleh bangsa barat yang bersifat individualistis terutama nilai-nilai kelompok dan rasa tanggung jawab kelompok.
Disamping itu ditemukan pula suatu pandangan bahwa dalam jiwa bangsa jepang tertanam suatu kepercayaan bahwa dirinya tidak lebih penting dari orang lain. Oleh sebab itu, proses pekerjaan dari awal sampai akhir adalah hasil kerja bersama-sama antara dia dengan orang-orang lain. Akibatnya peserta organisasi perusahaan atau negara jepang tidak akan dapat menunjukkan kalau ditanya siapa yang paling berkuasa dalam organisasinya, karena mereka tidak ada yang menganggap dirinya lebih penting. Mereka akan malu sekali kalau ada orang lain yang menganggap dirinya lebih penting dari orang lain.
Dalam organisasi jepang tidak dikenal pola hubungan berdasarkan pemenuhan kerja antara majikan dan buruh. Tetapi dengan menyediakan mekanismenya maka pola hubungan yang terjadi antara majikan, manajer dan buruh dapat berbentuk sosial dan emosional. Adapun cara yang di tempuh itu misalnya berupa acara makan siang atau makan malam bersama-sama yang dihadiri oleh semua peserta organisasi. Maka tidaklah mengherankan kalau ide, gagasan atau pemecahan masalah organisasi muncul pada waktu-waktu jam istirahat ketika semua peserta organisasi bertemu; jadi, tidak hanya diforum resmi pada jam kerja saja. Justru pada suasana santai seperti itu semua orang merasa bebas bertemu dengan siapa pun yang disukainya, dan bebas untuk bercurhat, mencurahkan segenap isi hati.
Itulah antara lain nilai-nilai yang diwariskan era Tokugawa yang masih memberi warna pada kehidupan masyarakat Jepang era modern. Kalau nilai-nilai tersebut demikian mengakar dan mbalungsumsum ke dalam kehidupan masyarakat Jepang, tampaknya ini adalah juga karena kebajikan Shogunat Tokugawa yang bersikap isolatif terhadap pengaruh-pengaruh asing. Dan Shogunat Tokugawa mengambil lsuatu tindakan drastis dengan menutup jepang terhadap dunia luar itu pada tahun 1639. selama masa isolatif yang berlangsung samapi abad ke-18 itu, Jepang tidak menerima kunjungan pendatang-pendatang asing manapun.
Selama zaman yang “lengang” tersebut, bangsa jepang berapa dalam perkembangan yang mengarah kepada sikap kebanggaan diri yang sempit. Mereka tak ubahnya dengan katak dalam tempurung. Isolasi terhadap dunia luar benar-benar membawa kemunduran yang tak pernah diperkirakan oleh para penguasa negeri ‘matahari terbit’ –begitu bangsa Jepang menjuluki negerinya ini.
Untungnya, selama masa isolasi ini ada wilayah tertentu yang bisa dimasuki orang asing, yakni di pulau Dejima, Nnagasaki, meski dengan ruang gerak yang dibaasi. Selama dua setengah abad, koloni di pulau Dejima merupakan satu-satunya titik kontak Jepang dengan perdaban dari Eropa. Maka melalui pintu inilah para sarjana dapat menimba ilmu pengetahuan dan sekaligus berkenalan dengan teknologi yang lebih maju.
Restorasi Meiji
Lama kelamaan rakyat jepang merasa era Tokugawa sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman, mereka membutuhkan suatu kekuatan pembaharuan yang siap dengan kekuasaan di tangan untuk merombang keadaan statis menjadi dinamis. Sampai pada suatu saat, maka runtuhlan Shogunat Tokugawa pada tahun 1867. kekuasaan penuh kembali lagi ketangan k aisar, setelah dua abad lebih berada ditangan Shogunat. Kaisar Meiji (1868-1912) segera melakukan berbagai perombakan dan perbaikan struktur kenegaraan dan sosial. Gerakan Meiji ini dikenal dengan istilah Restorasi Meiji.
Jepang dibawah kekuasaan kaisar Meiji, mengalami perkembangan yang luar biasa hebat. Dari negeri yang terisolasi, langsung dapat memasuki pembentukan negar modern. Dengan industri yang modern pula. Tetapi tentu saja hal itu tak akan terjadi apabila tidak ada pra kondisi yang telah disiapkan berabad-abad sebelumnya. Dengan demikian, gerakan pembaharuan yang dilakukan kaisar Meiji itu laksana bendungan yang jebol yang dibaliknya telah terkumpul kekuatan selama berabad-abad.
Pembaharuan dibidang ekonomi juga dilakukan secara besar-besara, seperti halnya dibidang sosial dan politik. Mereka menyadari bahwa penerapan teknologi maju dari Barat harus diimbangi dengan kemajuan sosial dan politik. Akibatnya, walaupun kemajuan telah melanda jepang tetapi bangsa Jepang masih tetap dalam kepribadiannya. Oleh karena itu, spirit yang selalu mereka tanamkan ialah Wahon Yasai, artinya Jepang dan teknologi Barat.
Dalam kancah militer, Jepang juga mengalami keunggulan. Setidaknya dalam perang Cina-Jepang pada tahun 1894-1895, dan sepuluh tahun kemudian melawan Rusia; kedua-duanya dimenangkan oleh pihak Jepang. Dalam kedua peperangan tersebut Jepang berhasil mendapatkan kembali pulau Sakhilin Selatan yang bebarapa tahun sebelumnya diserahkan kepada Rusia sebagai penukar kepulauan Kuril. Jepang juga memperoleh hak kekuasaan di Formosa (Taiwan), Korea, dan hak-hak khusus di Mancuria.
Akibat aliansi dengan Inggris sejak tahun 1902, Jepang jadi ikut terseret ke dalam perang Dunia I. Bersama para sekutu Beratnya, Jepang pun keluar sebagai pihak yang menang.
Prestasi demi prestasi, kemajuan demi kemajuan yang diraih ternyata tak selamanya membawa berkah, tetapi ternyata bisa mengundang bencana. Inilah yang terjadi pada bangsa Jepang. Kebanggaan diri secara nasional yang berlebih-lebihan, tanpa disadari ternyata menimbulkan bahaya baru yang dapat mengancam bangsa Jepang sendiri. Kemajuan pada segala bidang, termasuk industri dan industri persenjataan perang, menyeret jepang ke dalam ancaman perang baru yang tak bisa dielakkan, terana dunia II.
Dalam Perang Dunia II itu Jepang mengalami kekalahan yang menyakitkan setelah dua buah bom atom dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki. Pihak sekutu (Amerika cs) yang menang perang memaksa Jepang tidak mampu lagi memiliki kekuatan militer seperti masa-masa sebelumnya. Dan rakyat Jepang pun jadi benar-benar menderita akibat nafsu haus perang dan bangga diri dari kaum militer mereka.
Keadaan Pasca Perang
Bangsa jepang Sock. Soalnya rakyat yang telah diindoktrinasi selama hampir setengah abad dengan ideology nasional sebagai bangsa yang besar dan kuat. Tiba-tiba kalah dalam perang Dunia II. Akibaatnya timbul kecenderungan untuk menolak ideology dan nilai-nilai tradisional pada masa yang lalu. Penolakan nilai-nilai lama ini menyebabkan rakyat Jepang lebih bersikap moderat. Lalu timbullah kepercayaan pada masyarakat Jepang bahwa perlu ada perbaikan-perbaikan dalam bidang sosial yang dapat mendukung dan mengimbangi fenomena pertumbuhan ekonomi. Perubahan itu antara lain perubahan dalam institusi dan system pemerintahan yaitu dari bentuk otoriter menjadi demokrasi.
Perubahan sosial yang mencolok adalah perubahan tentang struktur kerja dan pola pembagian pendapatan sebagai akibat kemajuan ekonomi. Rakyat yang dulunya hanya hidup di desa dengan bertani, sekarang mulai meninggalkan profesinya dan menyerbu kota-kota besar untuk bekerja di industri. Mereka dibayar dengan jumlah gaji yang selalu ditingkatkan sehingga mengakibatkan perubahan pada pola konsumsi masyarakat yang semakin modern.
Dari pengalaman pahit kalah dalam Perang Dunia II itulah, kemudian Jepang giat membangun ekonominya di segala bidang. Akibatnya pada tahun 1955-1963 terjadi suatu lonjakan ekkonomi yang cukup tajam, meningkat tiga kali lipat. Peningkatan tersebut erat kaitannya dengna kebijakan pemerintah Jepang yang mendukung pertumbuhan ekonomi dengan memelihara kestabilan nasional, pembaharuan unsur politik dan demokrasi, pengurangan biaya militer, pengerahan keterampilan dalam bidang industri dan penerapan teknnologi maju serta manajemen moderen.
Manajemen Jepang
Apabila dilihat dari sudut manajemen, maka sebenarnya prinsip-prinsip manajemen yang dipakai di Jepang itu sama saja dengan yang berlaku pada manajemen organissasi negara manapun. Meskipun demikian, belum tentu hasil yang dicapai juga sama. Sebab factor lingkungan yang berbeda-beda dapat menimbulkan hasil yang berbeda pula. Para ahli berpendapat bahwa tingkah laku manajemen yang berbeda antara Jepang dan Amerika misalnya, terutama kebudayaannya telah menyebabkan perbedaan hasil yang dicapai oleh masing-masing negara tersebut.
Masyarakat Jepang yang lebih bercora peternalistik, akan berbeda dengan masyarakat Amerika (Barat) yang cenderung individualistic. Itulah sebabnya mengapa manajemen Jepang sangat memperhatikan hubungan inter-antar kelompok ataupun dengan masyarakatnya. Sekedar contoh, Genta Ogami, seorang pengusaha yang antara lain bergerak di bidang pembiayaan iklan, dalam “tema” kerja di perusahaannya, mengajukan “ 10 Dasar Kerohania yang Menyelamatkan” yang sarat dengan muatan nilai-nilai sosial.
Ke-10 Dasaar Kerohanian yang dimaksudkan adalah:
Pasal 1:
Merealisasikan kebahagiaan material dan spiritual bagi seluruh karyawan dan seluruh manusia, serta memimpin usaha perdamaian di seluruh dunia.
Pasal 2:
Berdasarkan G. Sistem (system yang dijalankan perusahaannya,Pen), dengan setulus hati dan jiwa, menjadikan kelompok terbaik di duni untuk membangun kebahagiaan bersama seluruh dunia.
Pasal 3:
Saling menghormati kenyataan ‘jiwa’ yang hidup sebagai sesama manusia dari dasar lubuk hati dan hidup saling mengasihi dengan benar.
Pasal 4:
Jalanilah seluruh kehidupan dengan optimisme dan suka cita, harapan cemerlang dan keberanian menggebu, sera kata-kata yang dipenuhi perdamaian.
Pasal 5:
Menyimpan keinginan-keinginan tak terbatas dalam hati, menghilangkan pikiran yang berlebihan, pikiran yang membingungkan, dan hidup dengan pikiran positif terhadap segala sesuatu.
Pasal 6:
Membicarakan ketidak adilan dan ketidak puasan. Jika Anda punya waktu untuk itu, amati dan kritiklah diri sendiri dengan tegas, dan bersahabatlah untuk memperbaiki diri sendiri.
Pasal 7:
“Bekerja sebagai motivasi hidup”, dengan penuh syukur mengubah seluruh kehidupan menjadi kehidupan sejati yang penuh arti.
Pasal 8:
Perkokoh kekuatan, keberanian, keyakinan dan kerukunan di dalam hati kita untuk mencapai segala sesuatu.
Pasal 9:
Kita bergantung pada orang lain dan orang lain bergantung pada kita, segala sesuatu yang kita selesaikan, selesaikanlah lebih dari sekedar untuk mereih keuntungan.
Pasal 10:
Dengan ‘rasa kebersamaan’ membangun perdamaian sejati dalam kehidupan sehari-hari, keluarga, dan diri pribadi.
Dari butir-butir pasal di atas, dapat dilihat adanya kemampuan yang kuat dan luhur untuk bersama-sama mewujudkan apa yang dicita-citakan, di antaranya dalam upaya menggapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.
Nilai kebersamaan adalah hal yang penting dalam manajemen Jepang.
Maka dalam suatu organisasi di Jepang pada umumnya berlaku kode etik bahwa produktivitas dapat dicapai kalau ada saling percaya mempercayai antara buruh dn majikan. Jadi, kalau ada partisipasi dan saling percaya antara buruh dan majikan, serta pimpinan bijaksana, maka timbullah keintiman dalam organisasi ersebut sehingga produktivitas akan meningkat.
Hal yang sering terjadi, keintiman tersebut tidak hanya pasa masa selama bekerja saja, melainkan juga di luar jam kerja dan di mana-mana. Inilah manajemen partisipasi di Jepang, yaitu kerja sama antara buruh, majikan dan manajer untuk mencapai tujuan bersama, telah ikut menjadi penggerak yang signifikan bagi kemajuan ekonomi Jepang.
Dalam manajemen partisipasi, pihak manajer percaya bahwa keterlibatan semua pihak dalam organisasi dapat meningkatkan produktivitas. Oleh sebab itu, penekanan produktivitas tidak terletak pada yang mempunyai perusahaan, melainkan pada orang-orang yang melibatkan diri dalam perngolahan organisasi. Kode etik ini telah melahirkan cirri-ciri yang khars pada manajemen Jepang misalnya dalam hal:
1. Sistem Kerja Seumur Hidup
Umumnya system ini diterapkan oleh perusahaan besar dan birokrasi pemerintah. Begitu seorang masuk ke dalam organisasi atau perusahaan tersebut, maka ia akan bekerja di situ sampai mencapai umur 55 tahun ( usia pensiun). Ini bisa terjadi karena etika yang berlaku adalah bahwa suatu perusahaan tidak mau melakukan pembajakan pegawai dari perusahaan lain dalam arti tidak mau menerima mereka yang ingin pindah dari suatu kelompok besar.
Sedangkan pemberhentian pegawi yang belum mencapai usia 55 tahun atau usia pensiun, biasanya bersangkutan dengan masalah kriminal. Keadaan demikian terntu akan membuat orang berpikir berkali-kali kalau mau keluar dari pekerjaan untuk mencari pekerjaan lain, sebab citra dirinya akan dipertanyakan.
Kemudian tentang pembinaan karier, semua pegawai mendapat kesempatan yang sama untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi untuk menggantikan atasan yang pensiun. Para pensiunan diberi pesangon sebanyak lima atau enam tahun gaji sebagai hadiah pensiun. Tetapi mereka tidak diberi uang pensiun atau jaminan sosial lainnya. Meski demikian, perusahaan tidak akan membiarkan mereka yang telah pensiun begitu saja, apalagi mengingat bahwa pada umur 55 tahun itu orang masih mampu berproduksi. Mereka masih dipikirkan nasibnya, misalnya disalurkan keperusahaan “satelit”, yakni perusahaan yang bukan merupakan anggota perusahaan besar tersebut tetapi erat kaitannya dengan perusahaan besar itu karena tugasnya menyalurkan atau melayani kepentingan perusahaan besarnya.
2. Evaluasi dan Promosi
tidak seperti di Indonesia, karyawan di sana akan dievaluasi sekali dalam sepuluh tahun. Selama masa itu tidak akan ada promosi bagi dirinya. Promosi yang lambat ini akan menghambat permainan yang tidak wajar dari perkerja karena seluruh karyawan tahu dan menyadari kapan masanya dia dinilai dan dipromosikan. Akibat yang lain ialah tidak akan timbul usaha karyawan untuk menojolkan dirinya sendiri secara individual untuk menarik perhatian pemimpin. Evaluasi dan promosi yang lama ini memberi kesempatan kepada para manajer muda untuk mengembangkan sikap terbuka dalam bekerja sama, mengokohkan penampilan dan menilai dirinya sendiri. Apalagi ditunjang dengan kondisi kantor yang mendorong orang saling berhubungan secara dekat atau intim satu sama lain. Kebanyakan kantor disusun dalam bentuk yang memungkinkan orang saling kontak, misalnya manajer, staf, dan sekretaris serta pegawai-pegawai lainnya duduk bersama dalam satu meja yang disusun panjang.
Salah satu hal lagi yang mendukung manajemen Jepang ialah pandangan hidup masyarakat yang tidak menyenangi orang yang bersikap santai. Salah satu dari nilai Jepang adalah kerja keras. Nilai ini tercermin dari sikap masyarakat, misalnya kalau ada seorang pekerja yang pulang ke rumah sebelum waktunya maka masyarakat di sekitar rumah akan ribut bertanya tentang apa yang terjadi dengan pekerjaannya. Yang bersangkutan cenderung dianggap telah melakukan suatu kesalahan sehingga pimpinan menghukumnya. Maka dalam pandangan masyarakat, martabat keluarga orang itupun menjadi jatuh.
Sebaliknya masyarakat memandang seseorang sebagai orang penting k alau orang itu setiap hari kerja samapai larut malam sehingga marabat keluarganya meningkat. Kebiasaan di Jepang, tutup kantor pada pukul 17.00, sedangkan para manajer meninggalkan kantor pukul 18.00. Sehabis kerja, umumnya orang tidak langsung pulang ke rumah, tetapi menyempatkan barang satu jam untuk shotpping, bermain di pachino, atau keperpustakaan untuk membaca.
Masyarakat Jepang adalah “pelahap” bacaan yang mengagumkan, setidaknya untuk ukuran orang Indonesia. Maka tak heran kalau surat kabar di sana oplahnya sampai jutaan. Menurut catatan tahun 1980-an saja, oplah beberapa surat kabar Jepang adalah sebagai berikut:
a. Yoiuri : 12.014.000 eksp
b. Asahi : 11.904.000 eksp
c. Mainichi : 6.939.000 eksp
d. Nihon Keizai : : 2.874.000 eksp
e. Sankei : 2.718.000 eksp
(Sumber: “Mengenal dari Dekat Jepang, Negara Matahari Terbit” karya Syahbuddin Mangandaralam, PT.Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995).
Padahal Indonesia, dengan jumlah penduduk yang lebih besar, pada tahun 1995an, surat kabar yang oplahnya mencapai 750.000 saja mungkin sudah yang terbaik. Ini memang menjadi keprihatinan tersendiri, apalagi jika di ingat bahwa kebudayaan baca itu erat kaitanya dengan kemajuan suatu bangsa.
Maka dunia perbukuan dan karya cipta pun belum tampak tanda-tanda pergerakan yang “spektakuler”. Bandingkan, kalau di Jepang satu judul buku di cetak ratusan ribu eksemplar itu sudah hal yang biasa, tetapi di Indonesia laku 5.000 eksemplar pertahun saja sudah termasuk yang best seller.
Karenanya jangan heran, meskipun Jepang miskin sumber daya alamnya, tetapi sumber daya manusianya berkualitas, maka kemajuan pun cepat diraih. Dan ternyata, SDM yang berkualitas itu lebih unggul ketimbang sumber daya alam yang berlimpah tetapi SDM-nya tidak mutu. Jepang dan juga Singapura adalah bukti yang nyata.
3. Pemberian Bonus dan Flesibilitas Kerja
perusahaan-perusahaan besar di Jepang, mempunyai daya tarik yang unik mengenai pemberian bonus dan keluwesan kerja.
Pertama, tentang pemberian bonus, setiap perusahaan besar memberikannya pada karyawan sekali dalam enam bulan. Selain itu ada juga bonus tahunan yang jumlahnya antara 5-6 kali gaji. Besarnya bonus tersebut tergantung pada keadaan perusahaan, tidak tergantung pada kecakapan karyawan. Sehingga k alau perusahaan sedang untung besar, bonusnya juga besar. Tetapi sebaliknya kalau perusahaan tengah merugi bukan saja mereka tidak dapat bonus, tetapi gaji mereka dapat dipotong untuk nomboki perusahaan. System ini menjadikan orang-rang yang terlibat dalam perusahaan mereka ikut bertanggung jawab atas mau mundurnya perusahaan tempat mereka menggantungkan hidup.
Adanya system tersebut menjadikan resiko perusahaan berada pada pundak seluruh karyawan, bukan pada pemilik perusahaan itu saja. Dengan demikian, seluruh karyawan merasa harus mau bekerja keras memajukan perusahaannya karena mereka merasa memiliki perusahaan tersebut, atau hidup dan matinya perusahaan tergantung pada kemampuan semua peserta dalam mengembangkan perusahaan itu. Perasaan memiliki ini akan semakin dirsasakan bila mengingat bahwa mereka tidak akan pindah ke perusahaan yang lain kalau telah bekerja pada suatu perusahaan karena adanya system kerja seumur hidup.
Kedua, Jepang mengenal system karyawan sementara terutama bagi karyawan wanita. Seorang gadis diharapkan dapat bekerja selama 5 atau 6 tahun dalam perusahaan sebelum mereka kawin dan mengurus anak-anak mereka. Kalau anak-anak telah memasuki sekolah maka ia diperbolehkan kembali kerja di perusahaan semula. Di samping itu juga diterapkan system waktu atau jadwal kerja yang fleksibel, artinya wantita dapat memilih kapan mereka mau mulai kerja sesuai dengan jadwl kerja yang telah di atur.
Kombinasi antara system bonus dan cara kerja sementara (bagi wantita) serta perasaan senasib dan sepenanggungan mulai dari pemilik perusahaan samapai pekerja tingkat terendah telah mendorong Jepang memiliki perusahaan-perusahaan yang kuat bersaing di seantero dunia.
4. Jalan Karier yang Tidak Berdasarkan pada Spesialisasi
Jepang memiliki tradisi yang unik dalam system karier seseorang. Perkembangan karier seseorang tidak diperoleh melalui kecakapan atau keahlian dalam satu bidang tugas, tetapi ditempuh melalui jalan yang berliku-liku sampai dia mahir betul tentang seluk beluk perusahaan tempat dia bekerja. Maka seseorang yang bekerja di perusahaan Jepang akan diarahkan untuk sebanyak mungkin ahli dalam semua tugas yang dilakukan di perusahaan tersebut.
Sementara seorang menilai hal tersebut sebagai kelemahan system kerja di Jepang. Tetapi nyatanya, system kerja demikian membawa banyak keuntungan, diantaranya seseorang tidak akan terbuang dari pekerjaannya jika perusahaan tersebut tidak lagi mengelola suatu tugas tertentu. Karena kemampuan y ang telah dimilikinya, maka dapat ditempatkan di bagian lain.
Keuntungan yang lain, oleh karena setiap pejabat telah ahli dalam seluruh tugas perusahaan, maka hal ini akan memudahkan untuk melakukan koordinasi dan pengawasan, sebab semua pihak yang terlibah dapat memahami masalah apa yang menjadi hambatan, serta seluk beluk lainnya.
Dengan pola kerja yang demikian, maka seseorang karyawan akan menjadi sering berganti tugas, sehingga ia sering menghadapi tugas baru. Padahal menurut penelitian dari MIT Culumbia University, bahwa pekerja pada tingkat manapun yang secara terus menerus menghadapi tugas baru akan merasa tugas itu lebih penting dan dikerjakan secara hati-hati, lebih produktif dan lebih merasa puas terhadap pekerjaannya dibandingkan dengna mereka yang hanya mengerjakan satu tugas saja, walaupun perpindahan itu tidak disertai kenaikan jabatan.
5. Sistem Pengawasan
System pengawsan dalam manajemen jepang memiliki corak yang menarik. Kalu kita mempunyai istilah waskat untuk pengawasan melekat, maka di Jepang ada pengawasan kelompok. Di Jepan, setiap peserta organisasi/ perusahaan kecil akan tergabung dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap orang dalam organisasi akan tergabung dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok biasanya terdiri atas 8-12 orang yang masing-masing mempunyai tugas yang berbeda-beda. Dalam kelompok setiap orang musti menjaga tindakannya dan memperkirakan bagaimana pandangan rekan-rekan terhadap dirinya. Sebab ketidaksetiaan mengurangi dukungan kelompok terhadap dirinya, yang pada akhirnya dia dapat dikeluarkan dari kelompok tersebut.
Dengan demikian, pengawasan dalam organisasi bukanlah bersifat eksternal baik dengan menggunakan model ancaman atau imbalan, melainkan lebih bersifat internal, yaitu melalui keintiman kelompok sendiri yang tidak kentara dan halus. Cara ini membuat masing-masing orang akan berusaha mengendalikan sikap dan tindakannya sedemikian rupa agar sesuai dengan norma-norma kelompok. Dan pada akhirnya setiap orang dalam kelompok itu akan berusaha sungguh-sungguh untuk meningkatkan produktivitas karena semua pihak merasa memiliki atau berkepentingan dengna perusahaan.
6. Proses Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan pada organisasi di Jepang, baik Negara maupun niaga, dewasa ini banyak diteliti orang secara mendalam. Mereka tertarik antara lain karena keunikan proses yang musti di lalui dalam pengambilan sebuah keputusan karena adanya pengaruh tradisi yang masih mengakar.
Dalam masyarakat kita, untuk mengambil suatu keputusan dikenal istilh musyawarah untuk mufakat. Cara ini mendasarkan keputusan pada permufakatan pihak-pihak yang terlibat. Sedangkan dalam masyarakat jepang mempunyai corak yang lain lagi. Dalam pengambilan keputusan, semua pejabat (orang-orang yang telibat) harus mengikuti prosedur-prosedur tertentu. Biasanya konsep datang dari pejabat rendah. Pucuk pimpinan boleh mengemukakan idenya tetapi harus menyuruh bawahannya untuk mengajukan k onsep. Konsep ini disebut ringinsho. Ringinsho formal yang telah di konsep diedarkan diantara berbagai kepala seksi dan bagian yang akan terlibah didalam pelaksanaan keputusan nantinya. Setiap pejabat yang mengevaluasi dokumen tersebut diharuskan membubuhkan tanda persetujuan atau penolakanya dengan mengemukakan pendapat-pendapatnya.
Dalam perkembangan berikutnya, prosedur ringi kemudian diperbarui, diubah, dan disederhanakan, sehingga dapat menghemat waktu dan lebih efisien. Perombakan itu antara lain dengna menyederhanakan format dokumen, memperjelas saluran yang akan dilalui ringi, mengurangi individu yang akan ringi, atau membiarkan usulan ringi diserahkan langsung kepada pucuk pimpinan terutama untuk kasus-kasus yang s angat penting. Perubahan lainnya ialah membahas usulan ringi dalam rapat pejabat secara keseluruhan. Jadi, bukan hanya membuhkan tanda persetujuan secara perorangan, tetapi didiskusikan secara bersama-sama.
Dengan mengakomodasi pendapat, aspirasi, ataupun saran banyak orang, menjadikan model pengambilan keputusan ala Jepang itu menghasilkan keputusan yang kuat landasannya, serta tahan lama.
7. Tanggung Jawab yang Menyebar.
Dengan pola pengambilan keputusan seperti di atas, maka permintaan tanggung jawab menjadi hal yang unik di Jepang. Pucuk pimpinan perusahaan tidak akan berpikir bahwa tanggung jawab hanya pada pundaknya, karena ia merasa bahwa tindakan yang di ambil itu atas usulan bawahan. Sebaliknya bawahan juga tidak b isa dituntut secara perorangan untuk bertanggung jawab karena ia hanya salah satu dari banyak orang yang memberikan persetujuannya. Jadi, tanggung jawab organisasi tidak terletak pada pundak satu orang saja, melainkan menyebar pada semua orang yang ada dalam organisasi tersebut.
Cara tanggung jawab seperti itu kiranya belum dapat diterima oleh manajemen barat. Namun, keuntungannya cukup besar, misalnya kalu ada salah seorang anggota kelompok yang tidak masuk kerja karena sakit, maka teman-temannya mengerjakan tugasnya. Dengan demikian, tidak ada pekerjaan yang terbengkalai karena tidak haridnya seseorang.
8. Keterlibatan Seluruh Orang
Organisasi Jepang berpandangan bahwa bekerjanya mekanisme organisasi tidak hanya ditunjang oleh factor-faktor dalam organissi saja, tetapi juga ditunjang oleh factor-faktor ayng ada diluar organisasi. Artinya, seluruh orang menunjang organisasi tersebut sehingga dapat berjaya mencapai sasarannya. Factor di luar tersebut ialah factor social yang merasa ada keterlibatan dengna pertumbuhan sesuatu organisasi, seperti consume, pensuplai, dan bahkan orangtua pekerja.
Contoh: berhasilnya seseorang memasuki kerja pada suatu organisasi adalah karena pendidikannya. Berhasilnya dia mempunyai pendidikan adalah berkat orangtua yang menyediakan segala s esuatu yang diperlukannya untuk mencapai suatu tingkat pendidikan dalam lsuatu lembaga tertentu. Oleh sebab itu, dlam penobatan calon karyawan menjadi karyawan suaatu perusahaan atau organisasi, orangtua karyawan diundang dan diberi ucapan terima kasih atas usahanya mendidik anaknya sehingga dapat memsuki perusahaan/ organisasi tersebut. Dengan demikian, terjalinlah hubungan yang erat di antara orang yang terlibah secara keseluruhan dalam menunjang berhasilnya suatu organisasi mencapai tujuannya.
Demikian sekelumit tentang manajemen Jepang yang memukau dunia karena keberhasilan-keberhasilanya. Hal-hal yang baik dapat kita tiru, sementara yang tidak cocok dengan situasi di sini dapat dijadikan pelajaran atau perbandingan. Bagaimanapun pengalaman adalah guru yang terbaik.
Negara Nippong. Negara yang bangkit setelah di luluh lantakkan oleh Bom yang di lancarkan Amerika pada dua kepulauan besar negeri sakura. Pulau hirozima dan Nagasaki, saksi sejarah lahirnya peradaban Baru. Lagu khas yang tercipta dari alunan musik kecapi menjadikan ciri khas nada yang tercipta.
Jepang memukau dunia. Pasti. Perang dunia kedua usai menjadikan Produktivitas perusahaan Jepang meningkat, bahkan mengalahkan Amerika sebagai Negara yang memiliki Produktivitas perusahaan tertinggi.
Bagi indonesia sendiri, Jepang adalah negara yang pernah menoreh luka bagi bangsa indonesia. Akan tetapi hal tersebut menjadikan bangsa indonesia melek akan perubahan. Hal ini dapat di lihat dari bangunan peninggalan jepang yang masih awet. Masa penjajahan Jepang mereka meninggalkan berbagai Aset yang kemudian di lestarikan oleh masyarakat pribumi. Jika di bandingkan ke kaguman bangsa indonesia terhadap jepang, ternyata dunia internasional sangat kagum akan kemampuannya. Terbukti dengan adanya berbagai penelitian yang di lakukan oleh beberapa manajer Amerika dengan bekerja tanpa di gaji asalkan mereka mengetahui rahasia manajemen Jepang.
Keunikan jepang sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan bangsa Jepang serta nilai-nilai tradisional yang terkait di dalamnya. Mereka dapat mensinergikan budaya modern yang masuk dan Nilai Tradisional yang masih kental dan melekat pada masyarakat jepang. Meski sebelumnya jepang sangat menolak Pengaruh dari luar setelah pengeboman atas Hirosima Dan Nagasaki yang sekaligus mengakhiri Perang Dunia II, negara Matahari Terbit ini berada di kawasan Amerika Serikat yang berlangsung 1945 hingga 1952. Berlatar belakang Tegen Prestatie adalah awal politik luar negeri Jepang cenderung seirama dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Di antara negara kecil di Asia tenggara, Jepang memiliki Reward di mata Dunia. Jepang termasuk negara di Asia yang mampu bangkit dari kehancurannya dan menjadikan masa silamnya untuk membangun dengan semangat kerja keras yang mampu menempatkan dirinya sebagai negara paling maju di Asia. Jepang mampu menjadi negara yang memiliki kehidupan ekonomi yang relatif kondusif di dunia. Dengan kondisi ekonomi dan politik yang demikian Jepang mampu mengucurkan jutaan Yen bagi berbagai proyek di Indonesia.
Selain dari itu, ke istimewaan dari Jepang yaitu kemajuan dan Perkembangan Negaranya dapat berkembang justru karena mereka tidak memupuskan nilai-nilai tradisional yang telah menjadi budaya bangsa. Di dalam berbagai upacara kenegaraan, nilai –nilai tradisional masih tetap di pertahankan . kantor-kantor perwakilan Jepang di luar negeri pun pada hari-hari tertentu selalu merayakn hari bersejarah yang sudah di rayakan secara tradisional oleh rakyatnya. Perayaan hari-hari tertentu pada setiap Bulannya menjadi sesuatu yang akan di temui d Jepang. Salah satu budaya yang terkenal dari Jepang dan di lestarikan yaitu bangunan-bangunan peninggalan zaman kekaisaran Jepang, kimono, geisha, samurai,sampai penggunaan produk dalam negeri.
Titik balik ditangan Tokugawa.
Jepang masa lalu adalah Jepang yang senantiasa diwarnai dengan perpecahan, perselisihan, dan peperangan antara suku-suku dan daerah-daerah serta perampokan. Kerusuhan melanda seluruh negeri sehingga rakyat merasakan tidak ada keamanan sama sekali. Tetapi setelah Ieyashu Tokugawa mengambil alih kekuasaan pada tahun 1603, Jepang mengalami titik balik yang penting dalam sejarahnya. Tokugawa seakan menciptakan semacam cetakan induk yang didalamnya semua segi kehidupan bangsa jepang diatur, termasuk social dalam masa 265 tahun selanjutnya.
Setelah Tokugawa berkuasa kemudian berhasil menyatukan bangsa Jepang dengan membangun masyarakat secara terstruktur dan berkasta-kasta. Di luar kaum bangsawan, maka masyarakat Jepang terkelompok ke dalam empat kasta, yaitu militer, petani, cendikiawan, dan pedagang. Yang menjadi dasar pengelompokan ini adalah seberapa banyak kontribusi atau sumbangan produktivitas mereka kepada masyarakat. Kaum militer dianggap kasta yang paling tinggi karena sumbangan produktivitasnya kepada masyarakat d innilai yang tertinggi. Hal ini bisa dimaklumi karena situasi keamanan dan ketertiban masyaakat saat itu dinilai “sangat mahal” harganya, dan militerlah yang dinilai mampu mengupayakannya.
Kelompok militer diatas dikenal juga dengan sebutan “Samurai”. Selanjutnya kelompok dibawahnya adalah kelompok petani biasa. Kelompok ini dianggap besar pula sumbangan produktivitasnya terhadap masyarakat dan negara. Sedangkan kelompok yang d inilai paling rendah kasanya adalah kelompok pedagang. Mereka dinilai tidak mempunyai sumbangan produktivitas apa-apa terhadap masyarakat. Akan tetapi, pada perkembangan berikutnya ternyata kelas pedagang ini semakin unggul, bahkan kelas samurai dan petani kemudian tergantung kepadanya. Maka kelas pedagang mulai punya pengaruh penting kepada kekuasaan feudal.
Nilai-nilai Masyarakat “Warisan” Tokugawa.
Dibawah kepemimpinan Tokugawa, bangsa Jepang dapat hidup dalam keadaan relatif stabil, meskipun cara hidup mereka terpola-pola dan terkasta. Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya, sebagaimana dikemukakan oleh Mirrian Syofian Arif (1986), yakni:
Pertama, pemerintahan militer (shogun) Tokugawa menggunakan ajaran konfusianis sebagai falsafah hidup bangsanya. Konfusianis mengajarkan bahwa masyarakat yang besar adalah masyarakat yang mempunyai empat ciri dalam hidupnya, yaitu: kebajikan, sopan santun, bijaksana dan percaya mempercayai sesamanya, ajaran konfusianisme ini bukan ditanamkan sebagai ajaran agama, tetapi berorientasi pada kehidupan dunia. Dengan demikian, terciptalah pola kehidupan yang disarankan kepada lima kunci semboyan hidup, yaitu:
1. hormat antara bapak dan anak.
2. penghargaan dan loyalitas antara atasan dan bawahan
3. harmonis anara suami dan istri
4. keteladanan antara kakak dan adik
5. percaya mempercayai sesama teman
Empat semboyan terdahulu erat kaitannya dengan system masyarakat yang berkasta-kasta, sedangkan yang terakhir tatanan seluruh kehidupan masyarakat.
Dalam ajaran busindo siapapun yang menduduki jabatan diharapkan dapat memberi kebajikan atau karunia kepada bawahan. Bagi bawahan kebajikan itu dirasakan sebagai berhutang budi kepada atasannya yang tidak dapat dibalas dengan apapun juga selain kesetiaan. Bawahan yang gagal memberikan kepuasan dan kesetiaan kepada atasannya dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang tidak tau kebajikan. Orang yang bersangkutan akan merasa malu dan perasaan ini sangat berat menghimpit jiwanya. Konsep kebajikan dan kesetiaan ini merupakan pola hidup masyarakat Jepang.
Ketiga, nilai lain yang dianut bangsa jepang adalah nilai kehidupan yang berorientasi kepada kelompok atau kolektif, setiap bidang kehidupan yaitu bidang politik, ekonomi dan sosial masyarakat Jepang, erat kaitannya dengan kelompok sehingga hampir tidak ada kebebasan bagi individu. Norma dan nilai kelompok dijadikan sebagai dasar bertindak setiap anggota kelompok, misalnya dalam bidang ekonomi terlihat adanya kerja sama kolektif atau famili sehingga kemakmuran seseorang erat kaitannya dengan kemakmuran kelompok atau familinya.
Perlu diketahui bahwa bangsa jepang adalah bangsa homogen, mempunyai kesamaan bahasa, agama, sejarah, dan kebudayaan. Salah satu sifat yang bisa dibanggakan pada bangsa jepang adalah kesanggupan mereka untuk bekerja sama secara kolektif dalam suasana yang harmonis. Agaknya aspek inilah yang sukar dipahami oleh bangsa barat yang bersifat individualistis terutama nilai-nilai kelompok dan rasa tanggung jawab kelompok.
Disamping itu ditemukan pula suatu pandangan bahwa dalam jiwa bangsa jepang tertanam suatu kepercayaan bahwa dirinya tidak lebih penting dari orang lain. Oleh sebab itu, proses pekerjaan dari awal sampai akhir adalah hasil kerja bersama-sama antara dia dengan orang-orang lain. Akibatnya peserta organisasi perusahaan atau negara jepang tidak akan dapat menunjukkan kalau ditanya siapa yang paling berkuasa dalam organisasinya, karena mereka tidak ada yang menganggap dirinya lebih penting. Mereka akan malu sekali kalau ada orang lain yang menganggap dirinya lebih penting dari orang lain.
Dalam organisasi jepang tidak dikenal pola hubungan berdasarkan pemenuhan kerja antara majikan dan buruh. Tetapi dengan menyediakan mekanismenya maka pola hubungan yang terjadi antara majikan, manajer dan buruh dapat berbentuk sosial dan emosional. Adapun cara yang di tempuh itu misalnya berupa acara makan siang atau makan malam bersama-sama yang dihadiri oleh semua peserta organisasi. Maka tidaklah mengherankan kalau ide, gagasan atau pemecahan masalah organisasi muncul pada waktu-waktu jam istirahat ketika semua peserta organisasi bertemu; jadi, tidak hanya diforum resmi pada jam kerja saja. Justru pada suasana santai seperti itu semua orang merasa bebas bertemu dengan siapa pun yang disukainya, dan bebas untuk bercurhat, mencurahkan segenap isi hati.
Itulah antara lain nilai-nilai yang diwariskan era Tokugawa yang masih memberi warna pada kehidupan masyarakat Jepang era modern. Kalau nilai-nilai tersebut demikian mengakar dan mbalungsumsum ke dalam kehidupan masyarakat Jepang, tampaknya ini adalah juga karena kebajikan Shogunat Tokugawa yang bersikap isolatif terhadap pengaruh-pengaruh asing. Dan Shogunat Tokugawa mengambil lsuatu tindakan drastis dengan menutup jepang terhadap dunia luar itu pada tahun 1639. selama masa isolatif yang berlangsung samapi abad ke-18 itu, Jepang tidak menerima kunjungan pendatang-pendatang asing manapun.
Selama zaman yang “lengang” tersebut, bangsa jepang berapa dalam perkembangan yang mengarah kepada sikap kebanggaan diri yang sempit. Mereka tak ubahnya dengan katak dalam tempurung. Isolasi terhadap dunia luar benar-benar membawa kemunduran yang tak pernah diperkirakan oleh para penguasa negeri ‘matahari terbit’ –begitu bangsa Jepang menjuluki negerinya ini.
Untungnya, selama masa isolasi ini ada wilayah tertentu yang bisa dimasuki orang asing, yakni di pulau Dejima, Nnagasaki, meski dengan ruang gerak yang dibaasi. Selama dua setengah abad, koloni di pulau Dejima merupakan satu-satunya titik kontak Jepang dengan perdaban dari Eropa. Maka melalui pintu inilah para sarjana dapat menimba ilmu pengetahuan dan sekaligus berkenalan dengan teknologi yang lebih maju.
Restorasi Meiji
Lama kelamaan rakyat jepang merasa era Tokugawa sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman, mereka membutuhkan suatu kekuatan pembaharuan yang siap dengan kekuasaan di tangan untuk merombang keadaan statis menjadi dinamis. Sampai pada suatu saat, maka runtuhlan Shogunat Tokugawa pada tahun 1867. kekuasaan penuh kembali lagi ketangan k aisar, setelah dua abad lebih berada ditangan Shogunat. Kaisar Meiji (1868-1912) segera melakukan berbagai perombakan dan perbaikan struktur kenegaraan dan sosial. Gerakan Meiji ini dikenal dengan istilah Restorasi Meiji.
Jepang dibawah kekuasaan kaisar Meiji, mengalami perkembangan yang luar biasa hebat. Dari negeri yang terisolasi, langsung dapat memasuki pembentukan negar modern. Dengan industri yang modern pula. Tetapi tentu saja hal itu tak akan terjadi apabila tidak ada pra kondisi yang telah disiapkan berabad-abad sebelumnya. Dengan demikian, gerakan pembaharuan yang dilakukan kaisar Meiji itu laksana bendungan yang jebol yang dibaliknya telah terkumpul kekuatan selama berabad-abad.
Pembaharuan dibidang ekonomi juga dilakukan secara besar-besara, seperti halnya dibidang sosial dan politik. Mereka menyadari bahwa penerapan teknologi maju dari Barat harus diimbangi dengan kemajuan sosial dan politik. Akibatnya, walaupun kemajuan telah melanda jepang tetapi bangsa Jepang masih tetap dalam kepribadiannya. Oleh karena itu, spirit yang selalu mereka tanamkan ialah Wahon Yasai, artinya Jepang dan teknologi Barat.
Dalam kancah militer, Jepang juga mengalami keunggulan. Setidaknya dalam perang Cina-Jepang pada tahun 1894-1895, dan sepuluh tahun kemudian melawan Rusia; kedua-duanya dimenangkan oleh pihak Jepang. Dalam kedua peperangan tersebut Jepang berhasil mendapatkan kembali pulau Sakhilin Selatan yang bebarapa tahun sebelumnya diserahkan kepada Rusia sebagai penukar kepulauan Kuril. Jepang juga memperoleh hak kekuasaan di Formosa (Taiwan), Korea, dan hak-hak khusus di Mancuria.
Akibat aliansi dengan Inggris sejak tahun 1902, Jepang jadi ikut terseret ke dalam perang Dunia I. Bersama para sekutu Beratnya, Jepang pun keluar sebagai pihak yang menang.
Prestasi demi prestasi, kemajuan demi kemajuan yang diraih ternyata tak selamanya membawa berkah, tetapi ternyata bisa mengundang bencana. Inilah yang terjadi pada bangsa Jepang. Kebanggaan diri secara nasional yang berlebih-lebihan, tanpa disadari ternyata menimbulkan bahaya baru yang dapat mengancam bangsa Jepang sendiri. Kemajuan pada segala bidang, termasuk industri dan industri persenjataan perang, menyeret jepang ke dalam ancaman perang baru yang tak bisa dielakkan, terana dunia II.
Dalam Perang Dunia II itu Jepang mengalami kekalahan yang menyakitkan setelah dua buah bom atom dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki. Pihak sekutu (Amerika cs) yang menang perang memaksa Jepang tidak mampu lagi memiliki kekuatan militer seperti masa-masa sebelumnya. Dan rakyat Jepang pun jadi benar-benar menderita akibat nafsu haus perang dan bangga diri dari kaum militer mereka.
Keadaan Pasca Perang
Bangsa jepang Sock. Soalnya rakyat yang telah diindoktrinasi selama hampir setengah abad dengan ideology nasional sebagai bangsa yang besar dan kuat. Tiba-tiba kalah dalam perang Dunia II. Akibaatnya timbul kecenderungan untuk menolak ideology dan nilai-nilai tradisional pada masa yang lalu. Penolakan nilai-nilai lama ini menyebabkan rakyat Jepang lebih bersikap moderat. Lalu timbullah kepercayaan pada masyarakat Jepang bahwa perlu ada perbaikan-perbaikan dalam bidang sosial yang dapat mendukung dan mengimbangi fenomena pertumbuhan ekonomi. Perubahan itu antara lain perubahan dalam institusi dan system pemerintahan yaitu dari bentuk otoriter menjadi demokrasi.
Perubahan sosial yang mencolok adalah perubahan tentang struktur kerja dan pola pembagian pendapatan sebagai akibat kemajuan ekonomi. Rakyat yang dulunya hanya hidup di desa dengan bertani, sekarang mulai meninggalkan profesinya dan menyerbu kota-kota besar untuk bekerja di industri. Mereka dibayar dengan jumlah gaji yang selalu ditingkatkan sehingga mengakibatkan perubahan pada pola konsumsi masyarakat yang semakin modern.
Dari pengalaman pahit kalah dalam Perang Dunia II itulah, kemudian Jepang giat membangun ekonominya di segala bidang. Akibatnya pada tahun 1955-1963 terjadi suatu lonjakan ekkonomi yang cukup tajam, meningkat tiga kali lipat. Peningkatan tersebut erat kaitannya dengna kebijakan pemerintah Jepang yang mendukung pertumbuhan ekonomi dengan memelihara kestabilan nasional, pembaharuan unsur politik dan demokrasi, pengurangan biaya militer, pengerahan keterampilan dalam bidang industri dan penerapan teknnologi maju serta manajemen moderen.
Manajemen Jepang
Apabila dilihat dari sudut manajemen, maka sebenarnya prinsip-prinsip manajemen yang dipakai di Jepang itu sama saja dengan yang berlaku pada manajemen organissasi negara manapun. Meskipun demikian, belum tentu hasil yang dicapai juga sama. Sebab factor lingkungan yang berbeda-beda dapat menimbulkan hasil yang berbeda pula. Para ahli berpendapat bahwa tingkah laku manajemen yang berbeda antara Jepang dan Amerika misalnya, terutama kebudayaannya telah menyebabkan perbedaan hasil yang dicapai oleh masing-masing negara tersebut.
Masyarakat Jepang yang lebih bercora peternalistik, akan berbeda dengan masyarakat Amerika (Barat) yang cenderung individualistic. Itulah sebabnya mengapa manajemen Jepang sangat memperhatikan hubungan inter-antar kelompok ataupun dengan masyarakatnya. Sekedar contoh, Genta Ogami, seorang pengusaha yang antara lain bergerak di bidang pembiayaan iklan, dalam “tema” kerja di perusahaannya, mengajukan “ 10 Dasar Kerohania yang Menyelamatkan” yang sarat dengan muatan nilai-nilai sosial.
Ke-10 Dasaar Kerohanian yang dimaksudkan adalah:
Pasal 1:
Merealisasikan kebahagiaan material dan spiritual bagi seluruh karyawan dan seluruh manusia, serta memimpin usaha perdamaian di seluruh dunia.
Pasal 2:
Berdasarkan G. Sistem (system yang dijalankan perusahaannya,Pen), dengan setulus hati dan jiwa, menjadikan kelompok terbaik di duni untuk membangun kebahagiaan bersama seluruh dunia.
Pasal 3:
Saling menghormati kenyataan ‘jiwa’ yang hidup sebagai sesama manusia dari dasar lubuk hati dan hidup saling mengasihi dengan benar.
Pasal 4:
Jalanilah seluruh kehidupan dengan optimisme dan suka cita, harapan cemerlang dan keberanian menggebu, sera kata-kata yang dipenuhi perdamaian.
Pasal 5:
Menyimpan keinginan-keinginan tak terbatas dalam hati, menghilangkan pikiran yang berlebihan, pikiran yang membingungkan, dan hidup dengan pikiran positif terhadap segala sesuatu.
Pasal 6:
Membicarakan ketidak adilan dan ketidak puasan. Jika Anda punya waktu untuk itu, amati dan kritiklah diri sendiri dengan tegas, dan bersahabatlah untuk memperbaiki diri sendiri.
Pasal 7:
“Bekerja sebagai motivasi hidup”, dengan penuh syukur mengubah seluruh kehidupan menjadi kehidupan sejati yang penuh arti.
Pasal 8:
Perkokoh kekuatan, keberanian, keyakinan dan kerukunan di dalam hati kita untuk mencapai segala sesuatu.
Pasal 9:
Kita bergantung pada orang lain dan orang lain bergantung pada kita, segala sesuatu yang kita selesaikan, selesaikanlah lebih dari sekedar untuk mereih keuntungan.
Pasal 10:
Dengan ‘rasa kebersamaan’ membangun perdamaian sejati dalam kehidupan sehari-hari, keluarga, dan diri pribadi.
Dari butir-butir pasal di atas, dapat dilihat adanya kemampuan yang kuat dan luhur untuk bersama-sama mewujudkan apa yang dicita-citakan, di antaranya dalam upaya menggapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.
Nilai kebersamaan adalah hal yang penting dalam manajemen Jepang.
Maka dalam suatu organisasi di Jepang pada umumnya berlaku kode etik bahwa produktivitas dapat dicapai kalau ada saling percaya mempercayai antara buruh dn majikan. Jadi, kalau ada partisipasi dan saling percaya antara buruh dan majikan, serta pimpinan bijaksana, maka timbullah keintiman dalam organisasi ersebut sehingga produktivitas akan meningkat.
Hal yang sering terjadi, keintiman tersebut tidak hanya pasa masa selama bekerja saja, melainkan juga di luar jam kerja dan di mana-mana. Inilah manajemen partisipasi di Jepang, yaitu kerja sama antara buruh, majikan dan manajer untuk mencapai tujuan bersama, telah ikut menjadi penggerak yang signifikan bagi kemajuan ekonomi Jepang.
Dalam manajemen partisipasi, pihak manajer percaya bahwa keterlibatan semua pihak dalam organisasi dapat meningkatkan produktivitas. Oleh sebab itu, penekanan produktivitas tidak terletak pada yang mempunyai perusahaan, melainkan pada orang-orang yang melibatkan diri dalam perngolahan organisasi. Kode etik ini telah melahirkan cirri-ciri yang khars pada manajemen Jepang misalnya dalam hal:
1. Sistem Kerja Seumur Hidup
Umumnya system ini diterapkan oleh perusahaan besar dan birokrasi pemerintah. Begitu seorang masuk ke dalam organisasi atau perusahaan tersebut, maka ia akan bekerja di situ sampai mencapai umur 55 tahun ( usia pensiun). Ini bisa terjadi karena etika yang berlaku adalah bahwa suatu perusahaan tidak mau melakukan pembajakan pegawai dari perusahaan lain dalam arti tidak mau menerima mereka yang ingin pindah dari suatu kelompok besar.
Sedangkan pemberhentian pegawi yang belum mencapai usia 55 tahun atau usia pensiun, biasanya bersangkutan dengan masalah kriminal. Keadaan demikian terntu akan membuat orang berpikir berkali-kali kalau mau keluar dari pekerjaan untuk mencari pekerjaan lain, sebab citra dirinya akan dipertanyakan.
Kemudian tentang pembinaan karier, semua pegawai mendapat kesempatan yang sama untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi untuk menggantikan atasan yang pensiun. Para pensiunan diberi pesangon sebanyak lima atau enam tahun gaji sebagai hadiah pensiun. Tetapi mereka tidak diberi uang pensiun atau jaminan sosial lainnya. Meski demikian, perusahaan tidak akan membiarkan mereka yang telah pensiun begitu saja, apalagi mengingat bahwa pada umur 55 tahun itu orang masih mampu berproduksi. Mereka masih dipikirkan nasibnya, misalnya disalurkan keperusahaan “satelit”, yakni perusahaan yang bukan merupakan anggota perusahaan besar tersebut tetapi erat kaitannya dengan perusahaan besar itu karena tugasnya menyalurkan atau melayani kepentingan perusahaan besarnya.
2. Evaluasi dan Promosi
tidak seperti di Indonesia, karyawan di sana akan dievaluasi sekali dalam sepuluh tahun. Selama masa itu tidak akan ada promosi bagi dirinya. Promosi yang lambat ini akan menghambat permainan yang tidak wajar dari perkerja karena seluruh karyawan tahu dan menyadari kapan masanya dia dinilai dan dipromosikan. Akibat yang lain ialah tidak akan timbul usaha karyawan untuk menojolkan dirinya sendiri secara individual untuk menarik perhatian pemimpin. Evaluasi dan promosi yang lama ini memberi kesempatan kepada para manajer muda untuk mengembangkan sikap terbuka dalam bekerja sama, mengokohkan penampilan dan menilai dirinya sendiri. Apalagi ditunjang dengan kondisi kantor yang mendorong orang saling berhubungan secara dekat atau intim satu sama lain. Kebanyakan kantor disusun dalam bentuk yang memungkinkan orang saling kontak, misalnya manajer, staf, dan sekretaris serta pegawai-pegawai lainnya duduk bersama dalam satu meja yang disusun panjang.
Salah satu hal lagi yang mendukung manajemen Jepang ialah pandangan hidup masyarakat yang tidak menyenangi orang yang bersikap santai. Salah satu dari nilai Jepang adalah kerja keras. Nilai ini tercermin dari sikap masyarakat, misalnya kalau ada seorang pekerja yang pulang ke rumah sebelum waktunya maka masyarakat di sekitar rumah akan ribut bertanya tentang apa yang terjadi dengan pekerjaannya. Yang bersangkutan cenderung dianggap telah melakukan suatu kesalahan sehingga pimpinan menghukumnya. Maka dalam pandangan masyarakat, martabat keluarga orang itupun menjadi jatuh.
Sebaliknya masyarakat memandang seseorang sebagai orang penting k alau orang itu setiap hari kerja samapai larut malam sehingga marabat keluarganya meningkat. Kebiasaan di Jepang, tutup kantor pada pukul 17.00, sedangkan para manajer meninggalkan kantor pukul 18.00. Sehabis kerja, umumnya orang tidak langsung pulang ke rumah, tetapi menyempatkan barang satu jam untuk shotpping, bermain di pachino, atau keperpustakaan untuk membaca.
Masyarakat Jepang adalah “pelahap” bacaan yang mengagumkan, setidaknya untuk ukuran orang Indonesia. Maka tak heran kalau surat kabar di sana oplahnya sampai jutaan. Menurut catatan tahun 1980-an saja, oplah beberapa surat kabar Jepang adalah sebagai berikut:
a. Yoiuri : 12.014.000 eksp
b. Asahi : 11.904.000 eksp
c. Mainichi : 6.939.000 eksp
d. Nihon Keizai : : 2.874.000 eksp
e. Sankei : 2.718.000 eksp
(Sumber: “Mengenal dari Dekat Jepang, Negara Matahari Terbit” karya Syahbuddin Mangandaralam, PT.Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995).
Padahal Indonesia, dengan jumlah penduduk yang lebih besar, pada tahun 1995an, surat kabar yang oplahnya mencapai 750.000 saja mungkin sudah yang terbaik. Ini memang menjadi keprihatinan tersendiri, apalagi jika di ingat bahwa kebudayaan baca itu erat kaitanya dengan kemajuan suatu bangsa.
Maka dunia perbukuan dan karya cipta pun belum tampak tanda-tanda pergerakan yang “spektakuler”. Bandingkan, kalau di Jepang satu judul buku di cetak ratusan ribu eksemplar itu sudah hal yang biasa, tetapi di Indonesia laku 5.000 eksemplar pertahun saja sudah termasuk yang best seller.
Karenanya jangan heran, meskipun Jepang miskin sumber daya alamnya, tetapi sumber daya manusianya berkualitas, maka kemajuan pun cepat diraih. Dan ternyata, SDM yang berkualitas itu lebih unggul ketimbang sumber daya alam yang berlimpah tetapi SDM-nya tidak mutu. Jepang dan juga Singapura adalah bukti yang nyata.
3. Pemberian Bonus dan Flesibilitas Kerja
perusahaan-perusahaan besar di Jepang, mempunyai daya tarik yang unik mengenai pemberian bonus dan keluwesan kerja.
Pertama, tentang pemberian bonus, setiap perusahaan besar memberikannya pada karyawan sekali dalam enam bulan. Selain itu ada juga bonus tahunan yang jumlahnya antara 5-6 kali gaji. Besarnya bonus tersebut tergantung pada keadaan perusahaan, tidak tergantung pada kecakapan karyawan. Sehingga k alau perusahaan sedang untung besar, bonusnya juga besar. Tetapi sebaliknya kalau perusahaan tengah merugi bukan saja mereka tidak dapat bonus, tetapi gaji mereka dapat dipotong untuk nomboki perusahaan. System ini menjadikan orang-rang yang terlibat dalam perusahaan mereka ikut bertanggung jawab atas mau mundurnya perusahaan tempat mereka menggantungkan hidup.
Adanya system tersebut menjadikan resiko perusahaan berada pada pundak seluruh karyawan, bukan pada pemilik perusahaan itu saja. Dengan demikian, seluruh karyawan merasa harus mau bekerja keras memajukan perusahaannya karena mereka merasa memiliki perusahaan tersebut, atau hidup dan matinya perusahaan tergantung pada kemampuan semua peserta dalam mengembangkan perusahaan itu. Perasaan memiliki ini akan semakin dirsasakan bila mengingat bahwa mereka tidak akan pindah ke perusahaan yang lain kalau telah bekerja pada suatu perusahaan karena adanya system kerja seumur hidup.
Kedua, Jepang mengenal system karyawan sementara terutama bagi karyawan wanita. Seorang gadis diharapkan dapat bekerja selama 5 atau 6 tahun dalam perusahaan sebelum mereka kawin dan mengurus anak-anak mereka. Kalau anak-anak telah memasuki sekolah maka ia diperbolehkan kembali kerja di perusahaan semula. Di samping itu juga diterapkan system waktu atau jadwal kerja yang fleksibel, artinya wantita dapat memilih kapan mereka mau mulai kerja sesuai dengan jadwl kerja yang telah di atur.
Kombinasi antara system bonus dan cara kerja sementara (bagi wantita) serta perasaan senasib dan sepenanggungan mulai dari pemilik perusahaan samapai pekerja tingkat terendah telah mendorong Jepang memiliki perusahaan-perusahaan yang kuat bersaing di seantero dunia.
4. Jalan Karier yang Tidak Berdasarkan pada Spesialisasi
Jepang memiliki tradisi yang unik dalam system karier seseorang. Perkembangan karier seseorang tidak diperoleh melalui kecakapan atau keahlian dalam satu bidang tugas, tetapi ditempuh melalui jalan yang berliku-liku sampai dia mahir betul tentang seluk beluk perusahaan tempat dia bekerja. Maka seseorang yang bekerja di perusahaan Jepang akan diarahkan untuk sebanyak mungkin ahli dalam semua tugas yang dilakukan di perusahaan tersebut.
Sementara seorang menilai hal tersebut sebagai kelemahan system kerja di Jepang. Tetapi nyatanya, system kerja demikian membawa banyak keuntungan, diantaranya seseorang tidak akan terbuang dari pekerjaannya jika perusahaan tersebut tidak lagi mengelola suatu tugas tertentu. Karena kemampuan y ang telah dimilikinya, maka dapat ditempatkan di bagian lain.
Keuntungan yang lain, oleh karena setiap pejabat telah ahli dalam seluruh tugas perusahaan, maka hal ini akan memudahkan untuk melakukan koordinasi dan pengawasan, sebab semua pihak yang terlibah dapat memahami masalah apa yang menjadi hambatan, serta seluk beluk lainnya.
Dengan pola kerja yang demikian, maka seseorang karyawan akan menjadi sering berganti tugas, sehingga ia sering menghadapi tugas baru. Padahal menurut penelitian dari MIT Culumbia University, bahwa pekerja pada tingkat manapun yang secara terus menerus menghadapi tugas baru akan merasa tugas itu lebih penting dan dikerjakan secara hati-hati, lebih produktif dan lebih merasa puas terhadap pekerjaannya dibandingkan dengna mereka yang hanya mengerjakan satu tugas saja, walaupun perpindahan itu tidak disertai kenaikan jabatan.
5. Sistem Pengawasan
System pengawsan dalam manajemen jepang memiliki corak yang menarik. Kalu kita mempunyai istilah waskat untuk pengawasan melekat, maka di Jepang ada pengawasan kelompok. Di Jepan, setiap peserta organisasi/ perusahaan kecil akan tergabung dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap orang dalam organisasi akan tergabung dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok biasanya terdiri atas 8-12 orang yang masing-masing mempunyai tugas yang berbeda-beda. Dalam kelompok setiap orang musti menjaga tindakannya dan memperkirakan bagaimana pandangan rekan-rekan terhadap dirinya. Sebab ketidaksetiaan mengurangi dukungan kelompok terhadap dirinya, yang pada akhirnya dia dapat dikeluarkan dari kelompok tersebut.
Dengan demikian, pengawasan dalam organisasi bukanlah bersifat eksternal baik dengan menggunakan model ancaman atau imbalan, melainkan lebih bersifat internal, yaitu melalui keintiman kelompok sendiri yang tidak kentara dan halus. Cara ini membuat masing-masing orang akan berusaha mengendalikan sikap dan tindakannya sedemikian rupa agar sesuai dengan norma-norma kelompok. Dan pada akhirnya setiap orang dalam kelompok itu akan berusaha sungguh-sungguh untuk meningkatkan produktivitas karena semua pihak merasa memiliki atau berkepentingan dengna perusahaan.
6. Proses Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan pada organisasi di Jepang, baik Negara maupun niaga, dewasa ini banyak diteliti orang secara mendalam. Mereka tertarik antara lain karena keunikan proses yang musti di lalui dalam pengambilan sebuah keputusan karena adanya pengaruh tradisi yang masih mengakar.
Dalam masyarakat kita, untuk mengambil suatu keputusan dikenal istilh musyawarah untuk mufakat. Cara ini mendasarkan keputusan pada permufakatan pihak-pihak yang terlibat. Sedangkan dalam masyarakat jepang mempunyai corak yang lain lagi. Dalam pengambilan keputusan, semua pejabat (orang-orang yang telibat) harus mengikuti prosedur-prosedur tertentu. Biasanya konsep datang dari pejabat rendah. Pucuk pimpinan boleh mengemukakan idenya tetapi harus menyuruh bawahannya untuk mengajukan k onsep. Konsep ini disebut ringinsho. Ringinsho formal yang telah di konsep diedarkan diantara berbagai kepala seksi dan bagian yang akan terlibah didalam pelaksanaan keputusan nantinya. Setiap pejabat yang mengevaluasi dokumen tersebut diharuskan membubuhkan tanda persetujuan atau penolakanya dengan mengemukakan pendapat-pendapatnya.
Dalam perkembangan berikutnya, prosedur ringi kemudian diperbarui, diubah, dan disederhanakan, sehingga dapat menghemat waktu dan lebih efisien. Perombakan itu antara lain dengna menyederhanakan format dokumen, memperjelas saluran yang akan dilalui ringi, mengurangi individu yang akan ringi, atau membiarkan usulan ringi diserahkan langsung kepada pucuk pimpinan terutama untuk kasus-kasus yang s angat penting. Perubahan lainnya ialah membahas usulan ringi dalam rapat pejabat secara keseluruhan. Jadi, bukan hanya membuhkan tanda persetujuan secara perorangan, tetapi didiskusikan secara bersama-sama.
Dengan mengakomodasi pendapat, aspirasi, ataupun saran banyak orang, menjadikan model pengambilan keputusan ala Jepang itu menghasilkan keputusan yang kuat landasannya, serta tahan lama.
7. Tanggung Jawab yang Menyebar.
Dengan pola pengambilan keputusan seperti di atas, maka permintaan tanggung jawab menjadi hal yang unik di Jepang. Pucuk pimpinan perusahaan tidak akan berpikir bahwa tanggung jawab hanya pada pundaknya, karena ia merasa bahwa tindakan yang di ambil itu atas usulan bawahan. Sebaliknya bawahan juga tidak b isa dituntut secara perorangan untuk bertanggung jawab karena ia hanya salah satu dari banyak orang yang memberikan persetujuannya. Jadi, tanggung jawab organisasi tidak terletak pada pundak satu orang saja, melainkan menyebar pada semua orang yang ada dalam organisasi tersebut.
Cara tanggung jawab seperti itu kiranya belum dapat diterima oleh manajemen barat. Namun, keuntungannya cukup besar, misalnya kalu ada salah seorang anggota kelompok yang tidak masuk kerja karena sakit, maka teman-temannya mengerjakan tugasnya. Dengan demikian, tidak ada pekerjaan yang terbengkalai karena tidak haridnya seseorang.
8. Keterlibatan Seluruh Orang
Organisasi Jepang berpandangan bahwa bekerjanya mekanisme organisasi tidak hanya ditunjang oleh factor-faktor dalam organissi saja, tetapi juga ditunjang oleh factor-faktor ayng ada diluar organisasi. Artinya, seluruh orang menunjang organisasi tersebut sehingga dapat berjaya mencapai sasarannya. Factor di luar tersebut ialah factor social yang merasa ada keterlibatan dengna pertumbuhan sesuatu organisasi, seperti consume, pensuplai, dan bahkan orangtua pekerja.
Contoh: berhasilnya seseorang memasuki kerja pada suatu organisasi adalah karena pendidikannya. Berhasilnya dia mempunyai pendidikan adalah berkat orangtua yang menyediakan segala s esuatu yang diperlukannya untuk mencapai suatu tingkat pendidikan dalam lsuatu lembaga tertentu. Oleh sebab itu, dlam penobatan calon karyawan menjadi karyawan suaatu perusahaan atau organisasi, orangtua karyawan diundang dan diberi ucapan terima kasih atas usahanya mendidik anaknya sehingga dapat memsuki perusahaan/ organisasi tersebut. Dengan demikian, terjalinlah hubungan yang erat di antara orang yang terlibah secara keseluruhan dalam menunjang berhasilnya suatu organisasi mencapai tujuannya.
Demikian sekelumit tentang manajemen Jepang yang memukau dunia karena keberhasilan-keberhasilanya. Hal-hal yang baik dapat kita tiru, sementara yang tidak cocok dengan situasi di sini dapat dijadikan pelajaran atau perbandingan. Bagaimanapun pengalaman adalah guru yang terbaik.
Sabtu, 07 Mei 2011
GENDER MENURUT STUDY SOSIOLOGI
Komperensi wanita internasional
1. Komperensi wanita internasional ke II Di Copenhange, pada tahun 1980
2. Komperensi wanita internasional ke III di Nairobi, Kenya tahun 1985
3. Komperensi wanita internasional ke IV di Beijing 1995
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention on the Elimination of Discrimination Against Women/CEDAW) adalah instrumen internasional yang merupakan salah satu Konvensi Hak Asasi Manusia. Melalui perjalanan panjang sejak dicetuskannya Konferensi PBB sedunia tentang Perempuan I di Mexico City, perjuangan kaum perempuan untuk mendapat perlakuan yang sama dengan kaum laki-laki disahkan oleh PBB, pada tahun 1979.
Secara juridis (de jure) hak-hak perempuan di bidang, ekonomi, sosial, budaya, sipil dan politik yang menjadi substansi dari Konvensi CEDAW, telah diakui dunia internasional termasuk Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi tsb pada tahun 1984 dan sekaligus berkewajiban untuk melaksanakannya. Setelah disahkannya Konvensi CEDAW, pertemuan kaum perempuan sedunia dilanjutkan dalam Konferensi Perempuan II tahun 1980 di Kopenhagen, III di
Nairobi pada tahun 1985 dan tahun 1995 yang IV di Beijing. Perjuangan kaum perempuan serta aktivis perempuan sedunia terus aktif dalam mengikuti perkembangan dunia dengan mengikuti pertemuan-pertemuan internasional, seperti Konfrensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Rio de Janeiro tahun 1992, Hak Asasi Manusia tahun 1993, Kependudukan dan Pembangunan di Kairo tahun 1994 dan pertemuan internasional lainnya.
Setelah Konvensi CEDAW diratifikasi oleh negara-negara peserta, maka
negara yang bersangkutan berkewajiban untuk melaporkan secara periodic pelaksanaan Konvensi CEDAW yang berupa National Report ke Komisi StatusWanita (Comission on the Status of Women/ CSW) ternyata diskriminasi terhadap perempuan didunia masih tetap berlangsung. Hal tersebut dilaporkan dalam Konfrensi Wanita di Beijing tahun 1995. Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk mengeluarkan ”Beijing Plattform for Action” (BPFA), yang
mengkritisi 12 area kritis yang dihadapi perempuan sedunia, seperti hak-hak perempuan dibidang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan terhadap anak- anak perempuan. Setelah Deklarasi Beijing Plattform for Action dan Plan for Action (BPFA- Rencana Aksi) tahun 1995, Komisi Status Perempuan/CSW pada tahun 2000 dalam sesi ke-23 Sidang Umum PBB melaporkan perkembangan negara-negara peserta Konvensi CEDAW. Konvensi CEDAW diratifikasi Indonesia dengan UU No.7 Tahun 1984, hal tersebut mengikat Indonesia untuk melaksanakan perlakuan untuk tidak membeda-bedakan hak-hak perempuan dan laki-laki di segala bidang kehidupan. Hak-hak perempuan yang diakui secara de jure, tidak diperlakukan secara diskriminatif oleh negara, namun secara defakto, perlakuan tersebut masih dengan jelas terjadi. Bidang keluarga (UU No.1 Tahun 1974) misalnya, fungsi kepala keluarga dan ibu rumah tangga dibedakan yang berdampak luas dalam kehidupan, baik di bidang politik, ketenaga kerjaan, kesehatan, budaya dan lain sebagainya. UU No.7 Tahun 1984 yang telah berlaku selama 22 tahun belum dapat berbuat banyak. Kurun waktu 2000-2005 seperti yang dilaporkan
Indonesia pada sessi 23 tsb telah membuat kemajuan yang nyata yang mengarah pada perubahan demokrasi dalam sistem politik, yaitu : amandemen UUD 45 dan UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. UU tersebut merupakan payung hukum bagi semua pembentukan peraturan perundang- undangan yang menjamin perwujudan dan perlindungan hak asasi laki-laki dan perempuan. Dalam melaksanakan penghapusan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan.
Secara periodik Kesepakatan - BPFA dilaporkan kemajuannya oleh setiap negara peserta pada Sessi ke-49 Komisi Kedudukan Perempuan/CSW, yang diadakan PBB, New York, 28 Februari-11 Maret 2005. Dalam pertemuan tersebut Indonesia sebagai negara peserta turut serta melaporkan kemajuan tentang pelaksanaan Konvensi CEDAW, terutama penegasan kembali komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencapai tujuan dan sasaran Deklarasi Beijing dan Rencana Aksi dan hasil Sesi ke-23 Sidang Umum tahun 2000. Walaupun Konvensi CEDAW tidak langsung dapat diimplementasikan dan tidak diakomodir dalam perangkat peraturan perundang-undangan tersendiri (undang-undang tentang perempuan), namun dalam setiap peraturan perundang-undangan nasional secara umum dapat dilihat doktrin para ahli
hukum ketika membuat undang-undang tersebut dalam suatu Naskah Akademis.
Oleh karenanya hak-hak perempuan yang tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan (Hukum Nasional) dapat digali melalui naskah akademisnya (Academic Draft) sebagai pembentukan hukum yang tumbuh dan berkembang, guna keadilan dan kepastian hukum untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender, sesuai dengan hak asasi manusia tanpa diskriminasi.
Pada tingkat global, upaya untuk meningkatkan kualitas perempuan dicerminkan oleh mukadimah Piagam PBB yang ditandatangani tanggal 26 Juni 1945, antara lain dapat dibaca bahwa bangsa-bangsa yang bersatu dalam PBB bertekad supaya generasi-generasi mendatang terhindar dari bencana peperangan yang telah dua kali mendatangkan penderitaan yang menyedihkan bagi umat manusia. Para pendiri PBB juga kembali memperkuat keyakinan atau kesetiaan mereka terhadap hak-hak asasi manusia, martabat dan nilai luhur dari manusia sebagai pribadi serta terhadap persamaan hak laki-laki dan perempuan dan persamaan hak dari negara besar dan kecil. Piagam PBB inilah dokumen hukum yang pertama-tama secara tegas memuat
persamaan hak dari semua orang dan menyatakan bahwa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin adalah bertentangan dengan hukum, Meskipun perlu dicatat bahwa pencantuman larangan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin ini baru dimuat berkat desakan dari wakil-wakil 42 lembaga swadaya masyarakat yang memperoleh pengakuan sebagai peserta dalam pertemuan-pertemuan penyusunan Piagam PBB (The United Nations 1995, hlm. 10).
Suatu upaya mendasar yang dilakukan oleh PBB dan oleh aktivis HAM, khususnya
yang berkaitan dengan perlindungan HAM bagi perempuan, yang dirasakan perlu adalah perumusan dari ukuran-ukuran yang secara internasional disepakati sehingga akan terwujud instrumen-intrumen internasional yang diperlukan untuk perwujudan kesetaraan
laki-laki dan perempuan. Di Indonesia sendiri berbagai upaya perwujudan kesetaraan gender (relasi antara laki-laki dan perempuan) juga terus mengalami penguatan. Berbagai upaya tersebut antara lain yang terkait dengan berbagai resolusi internasional yang telah disepakati oleh
pemerintah Indonesia, diantaranya ialah :
1. Declaration of Mexico on The Eguality of Women and Their Contribution to Development and Peace (Mexico, 1975).
2. World Plan of Action for The Implementation of The Objectives of The International
Women 's Year.
3. United Nations Decade for Women (1975-1985) yang bertemakan "Equality, Development and Peace" (Persamaan, Pembangunan dan Perdamaian). United Nations Decade for Women adalah wujud realisasi dari World Plan of Action for The Implementation of The Objectives of The International Women's Year.
4. World Conference of The United Nations Decade for Women di Copenhagen pada tahun 1980. Inti acara dari konferensi ini antara lain ialah me-review hasil pelaksanaan United Nations Decade for Women.
5. World Conference Review and Appraise The Achievement of The United Nations Decade for Women di Nairobi pada Tahun 1985. Hasil dari review ini adalah timbulnya dokumen tentang "Nairobi Forward Looking Strategies for the Advancement of Women".
6. KTT Ibu Negara tentang Pemberdayaan Perempuan Pedesaan, diselenggarakan di Jenewa pada Tahun 1992 dan di Malaysia tahun 2000.
7. Dimuatnya Klausul tentang Peningkatan Peranan Perempuan dalam Proceedings KTT Non Blok di Jakarta pada Tahun 1994.
8. Asean and Pasific Conference (ASPAC) di Jakarta pada Tahun 1994, yang merupakan pra-World Conference Beijing.
9. World Conference IV of The Role of Women di Beijing pada bulan September Tahun 1995. Konferensi dunia ini menghasilkan Beijing Declaration and Platform of Action yang memuat 12 bidang kritis yang menjadi perhatian dunia mengenai hal-hal yang menghambat penyamaan kedudukan, hak dan peranan perempuan sedunia dalam pembangunan keduabelas bidang kritis tersebut antara lain perempuan dan media, perempuan dan kemiskinan, perempuan dan konflik bersenjata, perempuan dan ekonomis, perempuan dan pendidikan dan sebagainya. Selanjutnya setiap pemerintah harus komit untuk melaksanakan landasan bagi aksi kegiatan dengan menjamin bahwa pendekatan gender dicerminkan pada semua kebijaksanaan dan program kerja.
10. KTT tentang Pembangunan Sosial di Copenhagen pada Tahun 1995.
11. Special Session of The United Nations General Assembly di New York tahun 2000 yang bertemakan "Women 2000: Gender Eguality, Development And Peace for The Twenty-First Century".
Gender adalah kajian analisis tentang perempuan dan laki-laki
Dengan melihat realitas kehidupan masyarakat. Gender dapat dilihat sangat berpengaruh terhadap posisi perempuan dan laki-laki .Hal ini di buktikan dengan karena pada system peranan dan hubungan social antara perempuan dan laki-laki sudah tidak di permasalahkan .
Selain itu gender menganalisis tentang kesetaraan yang dapat di capaian antara laki-laki dan perempuan . dapat dipandang :
Memilki kedudukan yang sama kemampuan yang sama dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
Sejarah pembedaan jender antara laki- laki dan perempuan terbentuk melalui
proses yang panjang, melalui proses sosialisasi, diperkuat dan dilembagakan baik secara sosial, kultural, melalui ajaran keagamaan dan bahkan melalui peraturan-peraturan negara. Sehingga sering dianggap bahwa ketentuan jender tersebut merupakan ketentuan yang tidak dapat dirubah karena dianggap sebagai ketentuan yang sudah sewajarnya.
Implikasi Jender Pembedaan secara jender sebenarnya tidak menjadi masalah selama tidak menimbulkan persoalan-persoalan. Namun yang menjadi masalah ternyata pembedaan jender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki- laki dan (terutama) bagi kaum perempuan. Bentuk ketidakadilan dan penindasan tersebut antara lain berupa subordinasi, diskriminasi, marjinalisasi, kekerasan, pelebelan negatif serta beban kerja yang berat sebelah (Faqih, 1996).
1. Komperensi wanita internasional ke II Di Copenhange, pada tahun 1980
2. Komperensi wanita internasional ke III di Nairobi, Kenya tahun 1985
3. Komperensi wanita internasional ke IV di Beijing 1995
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention on the Elimination of Discrimination Against Women/CEDAW) adalah instrumen internasional yang merupakan salah satu Konvensi Hak Asasi Manusia. Melalui perjalanan panjang sejak dicetuskannya Konferensi PBB sedunia tentang Perempuan I di Mexico City, perjuangan kaum perempuan untuk mendapat perlakuan yang sama dengan kaum laki-laki disahkan oleh PBB, pada tahun 1979.
Secara juridis (de jure) hak-hak perempuan di bidang, ekonomi, sosial, budaya, sipil dan politik yang menjadi substansi dari Konvensi CEDAW, telah diakui dunia internasional termasuk Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi tsb pada tahun 1984 dan sekaligus berkewajiban untuk melaksanakannya. Setelah disahkannya Konvensi CEDAW, pertemuan kaum perempuan sedunia dilanjutkan dalam Konferensi Perempuan II tahun 1980 di Kopenhagen, III di
Nairobi pada tahun 1985 dan tahun 1995 yang IV di Beijing. Perjuangan kaum perempuan serta aktivis perempuan sedunia terus aktif dalam mengikuti perkembangan dunia dengan mengikuti pertemuan-pertemuan internasional, seperti Konfrensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Rio de Janeiro tahun 1992, Hak Asasi Manusia tahun 1993, Kependudukan dan Pembangunan di Kairo tahun 1994 dan pertemuan internasional lainnya.
Setelah Konvensi CEDAW diratifikasi oleh negara-negara peserta, maka
negara yang bersangkutan berkewajiban untuk melaporkan secara periodic pelaksanaan Konvensi CEDAW yang berupa National Report ke Komisi StatusWanita (Comission on the Status of Women/ CSW) ternyata diskriminasi terhadap perempuan didunia masih tetap berlangsung. Hal tersebut dilaporkan dalam Konfrensi Wanita di Beijing tahun 1995. Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk mengeluarkan ”Beijing Plattform for Action” (BPFA), yang
mengkritisi 12 area kritis yang dihadapi perempuan sedunia, seperti hak-hak perempuan dibidang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan terhadap anak- anak perempuan. Setelah Deklarasi Beijing Plattform for Action dan Plan for Action (BPFA- Rencana Aksi) tahun 1995, Komisi Status Perempuan/CSW pada tahun 2000 dalam sesi ke-23 Sidang Umum PBB melaporkan perkembangan negara-negara peserta Konvensi CEDAW. Konvensi CEDAW diratifikasi Indonesia dengan UU No.7 Tahun 1984, hal tersebut mengikat Indonesia untuk melaksanakan perlakuan untuk tidak membeda-bedakan hak-hak perempuan dan laki-laki di segala bidang kehidupan. Hak-hak perempuan yang diakui secara de jure, tidak diperlakukan secara diskriminatif oleh negara, namun secara defakto, perlakuan tersebut masih dengan jelas terjadi. Bidang keluarga (UU No.1 Tahun 1974) misalnya, fungsi kepala keluarga dan ibu rumah tangga dibedakan yang berdampak luas dalam kehidupan, baik di bidang politik, ketenaga kerjaan, kesehatan, budaya dan lain sebagainya. UU No.7 Tahun 1984 yang telah berlaku selama 22 tahun belum dapat berbuat banyak. Kurun waktu 2000-2005 seperti yang dilaporkan
Indonesia pada sessi 23 tsb telah membuat kemajuan yang nyata yang mengarah pada perubahan demokrasi dalam sistem politik, yaitu : amandemen UUD 45 dan UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. UU tersebut merupakan payung hukum bagi semua pembentukan peraturan perundang- undangan yang menjamin perwujudan dan perlindungan hak asasi laki-laki dan perempuan. Dalam melaksanakan penghapusan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan.
Secara periodik Kesepakatan - BPFA dilaporkan kemajuannya oleh setiap negara peserta pada Sessi ke-49 Komisi Kedudukan Perempuan/CSW, yang diadakan PBB, New York, 28 Februari-11 Maret 2005. Dalam pertemuan tersebut Indonesia sebagai negara peserta turut serta melaporkan kemajuan tentang pelaksanaan Konvensi CEDAW, terutama penegasan kembali komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencapai tujuan dan sasaran Deklarasi Beijing dan Rencana Aksi dan hasil Sesi ke-23 Sidang Umum tahun 2000. Walaupun Konvensi CEDAW tidak langsung dapat diimplementasikan dan tidak diakomodir dalam perangkat peraturan perundang-undangan tersendiri (undang-undang tentang perempuan), namun dalam setiap peraturan perundang-undangan nasional secara umum dapat dilihat doktrin para ahli
hukum ketika membuat undang-undang tersebut dalam suatu Naskah Akademis.
Oleh karenanya hak-hak perempuan yang tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan (Hukum Nasional) dapat digali melalui naskah akademisnya (Academic Draft) sebagai pembentukan hukum yang tumbuh dan berkembang, guna keadilan dan kepastian hukum untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender, sesuai dengan hak asasi manusia tanpa diskriminasi.
Pada tingkat global, upaya untuk meningkatkan kualitas perempuan dicerminkan oleh mukadimah Piagam PBB yang ditandatangani tanggal 26 Juni 1945, antara lain dapat dibaca bahwa bangsa-bangsa yang bersatu dalam PBB bertekad supaya generasi-generasi mendatang terhindar dari bencana peperangan yang telah dua kali mendatangkan penderitaan yang menyedihkan bagi umat manusia. Para pendiri PBB juga kembali memperkuat keyakinan atau kesetiaan mereka terhadap hak-hak asasi manusia, martabat dan nilai luhur dari manusia sebagai pribadi serta terhadap persamaan hak laki-laki dan perempuan dan persamaan hak dari negara besar dan kecil. Piagam PBB inilah dokumen hukum yang pertama-tama secara tegas memuat
persamaan hak dari semua orang dan menyatakan bahwa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin adalah bertentangan dengan hukum, Meskipun perlu dicatat bahwa pencantuman larangan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin ini baru dimuat berkat desakan dari wakil-wakil 42 lembaga swadaya masyarakat yang memperoleh pengakuan sebagai peserta dalam pertemuan-pertemuan penyusunan Piagam PBB (The United Nations 1995, hlm. 10).
Suatu upaya mendasar yang dilakukan oleh PBB dan oleh aktivis HAM, khususnya
yang berkaitan dengan perlindungan HAM bagi perempuan, yang dirasakan perlu adalah perumusan dari ukuran-ukuran yang secara internasional disepakati sehingga akan terwujud instrumen-intrumen internasional yang diperlukan untuk perwujudan kesetaraan
laki-laki dan perempuan. Di Indonesia sendiri berbagai upaya perwujudan kesetaraan gender (relasi antara laki-laki dan perempuan) juga terus mengalami penguatan. Berbagai upaya tersebut antara lain yang terkait dengan berbagai resolusi internasional yang telah disepakati oleh
pemerintah Indonesia, diantaranya ialah :
1. Declaration of Mexico on The Eguality of Women and Their Contribution to Development and Peace (Mexico, 1975).
2. World Plan of Action for The Implementation of The Objectives of The International
Women 's Year.
3. United Nations Decade for Women (1975-1985) yang bertemakan "Equality, Development and Peace" (Persamaan, Pembangunan dan Perdamaian). United Nations Decade for Women adalah wujud realisasi dari World Plan of Action for The Implementation of The Objectives of The International Women's Year.
4. World Conference of The United Nations Decade for Women di Copenhagen pada tahun 1980. Inti acara dari konferensi ini antara lain ialah me-review hasil pelaksanaan United Nations Decade for Women.
5. World Conference Review and Appraise The Achievement of The United Nations Decade for Women di Nairobi pada Tahun 1985. Hasil dari review ini adalah timbulnya dokumen tentang "Nairobi Forward Looking Strategies for the Advancement of Women".
6. KTT Ibu Negara tentang Pemberdayaan Perempuan Pedesaan, diselenggarakan di Jenewa pada Tahun 1992 dan di Malaysia tahun 2000.
7. Dimuatnya Klausul tentang Peningkatan Peranan Perempuan dalam Proceedings KTT Non Blok di Jakarta pada Tahun 1994.
8. Asean and Pasific Conference (ASPAC) di Jakarta pada Tahun 1994, yang merupakan pra-World Conference Beijing.
9. World Conference IV of The Role of Women di Beijing pada bulan September Tahun 1995. Konferensi dunia ini menghasilkan Beijing Declaration and Platform of Action yang memuat 12 bidang kritis yang menjadi perhatian dunia mengenai hal-hal yang menghambat penyamaan kedudukan, hak dan peranan perempuan sedunia dalam pembangunan keduabelas bidang kritis tersebut antara lain perempuan dan media, perempuan dan kemiskinan, perempuan dan konflik bersenjata, perempuan dan ekonomis, perempuan dan pendidikan dan sebagainya. Selanjutnya setiap pemerintah harus komit untuk melaksanakan landasan bagi aksi kegiatan dengan menjamin bahwa pendekatan gender dicerminkan pada semua kebijaksanaan dan program kerja.
10. KTT tentang Pembangunan Sosial di Copenhagen pada Tahun 1995.
11. Special Session of The United Nations General Assembly di New York tahun 2000 yang bertemakan "Women 2000: Gender Eguality, Development And Peace for The Twenty-First Century".
Gender adalah kajian analisis tentang perempuan dan laki-laki
Dengan melihat realitas kehidupan masyarakat. Gender dapat dilihat sangat berpengaruh terhadap posisi perempuan dan laki-laki .Hal ini di buktikan dengan karena pada system peranan dan hubungan social antara perempuan dan laki-laki sudah tidak di permasalahkan .
Selain itu gender menganalisis tentang kesetaraan yang dapat di capaian antara laki-laki dan perempuan . dapat dipandang :
Memilki kedudukan yang sama kemampuan yang sama dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
Sejarah pembedaan jender antara laki- laki dan perempuan terbentuk melalui
proses yang panjang, melalui proses sosialisasi, diperkuat dan dilembagakan baik secara sosial, kultural, melalui ajaran keagamaan dan bahkan melalui peraturan-peraturan negara. Sehingga sering dianggap bahwa ketentuan jender tersebut merupakan ketentuan yang tidak dapat dirubah karena dianggap sebagai ketentuan yang sudah sewajarnya.
Implikasi Jender Pembedaan secara jender sebenarnya tidak menjadi masalah selama tidak menimbulkan persoalan-persoalan. Namun yang menjadi masalah ternyata pembedaan jender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki- laki dan (terutama) bagi kaum perempuan. Bentuk ketidakadilan dan penindasan tersebut antara lain berupa subordinasi, diskriminasi, marjinalisasi, kekerasan, pelebelan negatif serta beban kerja yang berat sebelah (Faqih, 1996).
DANIEL BELL TOKOH SOSIOLOGI
Untuk orang lain yang bernama Daniel Bell, lihat Daniel Bell (disambiguasi).
Daniel Bell
Lahir 10 Mei 1919 (umur 90)
New York
Fields Sosiologi
Lembaga Harvard University
Dikenal Pasca-industrialisme
Daniel Bell (lahir 10 Mei 1919 di New York City) adalah seorang sosiolog dan profesor emeritus di Universitas Harvard. Dia juga seorang direktur Suntory Yayasan dan sarjana di kediaman American Academy of Arts and Sciences. Ia telah menerima gelar kehormatan dari Harvard, Universitas Chicago, empat belas universitas di Amerika Serikat, dan Universitas Keio, di Jepang. Saat ini ia tinggal di Cambridge, Mass, bersama istrinya Pearl Bell, seorang sarjana sastra kritik. Dia telah menerima "Lifetime Achievement Award" oleh Asosiasi Sosiologi Amerika pada tahun 1992, dan Talcott Parsons Prize untuk Ilmu Sosial oleh American Academy of Arts and Sciences pada tahun 1993. Dia juga diberi Tocqueville Award oleh pemerintah Perancis pada tahun 1995.
Bel lulus dari City College of New York dengan ilmu pengetahuan dan sarjana ilmu sosial. Dia memulai karirnya sebagai jurnalis, menjadi editor majalah Pemimpin Baru (1941-1945), seorang tenaga kerja Fortune editor (1948-1958) dan kemudian co-editor (dengan teman kuliah Irving Kristol) dari The Public Interest majalah (1965-1973). Universitas Columbia pada tahun 1960 diberikan kepadanya Ph.D. derajat. Ia mengajar sosiologi di Columbia pertama (1959-1969) dan kemudian di Harvard hingga pensiun pada tahun 1990. Bell juga adalah Pitt mengunjungi Profesor Sejarah Amerika dan Lembaga di Cambridge University pada tahun 1987. Ia menjabat sebagai anggota Komisi Presiden Technology di 1964-1965 dan sebagai anggota Komisi Presiden Agenda Nasional tahun 1980-an pada tahun 1979.
Daniel Bell pernah menggambarkan dirinya sebagai "sosialis dalam ekonomi, liberal dalam politik, dan budaya yang konservatif."
Ia terkenal karena kontribusinya pada pasca-industrialisme. Buku-buku yang paling berpengaruh adalah The End of Ideology (1960), The Budaya Kontradiksi Kapitalisme (1976) dan The Coming of Post-Industrial Society (1973). Dua dari buku-bukunya, Akhir dari Ideologi dan Kontradiksi Budaya Kapitalisme yang terdaftar oleh Times Literary Supplement sebagai di antara buku yang 100 paling penting di paruh kedua abad kedua puluh. Hanya Isaiah Berlin, Claude Lévi-Strauss, Albert Camus, George Orwell dan Hannah Arendt, telah dua buku begitu terdaftar.
Putra Bell, David A. Bell, adalah seorang dekan dan profesor sejarah Perancis di Johns Hopkins University, dan putrinya, Jordy Bell, adalah seorang administrator dan akademik guru, antara lain, Perempuan AS Marymount sejarah di College, Tarrytown, New York, sebelum pensiun pada tahun 2005.
[sunting] Kedatangan Masyarakat Post-Industri
Dalam The Coming of Post-Industrial Society Bell diuraikan jenis baru masyarakat - pasca-masyarakat industri. Dia berargumen bahwa pasca-industrialisme akan dipimpin dan informasi-service-oriented. Bell juga berpendapat bahwa masyarakat pasca industri akan menggantikan masyarakat industri sebagai sistem dominan. Ada tiga komponen untuk pasca-masyarakat industri, menurut Bell:
• pergeseran dari manufaktur ke layanan
• sentralitas dari ilmu baru industri berbasis
• munculnya elite teknis baru dan munculnya prinsip baru stratifikasi.
Bell juga konseptual yang membedakan antara tiga aspek dari masyarakat pasca-industri: data, atau informasi yang menggambarkan dunia empiris, informasi, atau organisasi yang bermakna data ke sistem dan pola-pola seperti analisis statistik, dan pengetahuan, yang conceptualizes Bell sebagai penggunaan informasi untuk membuat penilaian. Bell membahas naskah Kedatangan Masyarakat Post-Industri dengan Talcott Parsons sebelum diterbitkan.
Daniel Bell
Lahir 10 Mei 1919 (umur 90)
New York
Fields Sosiologi
Lembaga Harvard University
Dikenal Pasca-industrialisme
Daniel Bell (lahir 10 Mei 1919 di New York City) adalah seorang sosiolog dan profesor emeritus di Universitas Harvard. Dia juga seorang direktur Suntory Yayasan dan sarjana di kediaman American Academy of Arts and Sciences. Ia telah menerima gelar kehormatan dari Harvard, Universitas Chicago, empat belas universitas di Amerika Serikat, dan Universitas Keio, di Jepang. Saat ini ia tinggal di Cambridge, Mass, bersama istrinya Pearl Bell, seorang sarjana sastra kritik. Dia telah menerima "Lifetime Achievement Award" oleh Asosiasi Sosiologi Amerika pada tahun 1992, dan Talcott Parsons Prize untuk Ilmu Sosial oleh American Academy of Arts and Sciences pada tahun 1993. Dia juga diberi Tocqueville Award oleh pemerintah Perancis pada tahun 1995.
Bel lulus dari City College of New York dengan ilmu pengetahuan dan sarjana ilmu sosial. Dia memulai karirnya sebagai jurnalis, menjadi editor majalah Pemimpin Baru (1941-1945), seorang tenaga kerja Fortune editor (1948-1958) dan kemudian co-editor (dengan teman kuliah Irving Kristol) dari The Public Interest majalah (1965-1973). Universitas Columbia pada tahun 1960 diberikan kepadanya Ph.D. derajat. Ia mengajar sosiologi di Columbia pertama (1959-1969) dan kemudian di Harvard hingga pensiun pada tahun 1990. Bell juga adalah Pitt mengunjungi Profesor Sejarah Amerika dan Lembaga di Cambridge University pada tahun 1987. Ia menjabat sebagai anggota Komisi Presiden Technology di 1964-1965 dan sebagai anggota Komisi Presiden Agenda Nasional tahun 1980-an pada tahun 1979.
Daniel Bell pernah menggambarkan dirinya sebagai "sosialis dalam ekonomi, liberal dalam politik, dan budaya yang konservatif."
Ia terkenal karena kontribusinya pada pasca-industrialisme. Buku-buku yang paling berpengaruh adalah The End of Ideology (1960), The Budaya Kontradiksi Kapitalisme (1976) dan The Coming of Post-Industrial Society (1973). Dua dari buku-bukunya, Akhir dari Ideologi dan Kontradiksi Budaya Kapitalisme yang terdaftar oleh Times Literary Supplement sebagai di antara buku yang 100 paling penting di paruh kedua abad kedua puluh. Hanya Isaiah Berlin, Claude Lévi-Strauss, Albert Camus, George Orwell dan Hannah Arendt, telah dua buku begitu terdaftar.
Putra Bell, David A. Bell, adalah seorang dekan dan profesor sejarah Perancis di Johns Hopkins University, dan putrinya, Jordy Bell, adalah seorang administrator dan akademik guru, antara lain, Perempuan AS Marymount sejarah di College, Tarrytown, New York, sebelum pensiun pada tahun 2005.
[sunting] Kedatangan Masyarakat Post-Industri
Dalam The Coming of Post-Industrial Society Bell diuraikan jenis baru masyarakat - pasca-masyarakat industri. Dia berargumen bahwa pasca-industrialisme akan dipimpin dan informasi-service-oriented. Bell juga berpendapat bahwa masyarakat pasca industri akan menggantikan masyarakat industri sebagai sistem dominan. Ada tiga komponen untuk pasca-masyarakat industri, menurut Bell:
• pergeseran dari manufaktur ke layanan
• sentralitas dari ilmu baru industri berbasis
• munculnya elite teknis baru dan munculnya prinsip baru stratifikasi.
Bell juga konseptual yang membedakan antara tiga aspek dari masyarakat pasca-industri: data, atau informasi yang menggambarkan dunia empiris, informasi, atau organisasi yang bermakna data ke sistem dan pola-pola seperti analisis statistik, dan pengetahuan, yang conceptualizes Bell sebagai penggunaan informasi untuk membuat penilaian. Bell membahas naskah Kedatangan Masyarakat Post-Industri dengan Talcott Parsons sebelum diterbitkan.
Jumat, 08 April 2011
Prahara gudang berlian
Jatuh… oh terjatuh , kilahnya berucap
Harta semata wayangnya tergadaikan kesingasana
Namun ia mensilat lidahnya ke barisan depan
Mengundang tarian jenaka kepada rakyat miskin
Ingatlah tuan.. mereka seekor burung rajawali , sekelompok semut yang berbaris ,
bukan boneka badut yang merias merah hidung nya
jangan… kau bertanduk ., sebab di kau bukanlah banteng bermoncom merah..
naluri mereka hanya berseru …
biarkan kami hidup .. tapi tidak berkalang hina …
wahai Tuhan berdasi … masih kah kau ingat pekara gudang berliang
di tanah pertiwi ? yang telah kau ombak – ambik , hanya karna satu nama
bodohnya , Tuanku … mengigit kulit sendiri hanya untuk sebuah enda …
apakah ada sadar Tuanku bumi ini bukan milikmu lagi…tapi jangan mengaduh .. sebab itulah bukti perbuatan semua
Harta semata wayangnya tergadaikan kesingasana
Namun ia mensilat lidahnya ke barisan depan
Mengundang tarian jenaka kepada rakyat miskin
Ingatlah tuan.. mereka seekor burung rajawali , sekelompok semut yang berbaris ,
bukan boneka badut yang merias merah hidung nya
jangan… kau bertanduk ., sebab di kau bukanlah banteng bermoncom merah..
naluri mereka hanya berseru …
biarkan kami hidup .. tapi tidak berkalang hina …
wahai Tuhan berdasi … masih kah kau ingat pekara gudang berliang
di tanah pertiwi ? yang telah kau ombak – ambik , hanya karna satu nama
bodohnya , Tuanku … mengigit kulit sendiri hanya untuk sebuah enda …
apakah ada sadar Tuanku bumi ini bukan milikmu lagi…tapi jangan mengaduh .. sebab itulah bukti perbuatan semua
Selasa, 29 Maret 2011
wasiat tanpa pesan
Wasiat Tanpa Pesan
Waktu berbunyi berirama, mengiringku dalam lamunan senja, memutar masa lalu. Mengulang memorial sebaris prosa yang tertulis di balik layar telepon gengamku . kalimat-kalimat yang tertulis di dalamnya bagai cambukan yang menderu-deru dalam tanganku. Betapa tidak. Mengagung-agungkan sesuatu yang nihil, panggilan untuk menjadi relawan di tanah perjanjian. Palestina.
Awalnya, aku hanya akan menerima permintaan menjadi relawan diAceh, membantu korban bencana tzunami ku rasa memang sudah menjadi tanggung jawabku. Menjadi seorang perawat rumah sakit hanya membuat batinku sakit. Berbagai kasus yang ku hadapi. Mereka yang berobat memakai kartu jaminan dari pemerintah, hanya mendapatkan bantuan setengah-tengah. Meski mereka harus membayar melebihi biaya administrasi Rumah Sakit. Aku terlalu kejam melihat hal itu terjadi. Tapi, apa dayaku. Aku tidak punya hak atas semuanya.
Pernah ku berpikir untuk mengundurkan diri, tapi orangtua tak mengizinkan. Hingga aku mendengar berita bencana di Aceh. Tanpa berpikir panjang aku mengajukan diri menjadi relawan. Bagiku sangat sulit di percaya. Untuk melepaskan diri dari orang tua, aku membawa nama Idealis, etika kedokteran. Harus menolong. Dimanapun dan kepada siapapun.
Hingga tugasku selesai di Aceh... tugas berikut yang ku embang adalah menjadi relawan ke Palestina. Untuk pertama kalinya, tugas ini merasa berat bagiku....
Ke Palestina ?....Palestina itukan...kota yang.....bagaimana klu aku....
Ikhlaskah aku menerima amanah ini???. Gelisah...tapi ini kewajiban. Berarti aku harus kesana.?...aku...takut...
Bingung...
***
Awal kisahku. Prosa singkat yang pertama membuatku canggung. Akhirnya menguatkan langkahku ke Kota Asing itu, untuk pertama kalinya.Palestina...
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, kami tiba di pengungsian. Membongkar muatan. Jarum infus, jarum suntik, dan sebotol cairan Ringer laktat (RL), telah aku kelolah di tangan dan tubuh pasien di ruang pengungsian itu. Bukan satu dua orang yang harus ku rawat, tapi berpuluh sampai ribuan yang harus di rawat. Perasaan lega, membuatku senang karena bisa membantu mereka semaksimal mungkin. Meski hanya segudang kerisauan masih membayang dalam pikiranku. Aku mencoba menjalani semuanya tanpa kegundahan di hati. Tuhanku hilangkan segala khilafku... bisikku di petang itu.
Ku langkahkan beban-beban pikirku ke seluruh tempat. Derungan, kerusuhan, hiruk pikuk, menguasai tempat di sekitarku. Aku tersentak secara tiba-tiba, mengawasi segala gerak. Semua mencurigakan dalam pandanganku. Mata-mata mereka memandang, mengelilingi seluruh ruang. Mencari sesuatu. aku berlari, menjauhi segala kondisi... setiap kali seseorang membawa senjata. Aku melotot, memperhatikan tingkahnya. Mengarahkan mataku di setiap langkahnya. Aku takut... takut akan kematianku yang datang secara tiba-tiba....aku menghindar. Segalanya ku coba ku hindari...namun aku akan tetap terpaku, selama tugasku di pengungsian itu belum selesai...
Gelap. Hitam, masih kelam. Kiamat itu tiba-tiba akan datang. Namun aku belum juga merasa kuat dan tegar atas situasi ku sekarang. Aku memeriksa, mengobati, merawat seperti biasanya.. tetapi bayangku masih melayang jauh menerawan ke langit. Memikirkan bagaimana lepas dari tempat yang di anggap sangat rawan. Dingin itu menusuk,di bawa ruang mentari. Paradoks antara hati dan tubuhku. Terasa sulit ku seimbangkan.
Lelaki itu tergeletak tak berdaya, seluruh tubuhnya tersobek. Mengeluarkan cairan segar merah membanjiri lantai di samping tangga rumah sakit tempatku. Seseorang berjalan ke arahnya, secepat kilat kerumunan itu di pecahkan kedatangan sekelompok berbaju putih, memapah lelaki yang terbaring itu.
Ku terbawa dalam rombongan dimana lelaki itu akan di bawa. Di sampingnya, ku pandangi wajahnya. Cahaya remang-remang dari ruangan membuat jelas sosoknya yang berlumuran darah...tersentak. batinku berteriak saat wajah itu mengingatkan Rendra sahabatku.
Berjuta pertanyaan menancap dalam pikirku. Menerawang sebab-sebab kedatangannya ke Negara ini. Padahal seluruh dunia pun tahu, terjadi perang di Negara ini. Palestina.
Seluruh badan, dari kepala sampai kaki terlumuri cairan merah itu. Badannya mendingin,tak terasa kan denyut nadinya. Para Dokter sekitarku melakukan pecut jantung. Memandangi tubuh yang tak berdayanya. Aku hanya membantu dokter membalut lukanya, darahnya mulai berhenti mengalir, namun wajahnya masih tampak pucat. Tangannya mulai di pasangkan cairan Ringer laktat, jarum infus mulai di pasangkan di lengannya. Tak tahu apa yang akan terjadi padanya. Dokter hanya bisa memastikan Rendra akan mengalami amesia permanen akibat luka yang bersarang di kepalanya. Dan aku tak akan bisa mendapatkan alasan kenapa ia datang ke tempat ini. Padahal awalnya aku sangat berharap pada Rendra, alasan yang bisa menguatkan langkahku di tempat ini.... karena aku yakin. Pasti ada alasan mulia yang melatarbelakangi ia datang ke sini.
Waktu terus menggelincir tak akan tahu kapan berhentinya. Malam telah berganti namun ia tak juga sadarkan diri. 4 Minggu ia tergeletak tak berdaya di pemukiman kumuh itu. luka di seluruh tubuhnya mengering dengan sendirinya, tanpa peralatan lagi. Seluruh obat dan peralatan medis lainnya telah habis terpakai. Dan lebihnya telah terkubur bersama runtuhan betong- betong di sekitarku.
Tak ada tempat yang menandakan adanya rumah sakit untuk perawatan bagi semua korban perang. Segala tempat sebagian telah rata dengan tanah. Tak kan ada tanda perlindungan. Pasien yang telah ku rawat, sebagian telah pergi meninggalkan kami. Tapi sebagian lainnya berbenah diri membawa alat perang. Kembali ke medan perang. Dan sebagian lainnya mengungsi membawa air mata kesedihan. Sebab tanahnya. Tempat kelahirannya bukan lagi rumah atau tempat berlindung. Akan tetapi tempat yang sesekali dapat merenggut nyawanya dan keluarganya.
Kabut tebal menyelimuti teriknya mentari, derungan mesin dan tembakan silih berganti mewarnai hari-hari mereka. Badan kurusan tak terawat, menenteng berbagai alat berat dan bersembunyi, berpencar ke segala arah. Mencari sasaran musuhnya. Serbuan, pengepungan dan pembantaian menjadi hiasan mata sehari-hari. Memupuk tanah kering tandus beterbangan bersama debu. Mereka masih terus bergegas.
Jejak langkah menghantam tanah perbatasan menyebabkan kami bergeser dan menganti haluan. Para tentara berbaju loreng itu. melirik mengawasi setiap gerakan tubuh yang melintas. Mata-mata mereka jeli, bak mata elang mengawasi tembok pemukiman mangsanya.
Mereka semakin dekat dengan pemukiman, dan melepaskan tembakan ke arah langit...
“dimana para suster dan dokter ?, serahkan mereka ke pada kami !!!” wajah hitam itu menghentam. Mengeluarkan suara menggelegar dari mulutnya.
“kalian akan kami tinggalkan jika menyerahkan dua mahluk itu pada kami, tanpa pembantaian” seorang di antara mereka mulai bersuara lebih keras sambil mengelilingi puing-puing bangunan tempat bernaung para warga. Memeriksa warga dengan mengarahkan ujung senjata pada setiap orang yang berselimut.
“akan kami bantu jika kalian membutuhkan pertolongan. Tanpa pertumpahan darah” Dokter Afid mengeluarkan suara di balik dinding. Ia mencoba mengalihkan perhatian para serdadu itu.
Mereka mulai mengerumuni dokter afid, memeriksa segala benda yang melekat di badanya dan tas obat yang tengah di tentengnya.
“ dia dokter Afid. Kami perlu dua atau tiga perawat untuk membantunya.” Teriak serdadu lainnya.
Suasana menghening. Suara tak lagi di keluarkan. Tak ada suster atau perawat yang mangangkat badannya. Semua saling melirik.mencari sosok sang di harapkan.
“kalian tetap tak akan pergi dari sini. Janji yang kau ucapkan itu hanya racun belaka. Nada yang kau lontarkan itu hanya sebagai nyanyian perih dan sakitnya jiwa kami” suara itu terdengar sayu.mengalung samar –samar ke telinga serdadu itu. dan kami pun mendengarnya pelan.
Segerombolan serdadu itu mengarah ke satu titik munculnya suara sayup itu terdengar. Mengangkat senjata mereka mengatur aba-aba penyergapan. Tembok menghalangi mereka menemukan sasaran. Mengelilingi tempat suara itu. pelan-pelan seradau itu memasang peringatan siaga menyerbu, memasuki serpihan bangunan yang berdiri, dan tiba-tiba dari belakang mereka... Muncul sesosok lelaki dengan balutan perban. Tetesan darah segar telah terlumuri di tangannya. Serdadu yang tengah berhadapan denganya roboh tanpa mengeluarkan suara. pisau lebih dulu menancap di nadi lehernya sebelum menembakkan senjatanya. Ketiga serdadu lainya masih mengelilingi tembok itu,mereka berhenti satu titik dan tiba-tiba tembok di depan mereka rubuh bersama rubuhnya mereka karena tertimpa beton besar itu.
Darah dari tangannya terus mengalir, bercampur darah lima serdadu itu yang telah mati mendahului kata-katanya. Ia sempat memandang wajah-wajah kami yang tengah meringkuk ketakutan. Menghelai kematian dengan ucapan sakral dari mulut mereka. Mereka tak berkutik memandang sosok yang di penuhi perban itu yang tengah melangkah jauh dari pandangan. Ia berjalan lambat dan berakhir dalam dekapan bumi pertiwinya.
Aku berlari ke arahnya, mengejar bayangannya yang hampir sirna. Memalingkan tubuhnya ke cahaya... ia masih lemah,letih, ia telah bermandikan darah, belum sempat berpamitan untuk salam ke damaian .
Ia akan tertidur. Tanpa ada lagi yang kan menganngu. Tidur panjang. Meski aku tak kan mendapatkan seraingkai kata tentang hadirnya di sini. Sahabatku Rendra.
Waktu berbunyi berirama, mengiringku dalam lamunan senja, memutar masa lalu. Mengulang memorial sebaris prosa yang tertulis di balik layar telepon gengamku . kalimat-kalimat yang tertulis di dalamnya bagai cambukan yang menderu-deru dalam tanganku. Betapa tidak. Mengagung-agungkan sesuatu yang nihil, panggilan untuk menjadi relawan di tanah perjanjian. Palestina.
Awalnya, aku hanya akan menerima permintaan menjadi relawan diAceh, membantu korban bencana tzunami ku rasa memang sudah menjadi tanggung jawabku. Menjadi seorang perawat rumah sakit hanya membuat batinku sakit. Berbagai kasus yang ku hadapi. Mereka yang berobat memakai kartu jaminan dari pemerintah, hanya mendapatkan bantuan setengah-tengah. Meski mereka harus membayar melebihi biaya administrasi Rumah Sakit. Aku terlalu kejam melihat hal itu terjadi. Tapi, apa dayaku. Aku tidak punya hak atas semuanya.
Pernah ku berpikir untuk mengundurkan diri, tapi orangtua tak mengizinkan. Hingga aku mendengar berita bencana di Aceh. Tanpa berpikir panjang aku mengajukan diri menjadi relawan. Bagiku sangat sulit di percaya. Untuk melepaskan diri dari orang tua, aku membawa nama Idealis, etika kedokteran. Harus menolong. Dimanapun dan kepada siapapun.
Hingga tugasku selesai di Aceh... tugas berikut yang ku embang adalah menjadi relawan ke Palestina. Untuk pertama kalinya, tugas ini merasa berat bagiku....
Ke Palestina ?....Palestina itukan...kota yang.....bagaimana klu aku....
Ikhlaskah aku menerima amanah ini???. Gelisah...tapi ini kewajiban. Berarti aku harus kesana.?...aku...takut...
Bingung...
***
Awal kisahku. Prosa singkat yang pertama membuatku canggung. Akhirnya menguatkan langkahku ke Kota Asing itu, untuk pertama kalinya.Palestina...
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, kami tiba di pengungsian. Membongkar muatan. Jarum infus, jarum suntik, dan sebotol cairan Ringer laktat (RL), telah aku kelolah di tangan dan tubuh pasien di ruang pengungsian itu. Bukan satu dua orang yang harus ku rawat, tapi berpuluh sampai ribuan yang harus di rawat. Perasaan lega, membuatku senang karena bisa membantu mereka semaksimal mungkin. Meski hanya segudang kerisauan masih membayang dalam pikiranku. Aku mencoba menjalani semuanya tanpa kegundahan di hati. Tuhanku hilangkan segala khilafku... bisikku di petang itu.
Ku langkahkan beban-beban pikirku ke seluruh tempat. Derungan, kerusuhan, hiruk pikuk, menguasai tempat di sekitarku. Aku tersentak secara tiba-tiba, mengawasi segala gerak. Semua mencurigakan dalam pandanganku. Mata-mata mereka memandang, mengelilingi seluruh ruang. Mencari sesuatu. aku berlari, menjauhi segala kondisi... setiap kali seseorang membawa senjata. Aku melotot, memperhatikan tingkahnya. Mengarahkan mataku di setiap langkahnya. Aku takut... takut akan kematianku yang datang secara tiba-tiba....aku menghindar. Segalanya ku coba ku hindari...namun aku akan tetap terpaku, selama tugasku di pengungsian itu belum selesai...
Gelap. Hitam, masih kelam. Kiamat itu tiba-tiba akan datang. Namun aku belum juga merasa kuat dan tegar atas situasi ku sekarang. Aku memeriksa, mengobati, merawat seperti biasanya.. tetapi bayangku masih melayang jauh menerawan ke langit. Memikirkan bagaimana lepas dari tempat yang di anggap sangat rawan. Dingin itu menusuk,di bawa ruang mentari. Paradoks antara hati dan tubuhku. Terasa sulit ku seimbangkan.
Lelaki itu tergeletak tak berdaya, seluruh tubuhnya tersobek. Mengeluarkan cairan segar merah membanjiri lantai di samping tangga rumah sakit tempatku. Seseorang berjalan ke arahnya, secepat kilat kerumunan itu di pecahkan kedatangan sekelompok berbaju putih, memapah lelaki yang terbaring itu.
Ku terbawa dalam rombongan dimana lelaki itu akan di bawa. Di sampingnya, ku pandangi wajahnya. Cahaya remang-remang dari ruangan membuat jelas sosoknya yang berlumuran darah...tersentak. batinku berteriak saat wajah itu mengingatkan Rendra sahabatku.
Berjuta pertanyaan menancap dalam pikirku. Menerawang sebab-sebab kedatangannya ke Negara ini. Padahal seluruh dunia pun tahu, terjadi perang di Negara ini. Palestina.
Seluruh badan, dari kepala sampai kaki terlumuri cairan merah itu. Badannya mendingin,tak terasa kan denyut nadinya. Para Dokter sekitarku melakukan pecut jantung. Memandangi tubuh yang tak berdayanya. Aku hanya membantu dokter membalut lukanya, darahnya mulai berhenti mengalir, namun wajahnya masih tampak pucat. Tangannya mulai di pasangkan cairan Ringer laktat, jarum infus mulai di pasangkan di lengannya. Tak tahu apa yang akan terjadi padanya. Dokter hanya bisa memastikan Rendra akan mengalami amesia permanen akibat luka yang bersarang di kepalanya. Dan aku tak akan bisa mendapatkan alasan kenapa ia datang ke tempat ini. Padahal awalnya aku sangat berharap pada Rendra, alasan yang bisa menguatkan langkahku di tempat ini.... karena aku yakin. Pasti ada alasan mulia yang melatarbelakangi ia datang ke sini.
Waktu terus menggelincir tak akan tahu kapan berhentinya. Malam telah berganti namun ia tak juga sadarkan diri. 4 Minggu ia tergeletak tak berdaya di pemukiman kumuh itu. luka di seluruh tubuhnya mengering dengan sendirinya, tanpa peralatan lagi. Seluruh obat dan peralatan medis lainnya telah habis terpakai. Dan lebihnya telah terkubur bersama runtuhan betong- betong di sekitarku.
Tak ada tempat yang menandakan adanya rumah sakit untuk perawatan bagi semua korban perang. Segala tempat sebagian telah rata dengan tanah. Tak kan ada tanda perlindungan. Pasien yang telah ku rawat, sebagian telah pergi meninggalkan kami. Tapi sebagian lainnya berbenah diri membawa alat perang. Kembali ke medan perang. Dan sebagian lainnya mengungsi membawa air mata kesedihan. Sebab tanahnya. Tempat kelahirannya bukan lagi rumah atau tempat berlindung. Akan tetapi tempat yang sesekali dapat merenggut nyawanya dan keluarganya.
Kabut tebal menyelimuti teriknya mentari, derungan mesin dan tembakan silih berganti mewarnai hari-hari mereka. Badan kurusan tak terawat, menenteng berbagai alat berat dan bersembunyi, berpencar ke segala arah. Mencari sasaran musuhnya. Serbuan, pengepungan dan pembantaian menjadi hiasan mata sehari-hari. Memupuk tanah kering tandus beterbangan bersama debu. Mereka masih terus bergegas.
Jejak langkah menghantam tanah perbatasan menyebabkan kami bergeser dan menganti haluan. Para tentara berbaju loreng itu. melirik mengawasi setiap gerakan tubuh yang melintas. Mata-mata mereka jeli, bak mata elang mengawasi tembok pemukiman mangsanya.
Mereka semakin dekat dengan pemukiman, dan melepaskan tembakan ke arah langit...
“dimana para suster dan dokter ?, serahkan mereka ke pada kami !!!” wajah hitam itu menghentam. Mengeluarkan suara menggelegar dari mulutnya.
“kalian akan kami tinggalkan jika menyerahkan dua mahluk itu pada kami, tanpa pembantaian” seorang di antara mereka mulai bersuara lebih keras sambil mengelilingi puing-puing bangunan tempat bernaung para warga. Memeriksa warga dengan mengarahkan ujung senjata pada setiap orang yang berselimut.
“akan kami bantu jika kalian membutuhkan pertolongan. Tanpa pertumpahan darah” Dokter Afid mengeluarkan suara di balik dinding. Ia mencoba mengalihkan perhatian para serdadu itu.
Mereka mulai mengerumuni dokter afid, memeriksa segala benda yang melekat di badanya dan tas obat yang tengah di tentengnya.
“ dia dokter Afid. Kami perlu dua atau tiga perawat untuk membantunya.” Teriak serdadu lainnya.
Suasana menghening. Suara tak lagi di keluarkan. Tak ada suster atau perawat yang mangangkat badannya. Semua saling melirik.mencari sosok sang di harapkan.
“kalian tetap tak akan pergi dari sini. Janji yang kau ucapkan itu hanya racun belaka. Nada yang kau lontarkan itu hanya sebagai nyanyian perih dan sakitnya jiwa kami” suara itu terdengar sayu.mengalung samar –samar ke telinga serdadu itu. dan kami pun mendengarnya pelan.
Segerombolan serdadu itu mengarah ke satu titik munculnya suara sayup itu terdengar. Mengangkat senjata mereka mengatur aba-aba penyergapan. Tembok menghalangi mereka menemukan sasaran. Mengelilingi tempat suara itu. pelan-pelan seradau itu memasang peringatan siaga menyerbu, memasuki serpihan bangunan yang berdiri, dan tiba-tiba dari belakang mereka... Muncul sesosok lelaki dengan balutan perban. Tetesan darah segar telah terlumuri di tangannya. Serdadu yang tengah berhadapan denganya roboh tanpa mengeluarkan suara. pisau lebih dulu menancap di nadi lehernya sebelum menembakkan senjatanya. Ketiga serdadu lainya masih mengelilingi tembok itu,mereka berhenti satu titik dan tiba-tiba tembok di depan mereka rubuh bersama rubuhnya mereka karena tertimpa beton besar itu.
Darah dari tangannya terus mengalir, bercampur darah lima serdadu itu yang telah mati mendahului kata-katanya. Ia sempat memandang wajah-wajah kami yang tengah meringkuk ketakutan. Menghelai kematian dengan ucapan sakral dari mulut mereka. Mereka tak berkutik memandang sosok yang di penuhi perban itu yang tengah melangkah jauh dari pandangan. Ia berjalan lambat dan berakhir dalam dekapan bumi pertiwinya.
Aku berlari ke arahnya, mengejar bayangannya yang hampir sirna. Memalingkan tubuhnya ke cahaya... ia masih lemah,letih, ia telah bermandikan darah, belum sempat berpamitan untuk salam ke damaian .
Ia akan tertidur. Tanpa ada lagi yang kan menganngu. Tidur panjang. Meski aku tak kan mendapatkan seraingkai kata tentang hadirnya di sini. Sahabatku Rendra.
Sabtu, 04 September 2010
perjalanan seorang pejuang hidup
sCementara menunggu makanan yang dipesan sampai, kami berborak tentang pelbagai perkara. Dari berita kemenangan Obama sampailah tentang keadaan mahasiswa Malaysia di sini. Dalam diskusi kami sempat kami selitkan isu-isu yang terjadi di Indonesia. Banyaknya kes pembunuhan dan mutilasi yang terjadi baru-baru ini, menjadikan perbualan tersebut semakin rancak mengiakan klaim kami terhadap Indonesia. Tidak ada yang dapat menafikan, negara ini berada di dalam lembah masalah yang kian hari menenggelamkan rakyatnya. Setiap sisi dari negaranya menyumbangkan masalah dalam definisi masing-masing. Sehingga mereka yang tidak redha menjadi beban buat tanah air juga ikut terheret ke dalam sengsara tersebut. Terlalu banyak kuasa yang diberikan kepada orang yang sedikit sekali menghargai titis peluh rakyat yang menanggung beban negara. Belum dihitung jabatan-jabatan kerajaan yang dirangkul oleh orang-orang bodoh. Tidak hairan bila ada wakil rakyat dan menteri yang membeli sijil ijazah dan gelaran mereka untuk ikut bertanding dalam jabatan kerajaan. Jurang ekonomi sepertinya tidak akan pernah menipis. Terus menguak lebar seluas kantung wang para koruptor dan tikus – tikus busuk di sela-sela longkang dewan negara mereka. Aku dapat menyimpulkan pengajarannya sebagai : Lakukan sebaliknya daripada apa yang berlaku di negara ini.
Setelah selesai makan dan sekilas melihat beberapa kedai, kami langsung menuju ke motor untuk pulang. Nad yang diboncengi aku, siap dengan tiket parking dan wang untuk bayarannya. Sudah menjadi tradisi kami siapa yang dibonceng, dialah yang membayar tiket. Untuk menghargai orang yang membawa motor dan minyaknya sekalian mungkin. Daripada 3 pos pembayaran tiket, hanya 2 pos yang kami lihat motor lain beratur untuk membayar. “Yazid, amik line paling kiri tu, takde motor beratur!”. Tanpa berfikir panjang dan daripada beratur panjang, aku terus masuk ke pos pembayaran yang Nad maksudkan tadi. Aku langsung tersenyum setelah melihat kelibat di samping pos tersebut. “Patutla takde orang nak beratur kat sini, ada anak jalanan (pengemis kanak-kanak) rupanya. “ Bisik Nad. Motor aku berhenti bersebelahan dengan pos pembayaran. Sementara Nad sibuk bertransaksi, aku melihat telatah anak-anak kecil tersebut. Ada 2 orang, adik beradik mungkin. Sekitar umur 6-7 tahun dugaanku. Muka dan tangan mereka hitam dek dibakar matahari, pasti sudah bertahun-tahun lamanya. Corengan di muka dan pakaian lusuh mereka menambahkan kesayuan siapapun melihat keadaan mereka. Biasanya jika ada motor yang berhenti untuk membayar, mereka mula membinarkan mata dan memberikan ekspresi paling sedih yang termampu mereka tunjukkan demi meraih simpati dan mudah-mudahan, sedikit wang recehan dari orang lain yang lebih bernasib baik. Tetapi kali ini mereka tidak begitu. Salah seorang dari mereka sambil memegang tayar motorku, berkata kepada yang satunya lagi. “Motor seperti ini yang aku mahu beli nanti. Motor racing!”. Sungguh-sungguh dia cuba meyakinkan kata-katanya. Saudaranya tadi sibuk membelek motorku, sepertinya sudah termakan dengan kata-katanya. Aku hanya tersenyum melihat gelagat anak-anak berdua tersebut. Aku bisikkan kesedihan dalam hatiku. Betapa impian mereka masih jauh untuk digapai. Sedangkan sesuap nasi untuk esok harinya saja belum tentu ada. Aku mencela diriku yang selalu lupa untuk bersyukur.
“Opss!!” Wang kembalian dari pos bayaran parking tadi tidak semuanya erat di tangan Nad. Sehelai not seribu rupiah (40sen) perlahan jatuh ke samping motor. Aku yang merunduk untuk mencapai wang tersebut rupanya sudah didahului oleh tangan anak kecil yang comot tadi. Mata kami bertemu, saling berpandangan. Di tangan anak kecil itu tersemat kemas not seribu tadi. Dia tersenyum dan sambil melihatku, tangannya menghulurkan wang tadi kepadaku. Aku terdiam sebentar. Tanganku perlahan mencapai hujung not tersebut yang masih di tangannya. “Takpe, bagi je.” Tiba-tiba Nad bersuara dari belakang. Aku membalas senyumannya. Not tersebut kembali ke tangannya semula. “Terima kasih ya”. Ujarnya sambil tersenyum. Kamipun berlalu pergi.
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan bagaimana jika aku berada dalam keadaan seperti mereka. Tidak tentu makan dan minum hari ini, apatah lagi esok. Aku yang sudah dapat makan saja sudah banyak mengeluh. Sudah pasti mereka juga tidak bersekolah. Rumahnya entah diselokan kumuh yang mana. Itupun kalau ada. Kebanyakan mereka hanya berbumbungkan langit dan berselimutkan angin malam. Terbakar dek bahang panas matahari dan menciut dalam kedinginan hujan. Tempat permainan mereka ada disetiap ruas jalanan dan mimpi-mimpi mereka hanya mahu didengari Tuhan. Sekilas, sungguh tidak adil rasanya aturan dunia ini. Siapakah kita untuk menafikan hak mereka untuk sama menikmati kehidupan? Kenapa nasib mereka tidak sebagus kita? atau setidaknya layak untuk hidup dalam erti yang sebenarnya? Maha Suci Allah yang menjadikan tiap-tiap dari makhlukNya dalam sebaik-baik keadaan. Dia menciptakan seluruh manusia dengan peluang yang sama besar, cuma manusia yang sering mengikis kesempatan saudaranya. Besar atau kecilnya rezeki seseorang bukanlah urusan kita untuk menentukannya. Walaupun semuanya telah tertulis di Lauh Mahfuz, belum pernah ada yang pasti dengan rezekinya sehinggalah dia kembali kepadaNya. Aku bersyukur kerana hari itu aku telah diberi pengajaran. Pengajaran dari seorang pengemis. Pengajaran dari tangannya yang menghulurkan wang dan tanganku yang menerimanya. Sungguh, tidak ada orang yang mahu menadahkan tangan demi memanjangkan usia hidupnya. Kitalah yang selalu memaksa mereka, sama ada kita sedari ataupun tidak. Dunia tanpa kemiskinan itu tidak mustahil, jika kemiskinan dalam hati manusia dapat kita sirnakan.
90% kekayaan bumi dikuasai oleh 1% penduduknya.
Anak adalah masa depan keluarga dan bangsa. Itu sebabnya, semua orang tua berharap anak-anaknya bisa mengangkat harkat dan martabat keluarganya dan keluar dari himpitan ekonomi.
Namun apa jadinya bila ada anak-anak yang sejak kecil berada di jalanan dan menjadi pengemis kemudian menjadi penjaja seks komersial (PSK) saat mereka beranjak remaja/dewasa? Hal seperti ini dapat dijumpai Kota Makassar, Sulsel.
Beberapa anak jalanan yang dahulu menjadi pengemis pada sudut-sudut perampatan jalan yang ada lampu lalulintas di sepanjang jalan Sungai Saddang, kini tidak berada lagi di tempat itu untuk menadahkan tangan meminta-minta kepda pengendara.
Berbekal gincu, bedak, kondom dan tubuh yang ‘aduhai,’ sekitar pukul 23.00, anak-anak yang baru beranjak remaja itu terlihat berdiri di bawah naungan pohon besar (remang-remang) sambil melambaikan tangannya kepada sejumlah pengendara yang melintas di depan mereka.
Tidak sedikit kendaraan yang merespon lambaian tangan itu. Saat kendaraan itu berhenti, si ABG (anak baru gede) ini akan segera berlari mendekati kendaraan tersebut dan tak lama kemudian, ABG tersebut sudah berada di mobil dan melaju ke suatu tempat, entah kemana. Yang jelas, si ABG tersebut telah menemukan mangsanya.
Menurut pengakuan Adrian (20) yang dahulu banyak menghabiskan masa kecilnya di jalan untuk mencari sesuap nasi, beberapa teman-temannya terutama anak jalanan perempuan kini telah menjadi PSK.
Mereka terpaksa menempuh jalan tersebut karena tidak memiliki keterampilan lain untuk mencari pekerjaan, sementara mereka sendiri mengaku merasa malu bila tetap berada di persimpangan jalan dengan mengenakan pakaian compang-camping sambil membawa kotak kecil dan menyodorkannya kepada sejumlah pengendara jalan raya.
“Kalau tidak begini, kami mau cari uang dimana dan mau makan apa?” jelas seorang gadis berumur 15 tahun yang enggan menyebutkan namanya.
Yang jelas, katanya, apa yang dilakukannya itu tidak ditentang orang tuanya, justru orang tuanya merasa senang karena diberi uang dari hasil kerjaannya itu. Sayangnya, ia tidak mau menyebutkan jumlah pendapatan yang diperolehnya dari hasil kencan dengan pria hidung belang dan segera berlalu seolah tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk mencari korban-korban penikmat seks lainnya.
Transisi pekerjaan anak jalanan menjadi PSK ini diakui Nuryanto, pendamping anak jalanan yang telah bertahun-tahun bersama mereka.
“Umumnya, anak jalanan yang telah memasuki usia SMP merasa malu berada lagi di jalanan dan memilih untuk berada di pinggir-pinggir jalan yang remang-remang,” jelasnya.
Meski demikian, katanya, di Makassar belum ditemukan ada anak yang menjadi korban phedofelis seperti yang terjadi pada beberapa kota besar di Indonesia. “Beberapa ABG yang kini terjun ke ‘lembah hitam’ itu kemungkinan mereka yang kerap menjadi korban perilaku seksual saat berada di jalanan,” tambahnya.
Kapolwiltabes Makassar, Kombes Pol. Nurman Thahir mengatakan, hingga saat ini, pihaknya belum menemukan adanya kasus pelecehan yang dialami anak-anak jalanan.
“Mungkin ada diantara mereka yang menjadi korban pelecehan seksual namun mereka tidak berani melaporkannya kepada polisi,” kata Nurman yang mengaku prihatin dengan kondisi anak-anak jalanan di kota ini.
Yang jelas, katanya, aparat kepolisian akan melakukan tindakan tegas terhadap anak-anak jalanan bila mereka bertindak kriminal. Nurman juga berharap agar pemerintah setempat segera melakukan razia terhadap anak-anak jalanan yang dinilai bisa mengancam masa depannya dan mengganggu warga, khususnya pengguna jalan raya.
Sodomi Seorang anak jalanan yang sering mengamen di beberapa sudut jalan , Andi (13) mengaku nyaris menjadi korban sodomi saat salah seorang anak muda meminta dilayani dengan imbalan sejumlah uang.
Namun beruntung, hal tersebut tidak terjadi sebab Andi segera melarikan diri setelah menerima uang pemberian dari lelaki yang diketahui adalah seorang pengamen itu.
“Saya langsung lari ketika dia mengajak ke suatu tempat dan menyuruh saya untuk melayaninya,” ungkap Andi yang sering mengemis dan mengamen di perempatan lampu merah Jalan Mesjid Raya dan Jl. Andalas ini.
Perilaku seperti itu, menurut siswa SMP PGRI Makassar ini, sering dialami namun tidak membuatnya jera untuk terus mencari sesuap nasi di pinggir jalan. Sepulang sekolah, Andi yang orang tuanya berprofesi sebagai tukang becak ini langsung menjalankan aksinya sebagai pengamen di pinggir jalan di sudut lampu merah.
“Kalau malam minggu, saya biasa mengamen di Pantai Losari tetapi saya takut ke sana lagi karena banyak anak muda yang mau mengajak berbuat begituan (sodomi-red),” ujarnya.
Selain ancaman pelecehan seksual, Andi juga mengaku kerap mendapatkan perilaku kekerasan dari beberapa preman. Dirinya sering dipukul dengan menggunakan rotan bila tidak menyerahkan hasil setoran mengamen atau tidak bekerja selama beberapa hari.
Berbeda halnya yang dialami Yanti (11), siswa kelas V SD Maradekaya I Makassar yang juga kerap mendapatkan tindak kekerasan dari orang tuanya dan sering mengalami pelecehan seks. Menurut pengakuannya, beberapa pengendara yang berhenti di jalan bersaha mengajaknya ke suatu tempat setelah diiming-iming akan diberikan uang Rp100.000. Namun ia menolaknya dan segera lari setelah menghempaskan tangan si pengendara yang mulai menggeranyangi tubuhnya.
Ibu Yanti, Hasmiati (35) mengaku terpaksa menyuruh anaknya tetap berada di jalan agar bisa memenuhi kehidupan keluarganya dan seolah tidak risau dengan ancaman kekerasan seksual yang dihadapi puterinya itu.
“Kalau tidak begitu, kita mau makan apa?” tutur ibu beranak empat ini yang sering mengawasi aktivitas anak-anaknya di jalan. Keempat anaknya itu diperintahkan untuk mencari uang di jalan, tidak terkecuali dengan anaknya yang baru berumur tujuh bulan.
Sementara dari penghasilan yang diperoleh ke-empat anaknya ini, dia telah memiliki dua sepeda motor bahkan hasil pendapatan anaknya itu digunakan untuk bermain judi.
Prihatin Sejumlah LSM, legislatif dan eksekutif mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami anak-anak jalanan ini, namun segala upaya yang telah dilakukan berbagai elemen masyarakat, tidak cukup membantu bahkan jumlah anak jalanan di kota “anging mammiri” ini semakin bertambah banyak.
Bahkan Lembaga Perlidungan Anak (LPA) Sulsel mengaku mengalami kesulitan untuk memberikan perlindungan hukum kepada anak-anak jalanan yang kerap mendapatkan perilaku pelecehan seksual dan tindak kekerasan, sebab mereka tidak berani melaporkan kejadian tersebut.
Selama ini, kata Ketua LPA Sulsel, Mappinawang, pihaknya hanya menangani atau memberikan perlindungan kepada anak jalanan yang terlibat maslaah hukum, anak-anak yang diperdagangkan atau mengalami pelecehan seksual dan adanya mobilisasi anak-anak jalanan.
“Anak peru dilindungi karena mereka memiliki empat hak, seperti hak untuk hidup, tumbuh kembang, berpartisipasi dan mendapatkan perlindungan hukum seperti yang tertuang dalam UU Pelrindungan Anak Nomor 3/1997,” jelasnya.
Perlindungan hukum terhadap anak jalanan ini, tidak hanya berlaku terhadap anjal perempuan, tetapi juga kepada anjal laki-laki yang kerap mengalami pelecehan seksual. Sebab itu, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penyisiran terhadap sejumlah anak jalanan.
Anggota DPRD Makassar, Syamsu Niang pun mengaku prihatin dengan kondisi anak jalanan yang dihadapi. Dia meminta kepada pemerintah setempat untuk segera menertibkan anak-anak jalanan.
Pasalnya, kalau hal tersebut dibiarkan, anak-anak tersebut tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga merugikan dirinya sendiri. “Penanganan anak-anak jalanan ini khan sudah dianggarkan dalam APBD Makassar,” jelas anggota komisi C DPRD Makassar yang membidangi kesejahteraan ini.
Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin sendiri mengaku bahwa pihaknya telah menghabiskan APBD 2005 senilai ratusan juta untuk membina keterampilan kepada anak-anak jalanan dan orang tuanya itu. “Kami sudah memberikan bantuan kepada ratusan KK kurang mampu, masing-masing KK diberikan santunan sekitar Rp3 juta belum termasuk bantuan peralatan masak dan sarana pembuatan kue yang bisa digunakan untuk membuka usaha kecil,” jelas Ilham.
Namun sayang, upaya pemerintah ini belum berhasil untuk meminimalisir jumlah anak-anak yang berada di jalan. Para orang tua malah menyuruh anak-anak mereka untuk mencari uang dengan alasan bahwa bantuan berupa uang yang diberikan pemerintah Kota Makassar sudah habis.
Sehingga salah satu alternatif yang dianggap paling jitu untuk menyingkirkan anak dari jalanan adalah tidak memberikan uang kepada mereka.
Kadis Sosial Makassar, Ibrahim Saleh bertekad tahun 2007, Makassar sudah bebas anjal. Pihaknya mempersiapkan beberapa langkah untuk mengatasai anak jalanan dan pengemis. Misalnya dengan mensinkronkan program Pemerintah Kota, Pemerintah Provinsi dan ’stakeholder’ untuk melakukan penertiban secara terpadu. ”Pokoknya, kita targetkan tahun 2007 mendatang, Kota Makassar sudah bebas dari pengemis dan anak jalanan,” tegas Ibrahim.
Selain melakukan penertiban, Dinsos Makassar juga akan memberdayakan ekonomi keluarga mereka. “Dengan diberdayakannya ekonomi mereka, maka tidak akan ada lagi alasan bagi mereka untuk turun ke jalan meminta-minta,” kata Ibrahim.
Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Makassar, sebanyak 718 orang yang berasal dari 502 kepala keluarga (KK) tergolong anak yang bekerja di jalan. Dari jumlah ini, sekitar 337 orang anak beroperasi di pusat kegiatan ekonomi, 109 orang anak pemulung dan 272 orang anak pengemis yang beroperasi dari rumah ke rumah.
Sedangkan anak yang betul-betul tergolong sebagai anak jalanan dan hidup di jalan mencapai 230 orang yang berasal dari 146 kepala keluarga (KK). Dari jumlah ini, sekitar 199 orang diantaranya berasal dari keluarga fakir miskin dan 31 orang anak dari penyandang eks penyakit kronis.
Sulitnya mengatasi anak-anak jalanan ini diakui pula Ketua Forum Pendamping Anak Kota Makassar, Nuryanto. Pasalnya, sejumlah anak-anak yang terjaring dalam razia yang kemudian dimasukkan dalam tempat tertentu untuk diberikan pembinaan dan keterampilan lainnya, tidak bisa menjamin anak-anak itu tidak akan kembali lagi ke jalan.
Apalagi katanya, dukungan orang tua yang mendorong anaknya untuk tetap kembali ke jalan sangat besar Pengaruhnya. Sebab lanjut Nuryanto, mayoritas para orang tua anak jalanan (anjal) memiliki prinsip untuk mengajar anak mereka hidup mandiri (bekerja) meski dengan cara meminta-minta di jalan. “Kalau mereka sudah kehabisan modal/subisidi yang diberikan pemerintah, tentu akan kembali ke jalan lagi sebab mereka berpikir bahwa mencari uang di jalan itu lebih mudah dan hasilnya banyak,” jelas anggota divisi pelayanan advokasi anak Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel ini.
Padahal kata Nuryanto, Rumah Sosial Perlidungan Anak (RSPA) yang dahulu bernama rumah singgah banyak melakukan pembinaan kepada anak-anak jalanan. Mereka diberikan pula pendidikan informal dan penanaman nilai-nilai hidup.
Sebab itu katanya, dalam upaya pemberdayaan anak, pihaknya juga meminta kepada pemerintah untuk tidak melakukan razia terhadap anak-anak jalanan tetapi kepada orang tua mereka yang setia mengawasi anak-anaknya di jalan.
“Semua itu tergantung pada orang tua mereka masing-masing, sebab merekalah yang memiliki peran penting dan penentu kebijakan, apakah anak-anaknya dibiarkan untuk tetap hidup di jalan atau tidak,” kata Nuryanto.
Untuk 2010 ini, ia belum bisa memberi penjelasan mengenai bentuk penanganan pengemis. Ia berkelit sedang melakukan kajian. "Nanti saya rumuskan lebih detail lagi," katanya.
Anggota Komisi Kesejahtaraan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah Makassar, Ikbal Djalil menilai tentu ada sebab sehingga pengemis tidak ingin pulang kampung, misalnya mereka tidak punya penghasilan di daerahnya dan selalu dikucilkan. Disinilah peran pemerintah, kata dia, menelorkan solusi jitu untuk kehidupan bekas penderita kusta ini.
Ia menawarkan agar pemerintah memberikan keterampilan dan modal terhadap mereka, supaya keinginan untuk mengemis tidak ada lagi. Pemerintah juga perlu memperkuat koneksi hingga ke daerah asal para pengemis, supaya ada tanggungjawab pemerintah daerah untuk mengawasi mereka. "Administrasi kependudukan juga diperketat, supaya laju urbanisasi bisa dikontrol dengan baik," katanya.
Maraknya pengemis di Makassar sudah menjadi fenomena yang selalu disoroti berbagai pihak setiap tahunnya, pemerintah telah mebuat regulasi yang cukup banyak untuk menangani mereka. Diantaranya pembuatan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang penanggulangan pengemis dan anak jalanan. Namun aturan yang memberi sanksi kurungan penjara bagi pengemis yang berkeliaran di kota itu tersebut sulit diterapkan dengan baik. "Memang masih cukup kurang realisasinya," kata Ibrahim.
Saat ini pengemis bekas penderita kusta di Makassar berkeliaran hampir diseluruh ruas jalan dan pusat keramaian. Mereka mudah ditemui di Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan Balai Kota, Jalan Ahmad Yani. Selan itu mereka sering memasuki tempat wisata seperti Pantai Losari, kemudian warung makan dan kafe.
Kisah Anak Pengemis yang Menjadi Anggota Skuad MFS 2000 Makassar
Kisah/cerita ini saya dapat waktu search di google tentang MFS 2000 (SSB di Makassar). Tulisan ini saya dapat di blogs/multiply saudara Tomi dan tulisan aslinya terdapat di panyingkul.com.
Saya petikkan tulisan bagus tentang perjuangan seorang anak pengemis di Makassar untuk bisa bergabung dalam klub sepak bola di kotanya. Berkat keuletan dan persahabatannya dengan seorang anak wakil rakyat, anak miskin itu bisa masuk dalam tim inti, turut memenangkan pertandingan Liga Junior di Jakarta dan berkesempatan mencicipi rumput stadion sepak bola di Lyon, Perancis.
Terdengar seperti fiksi? Ini cerita nyata yang ditulis oleh Aan Mansyur, salah satu peserta pelatihan Jurnalisme Orang Biasa yang diselenggarakan oleh Panyingkul, situs yang didedikasikan untuk "merayakan jurnalisme orang biasa" (klik di sini untuk melihat lebih lanjut tentang Panyingkul).
Ini cerita hebat, yang ditulis berkat gagasan hebat untuk "merayakan jurnalisme orang biasa" (aku suka banget dengan frasa ini. Gagah kedengarannya)
Abanda, berpose di depan Biblioholic.
Foto : Basrul Haq
Bola Nasib Abanda
M. Aan Mansyur
“Saya sangat percaya nasib itu bisa berubah, sepanjang kita mau berusaha.”
(Daeng Halimah, nenek Abanda)
SEORANG PEREMPUAN MENDEKAT. Perempuan itu membawa nampan berwarna coklat berisi permen. Ia berjalan anggun mendekati setiap kursi menawarkan permen aneka rasa kepada para penumpang.
"Permen itu gratis," bisik Herli ke telinga kiri Abanda. "Jika kita naik pesawat, kuping akan terasa sakit," tambah Herli. "Maka untuk mengurangi rasa sakit, kita harus mengunyah permen sebanyak-banyaknya."
Saat tiba giliran Abanda, yang duduk dekat jendela, ia mengambil banyak permen. Pramugari yang membawa nampan kecil berisi permen itu membuat senyumnya lebih lebar saat melihat tingkah Abanda. Baginya, mungkin itu sangat menggelikan.
Karena gugup, Abanda lupa mengucapkan terima kasih, seperti yang sering ia lakukan dulu jika ada orang yang menjatuhkan kepingan uang logam di wadah sabun di tangannya.
Abanda kelihatan sungguh tegang duduk di salah satu kursi Merpati Nusantara Airlines, sementara teman-temannya tenang saja. Mungkin mereka sudah terbiasa naik pesawat, begitu pikir Abanda. Di antara 14 anak anggota tim Makassar Football School (MFS) 2000 yang akan berlaga di Liga Danone 2005 di Jakarta, Abanda yakin betul dirinyalah yang paling miskin. Di ruang tunggu, sebelum berangkat, semua anggota tim ditemani orang tuanya yang berpakaian bagus dan menggenggam ponsel mahal, kecuali dirinya. Semua anak lain membawa uang jajan, sementara ia tak membawa uang sepeser pun.
Hari itu, di bawah terik matahari bulan Agustus, Daeng Mantang, ibunya, yang seharusnya mengantar Abanda ke bandara sedang berada di Jalan Mesjid Raya, di sekitar lampu merah.. Neneknya, Daeng Halimah, dan adik-adiknya juga berada di sana, sedang menengadahkan tangannya pada jendela mobil yang terperangkap lampu merah. Sewaktu Abanda dan rombongannya melewati Jalan Mesjid Raya menuju bandara siang itu, ia masih sempat melihat Daeng Halimah dan adik-adiknya di sana masing-masing sedang memegang wadah sabun berwarna biru langit. “Itu nenekku,” kata Abanda pada Herli, sahabatnya, sambil menunjuk Daeng Halimah yang berdiri di trotoar mengamati mobil yang lewat. Bagi Abanda, Herli sudah seperti saudara. Kepada Herli, ia tidak menutupi apapun tentang diri dan keluarganya.
Subuh hari saat pamit, Abanda tidak berani meminta Daeng Halimah dan ibunya menemani ke bandara. Tentu saja tak akan ada yang berani melakukannya, pikir Abanda. Mereka pasti malu memperlihatkan tangan dan kakinya yang aus digerus penyakit kusta.
Sebelum keluar dari pintu rumah kontrakan neneknya yang sempit, Abanda merengkuh tubuh ringkih Daeng Halimah. Abanda bisa merasakan bagaimana tubuh neneknya bergetar menahan rasa haru. Saudara-saudaranya, Melisa, Jule, Fandi, dan Aisyah berdiri mengamatinya dari jarak yang tak bisa ia jangkau, mata mereka basah juga karena haru.
Subuh itu sungguh lain. Dulu, di waktu-waktu seperti itu Daeng Halimah sudah membangunkan Abanda sambil sibuk menyiapkan perlengkapannya, baju tua yang bau dan robek sana-sini, untuk kemudian bersegera berangkat ke tempatnya biasa bekerja. Tetapi tidak subuh itu, Daeng Halimah menemani Abanda menunggu penjemput yang akan membawanya ke Karebosi, di markas MFS berkumpul dengan teman-temannya yang juga akan berangkat ke Jakarta menjemput mimpinya masing-masing.
Hari itu, Daeng Halimah akan terlambat bekerja. Bagi Daeng Halimah, mengemis adalah bekerja. Mengemis adalah satu-satunya pekerjaan bagi nenek dan ibu Abanda. Jika saja nenek dan ibunya bisa melakukan pekerjaan lain, tentu mereka tak akan jadi pengemis. Penyakit kusta menjadi nasib buruk yang tidak memberi banyak pilihan hidup.
***
23 APRIL 1994, Abanda lahir di tengah keluarga berantakan di lokasi yang disediakan pemerintah sejak tahun 1970-an khusus untuk para penderita penyakit kusta di Makassar. Sebelum menikah, Daeng Mantang, ibu Abanda, adalah seorang gadis nakal. Tetangga-tetangga Daeng Mantang tahu hal itu. Abanda pernah bertanya kepada Daeng Mantang tentang tato di lengan kanannya tetapi ia marah dan tidak menjawabnya. Kata Daeng Halimah, sang nenek, dulu Daeng Mantang seorang pemabuk. Sampai nasib buruk kemudian datang pelan-pelan melalui kusta yang memakan jari-jari kaki dan tangan Daeng Mantang, seperti orang-orang tua lainnya di sana.
Kata Daeng Halimah, Abanda sudah jadi pengemis saat usianya belum sebulan. Abanda digendong Melisa, kakaknya yang lima tahun lebih tua, dari satu pintu pete-pete ke pintu pete-pete lainnya menagih simpati orang-orang. Sejak itu, Abanda tak lagi mengenal cuaca. Hujan atau kemarau tak ada bedanya bagi Abanda. Itulah sebabnya kulitnya legam. Gosong terbakar.. Itu jugalah sebabnya teman-temannya di MFS memanggilnya Abanda, meskipun sesungguhnya orang-orang di lingkungan rumahnya memanggilnya Aco dan di daftar hadir sekolah namanya Muhammad Nur. Abanda diambil dari nama mantan pemain Persatuan Sepakbola Makassar (PSM), Abanda Herman. Kulit mereka nyaris sama hitamnya; Abanda anak jalanan yang mimpi jadi pemain bola, Abanda Herman pemain yang dikontrak dari Kamerun.
Abanda adalah anak kedua dari lima bersaudara. Sejak kecil Abanda tinggal bersama Daeng Halimah. Sebenarnya Daeng Halimah adalah tante Daeng Mantang. Tetapi karena tiga suami Daeng Halimah tak bisa memberinya satu pun anak, maka setelah tua ia mengangkat Abanda sebagai anak. Daeng Mantang tak keberatan satu beban hidupnya pindah ke tangan tantenya.
Ibu dan ayah Abanda sering bertengkar. Daeng Mantang boros dan tidak tahu menabung. Rumah milik mereka satu-satunya dijual kemudian mereka mengontrak di sepetak rumah kecil milik tetangganya yang tak layak disebut tempat tinggal. Tempat tinggal para penderita penyakit kusta yang terletak di RT 2 RW 2 Tamalanrea Jaya, Jalan Perintis Kemerdekaan VI itu kini dihimpit oleh pondokan mahasiswa. Sedikit demi sedikit rasa percaya diri orang-orang seperti Daeng Halimah dan orangtua Abanda muncul karena bergaul dengan masyarakat umum. Meskipun tentu tidak semudah yang Abanda bayangkan, banyak orang yang tetap meludah jika melihat tangan dan kaki Daeng Halimah. “Saya selalu berpikir bahwa keluargaku adalah tempat sampah yang penuh nasib buruk,” tutur Abanda dengan mata basah, saat ia menuturkan kehidupan keluarganya.
Setiap hari, sebelum Abanda sekolah, dari pagi hingga pukul 11 malam ia harus bekerja sebagai pengemis di dekat Mesjid Raya yang kini telah dipugar menjadi cantik berkat sumbangan dana 1,5 milyar rupiah dari Wakil Presiden, M. Jusuf Kalla. Setelah sekolah di SD Bung, di depan Kampus Universitas Hasanuddin, Jl. Perintis Kemerdekaan, Abanda hanya bekerja dari sore sampai malam hari. Bubar sekolah, ia harus bergegas menuju tempat di mana Daeng Halimah, Daeng Mantang, dan adik-adiknya mencari kepingan-kepingan uang logam. Ia tak sempat mengganti seragam sekolahnya. Daeng Halimah yang membawa pakaian ganti untuk cucunya di tempat mangkal mereka.
Abanda tak pernah membayangkan dirinya akan bermain bola seperti anak-anak lelaki lainnya yang sering ia lihat sore hari dijemput bapaknya. Di tempat ia mangkal, Abanda sering melihat anak-anak siswa MFS lewat dibonceng ayah mereka pulang seusai latihan melintas di jalan itu. Meskipun ia memang senang bermain bola, masuk MFS adalah sesuatu yang mustahil baginya. Membayar uang pendaftaran lima ratus ribu rupiah dan iuran bulanan dua puluh lima ribu rupiah tentu sangat besar dan berat baginya. Dalam sehari, Abanda hanya bisa mendapatkan uang paling banyak 10 ribu rupiah. Sebagian uang itu ia simpan untuk membayar biaya bulanan sekolahnya. Sebagian lagi untuk neneknya yang harus membayar kredit. Sewaktu jatuh sakit, Daeng Halimah harus meminjam uang tujuh ratus lima puluh ribu rupiah untuk membeli obat. Setelah sembuh, Daeng Halimah harus mengembalikan uang itu tiga kali lipat. Demi membantu meringankan beban Daeng Halimah, Abanda harus terus menjadi pengemis setelah bubar sekolah. “Saya sebenarnya malu mengemis, tetapi utang nenekku banyak,” kata bocah berkulit legam ini.
* * *
DESEMBER 2004, Abanda bersama Herli akhirnya bisa ikut menjadi siswa MFS. Herli tak mau masuk MFS jika Abanda, sahabatnya, juga tak ikut. Abanda tentu tak mungkin mendapatkan uang lima ratus ribu rupiah. Herli membujuk ayahnya, Syamsunia, untuk membiayai Abanda. Syamsunia, salah seorang anggota DPRD Sulsel, menyanggupi permintaan anaknya.
Sewaktu masih SD, Herli dan Abanda memang sudah menjalin persahabatan yang aneh. Herli anak yang berasal dari keluarga yang serba berkecukupan, sementara Abanda seorang pengemis. Bagi Abanda, Herli sangat berjasa memberinya rasa percaya diri untuk bisa bergaul dengan anak-anak lain yang nasibnya lebih beruntung. Abanda tahu banyak teman-temannya memandangnya rendah sebab ia seorang anak jalanan. Seorang pengemis. “Tetapi Herli berbeda dengan teman-teman saya yang lain. Meskipun ia tahu saya seorang pengemis dan keluargaku penderita kusta, ia tetap ingin jadi sahabatku,” kata Abanda tentang Herli.
Saat pertama bergabung di MFS, kecuali Herli, tak ada yang tahu bahwa Abanda seorang pengemis yang sering mangkal di Jalan Mesjid Raya.
Seleksi pertama yang diikuti Abanda dan Herli adalah Liga Danone 2005 di Jakarta. Sebagai anak yang hidupnya keras, Abanda memiliki fisik yang kuat. Ia lolos seleksi, Herli juga. Oleh pelatihnya, Achmad Palallo, Abanda diposisikan sebagai stopper. Postur tubuh yang lebih tinggi daripada teman-temannya, membuatnya cocok berada di posisi itu.
Setelah dinyatakan lulus seleksi, saatnya pemeriksaan data. Pengurus MFS 2000 kemudian tak menemukan data Abanda di antara siswa-siswa lainnya. Diketahui kemudian bahwa Pak Syamsunia memasukkan Abanda ‘lewat jendela’ tanpa perlu membayar uang pendaftaran.
Melihat bakat yang ditunjukkan Abanda, manajer tim MFS, Diza R. Ali, mendekati Abanda yang sedang menangis membayangkan dirinya tidak jadi bermain karena ketahuan tidak terdaftar sebagai siswa. Kepada Diza, Abanda kemudian menceritakan kisah hidupnya. Diza yang dikenal keras tersentuh juga hatinya dan mengijinkan Abanda menjadi siswa MFS sekaligus sebagai anggota tim MFS di Liga Danone 2005.
Abanda senang sekali membayangkan dirinya akan bermain di Jakarta. Ia berjanji akan mempertahankan gawang dari gempuran lawan-lawannya. Abanda dikenal sebagai anak yang ngotot dan keras dalam bermain, meskipun sesungguhnya dalam pergaulan sehari-hari, ia seorang anak yang pemalu.
***
MINGGU SORE, 26 JUNI 2005, di Stadion Brojonegoro Kuningan Jakarta, Abanda dan kawan-kawannya berhasil mengalahkan tim Jawa Timur, Persebaya Junior, di Final Liga Danone Indonesia, dengan skor tipis 1 – 0 lewat gol dari Adi. Kawan-kawan Abanda merayakan kemenangan itu dengan saling merangkul dan kejar-kejaran di lapangan sambil berteriak, “Perancis, kami datang lagi!” Abanda tertunduk bergetar sendiri di depan gawang. Ia tak bisa membayangkan dirinya berada di Perancis mengikuti 2005 World Final Danone Nations Cup Ia dan kawan-kawannya telah diberitahu oleh manajer MFS, Diza Ali, bahwa jika ia menang ia akan pergi ke Perancis, seperti yang pernah dilakukan oleh siswa MFS tahun sebelumnya.
Sekembalinya dari Jakarta, ia semakin terus dibayangi oleh ketidakpercayaannya sendiri bahwa ia akan pergi ke Perancis. Ia bahkan tidak tahu di benua apa Perancis itu berada. Daeng Halimah juga sangat senang mendengar kabar cucunya akan berangkat ke Perancis, apalagi setelah menang di Jakarta, Abanda membawa pulang piala dan uang sebesartiga ratus ribu ribu yang ia bagi-bagi untuk nenek, ibu, dan saudara-saudaranya. Daeng Halimah menangis memeluknya saat ia menyerahkan uang hasil jerih payahnya bermain bola. Kata Daeng Halimah, itulah uang pertama yang diperoleh Abanda yang bukan dari hasil mengemis. Sebenarnya uang itu bukanlah hadiah dari kemenangan tim MFS di piala Danone. Panitia tidak menyediakan uang tunai sebagai hadiah. Kata Diza Ali di Harian Fajar, 28 Juni 2005, uang masing-masing tiga ratus ribu ribu itu sebenarnya adalah bonus yang ia rogoh dari sakunya sendiri.
Hasil yang diperlihatkan oleh Abanda, yang membuat timnya tidak kebobolan satu gol pun, dan kegigihan Abanda ingin jadi pemain bola membuat Diza Ali kemudian mengangkat Abanda sebagai anaknya. Sekembalinya dari Jakarta, Abanda kemudian menjelaskan kepada Daeng Halimah bahwa hidup dan sekolahnya akan dibiayai oleh manajernya. Daeng Halimah tak mungkin menolak nasib baik cucunya itu. Sejak saat itulah Abanda tak pernah lagi mangkal di Jl. Mesjid Raya bersama neneknya.
Setiap hari ia harus keras berlatih menghadapi pertandingan final piala Danone di Lyon, Perancis. Ia tak mau melepaskan mimpinya untuk bisa terbang ke Perancis. Setelah latihan, ia sering berdiri di pagar melihat-lihat para pemain PSM berlatih. Dari sanalah kemudian tumbuh keinginannya untuk menjadi pemain bola profesional yang main di PSM.
Diza Ali menargetkan MFS kali ini masuk lima besar. Tahun sebelumnya di ajang yang sama, mereka hanya berada di posisi 26 dari 32 peserta. Abanda merasa ia juga memiliki tanggung jawab besar itu, masuk lima besar. Ia bahkan berkata pada dirinya sendiri, “MFS harus juara!”
Sabtu, 28 Agustus 2005, dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, rombongan MFS bertolak ke Perancis. Abanda tak bisa memejamkan mata di pesawat. Ia tak bisa meredakan kegembiraan hatinya. Ia mengingat satu per satu wajah orang-orang yang dicintainya; Daeng Halimah, Daeng Mantang, Daeng Kaseng, saudara-saudaranya, dan teman-temannya di Jalan Mesjid Raya dan di lingkungan tempat tinggalnya. Ia tak bisa melupakan pesan neneknya, “Jadilah orang sukses, Nak!”
* * *
LEBIH 11.580 KILOMETER dari Indonesia, di sebuah lapangan basket di Lyon, Perancis, pada tanggal 5 September 2005, Abanda bergoyang bersama bersama anak-anak seusianya dari 32 negara. Abanda tak pernah bisa melupakan peristiwa itu dari kepalanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa betul-betul sebagai anak-anak. Sebelum menjadi siswa MFS dan bermain bola membela negaranya, ia selalu merasa sebagai anak yang terpaksa menjadi dewasa; mencari uang untuk makan dan membiayai sekolahnya sendiri. Di farewell party itu, ia bersenang-senang sebisanya. Ia melupakan semua kegetiran hidup yang selama ini tak mau beranjak darinya.
Meskipun tak bisa memenuhi target masuk lima besar, Abanda sangat senang bisa mengalahkan tim-tim besar seperti Belanda, Italia, Perancis, dan Irlandia. Ia tak bisa melupakan usapan jari, Achmad Palallo, pelatihnya, di kepalanya karena berhasil membawa MFS menjadi tim yang paling sedikit kebobolan gol. Tentu saja Abanda merasa ini adalah buah dari kerja kerasnya.
Sampai kini, Abanda masih bisa dengan lancar menceritakan kegembiraannya pernah bermain di Perancis. Di lingkungan para penderita kusta di tempat tinggalnya, ia dielu-elukan seperti seorang pahlawan yang pulang membawa kemenangan dari medan perang.
Daeng Halimah mengenang kisah kemenangan cucunya itu sebagai kebahagiaan paling besar yang pernah dirasakan keluarganya. Daeng Halimah, sambil melihat jari-jari tangannya yang aus, membanggakan cucunya. Ia berulang-ulang mengatakan, “Saya sangat percaya nasib itu bisa berubah, sepanjang kita mau berusaha.” Sebagai pengemis, Daeng Halimah tak pernah menyesali nasibnya. Seandainya ada orang yang mau menjadikan saya pembantu rumah tangga, tentu saja saya tak mau turun ke jalan, kata Daeng Halimah.
Di atas meja kecil tak bercat di sudut ruang tamu Daeng Halimah, berdiri sebuah piala berwana perak yang diterima Abanda di Perancis. Di atas piala itu, selembar foto Abanda bersama tim MFS lainnya, terpajang tanpa bingkai, di dinding rumah yag kusam itu.
***
SEPULANG DARI SEKOLAH, Selasa 11 April 2006, Abanda makan siang lalu mengganti seragamnya. Sekarang ia tak lagi butuh tergesa-gesa melakukannya. Ia kini tinggal di tempat tinggal ibu angkatnya, Diza R. Ali, di sudut barat-selatan Lapangan Karebosi, di mana kantor MFS berdiri. MFS yang diresmikan oleh Agum Gumelar, Ketua PSSI waktu itu, tanggal 23 Agustus 2000 sekarang menjadi tempat tinggal Abanda. Sebuah kamar kecil di sebelah kanan kamar seorang lelaki tua yang bertugas memotong rumput lapangan MFS, menjadi kamar Abanda. Di kamar itulah Abanda selama ini beristirahat selepas latihan.
Dengan baju seragam bola yang kedodoran berwarna biru berlengan putih bertuliskan Makassar Football School di punggungnya, Abanda memasuki lapangan sambil menenteng bola. Ia sudah tak canggung lagi berjalan bersama siswa-siswa lainnya yang rata-rata anak orang kaya.. Di lapangan ia memimpin teman-temannya berlari-lari, berbelok-belok menggiring bola melewati rintangan yang sudah dipasang oleh pelatihnya. Ia terlihat semakin lihai memainkan bola. Kini setiap hari Abanda harus berlatih mempersiapkan diri untuk ikut kembali berlaga di Liga Danone di Jakarta. Ia sangat berharap tahun ini timnya kembali bisa terbang ke Perancis dan menjadi juara. Dalam bermain bola, bocah legam itu selalu meniru gaya bertahan Rio Ferdinand, pemain Manchester United yang diidolakannya.
Abanda memang beruntung. Dari 400 lebih siswa MFS saat ini, ia terpilih kembali memperkuat MFS di Liga Danone.
Kini ia berkonsentrasi untuk latihan, ia tak perlu lagi turun ke jalan mencari uang untuk makan dan membiayai sekolahnya. Oleh ibu angkatnya, ia disekolahkan di SMP Nasional Makassar, di Jl. Ratulangi. Sekarang ia masih duduk di kelas 1, kelas 1 A.
Seusai latihan, Abanda masuk ke kamarnya mengambil handuk lalu mandi. Setelah itu ia harus menyelesaikan tugas dari sekolah yang harus ia kumpulkan besok harinya.
* * *
SELEPAS MAGRIB, SELASA, 11 April 2006, Daeng Halimah masih terlihat berjalan di antara pete-pete di Jl. Mesjid Raya. Sementara itu, Daeng Mantang dan suaminya, Daeng Kaseng, menikmati makan malam sambil menunggui gardu kecilnya yang belum lama mereka dirikan di rumah kontrakan mereka, di antara rumah-rumah para penderita kusta lainnya. Gardu kecil itu mereka bangun dari uang yang dipinjam dari tetangganya dengan bunga hampir tiga kali lipat dari nilai pinjaman.
Malam itu, Aisyah, adik bungsu Abanda sedang menengadahkan tangannya di lampu merah di Jalan Perintis Kemerdekaan, di sekitar Pintu II Universitas Hasanuddin, di jalan masuk Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Belum sebulan ia pindah ke tempat mangkal yang baru itu. Melisa, kakak Abanda yang telah menikah dengan seorang lelaki pemabuk dan kemudian bercerai, sedang berada di kamarnya berusaha menidurkan anaknya yang tak lagi memiliki ayah. Melisa dan suaminya bercerai dua bulan setelah anak mereka lahir.
Sementara di salah satu sudut Karebosi, Abanda baru saja menyelesaikan rutinitas latihannya. Setiap hari ia berlatih penuh semangat, demi untuk mewujudkan impiannya: menjadi pemain bola yang hebat dan membahagiakan keluarganya. (p!)
Setelah selesai makan dan sekilas melihat beberapa kedai, kami langsung menuju ke motor untuk pulang. Nad yang diboncengi aku, siap dengan tiket parking dan wang untuk bayarannya. Sudah menjadi tradisi kami siapa yang dibonceng, dialah yang membayar tiket. Untuk menghargai orang yang membawa motor dan minyaknya sekalian mungkin. Daripada 3 pos pembayaran tiket, hanya 2 pos yang kami lihat motor lain beratur untuk membayar. “Yazid, amik line paling kiri tu, takde motor beratur!”. Tanpa berfikir panjang dan daripada beratur panjang, aku terus masuk ke pos pembayaran yang Nad maksudkan tadi. Aku langsung tersenyum setelah melihat kelibat di samping pos tersebut. “Patutla takde orang nak beratur kat sini, ada anak jalanan (pengemis kanak-kanak) rupanya. “ Bisik Nad. Motor aku berhenti bersebelahan dengan pos pembayaran. Sementara Nad sibuk bertransaksi, aku melihat telatah anak-anak kecil tersebut. Ada 2 orang, adik beradik mungkin. Sekitar umur 6-7 tahun dugaanku. Muka dan tangan mereka hitam dek dibakar matahari, pasti sudah bertahun-tahun lamanya. Corengan di muka dan pakaian lusuh mereka menambahkan kesayuan siapapun melihat keadaan mereka. Biasanya jika ada motor yang berhenti untuk membayar, mereka mula membinarkan mata dan memberikan ekspresi paling sedih yang termampu mereka tunjukkan demi meraih simpati dan mudah-mudahan, sedikit wang recehan dari orang lain yang lebih bernasib baik. Tetapi kali ini mereka tidak begitu. Salah seorang dari mereka sambil memegang tayar motorku, berkata kepada yang satunya lagi. “Motor seperti ini yang aku mahu beli nanti. Motor racing!”. Sungguh-sungguh dia cuba meyakinkan kata-katanya. Saudaranya tadi sibuk membelek motorku, sepertinya sudah termakan dengan kata-katanya. Aku hanya tersenyum melihat gelagat anak-anak berdua tersebut. Aku bisikkan kesedihan dalam hatiku. Betapa impian mereka masih jauh untuk digapai. Sedangkan sesuap nasi untuk esok harinya saja belum tentu ada. Aku mencela diriku yang selalu lupa untuk bersyukur.
“Opss!!” Wang kembalian dari pos bayaran parking tadi tidak semuanya erat di tangan Nad. Sehelai not seribu rupiah (40sen) perlahan jatuh ke samping motor. Aku yang merunduk untuk mencapai wang tersebut rupanya sudah didahului oleh tangan anak kecil yang comot tadi. Mata kami bertemu, saling berpandangan. Di tangan anak kecil itu tersemat kemas not seribu tadi. Dia tersenyum dan sambil melihatku, tangannya menghulurkan wang tadi kepadaku. Aku terdiam sebentar. Tanganku perlahan mencapai hujung not tersebut yang masih di tangannya. “Takpe, bagi je.” Tiba-tiba Nad bersuara dari belakang. Aku membalas senyumannya. Not tersebut kembali ke tangannya semula. “Terima kasih ya”. Ujarnya sambil tersenyum. Kamipun berlalu pergi.
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan bagaimana jika aku berada dalam keadaan seperti mereka. Tidak tentu makan dan minum hari ini, apatah lagi esok. Aku yang sudah dapat makan saja sudah banyak mengeluh. Sudah pasti mereka juga tidak bersekolah. Rumahnya entah diselokan kumuh yang mana. Itupun kalau ada. Kebanyakan mereka hanya berbumbungkan langit dan berselimutkan angin malam. Terbakar dek bahang panas matahari dan menciut dalam kedinginan hujan. Tempat permainan mereka ada disetiap ruas jalanan dan mimpi-mimpi mereka hanya mahu didengari Tuhan. Sekilas, sungguh tidak adil rasanya aturan dunia ini. Siapakah kita untuk menafikan hak mereka untuk sama menikmati kehidupan? Kenapa nasib mereka tidak sebagus kita? atau setidaknya layak untuk hidup dalam erti yang sebenarnya? Maha Suci Allah yang menjadikan tiap-tiap dari makhlukNya dalam sebaik-baik keadaan. Dia menciptakan seluruh manusia dengan peluang yang sama besar, cuma manusia yang sering mengikis kesempatan saudaranya. Besar atau kecilnya rezeki seseorang bukanlah urusan kita untuk menentukannya. Walaupun semuanya telah tertulis di Lauh Mahfuz, belum pernah ada yang pasti dengan rezekinya sehinggalah dia kembali kepadaNya. Aku bersyukur kerana hari itu aku telah diberi pengajaran. Pengajaran dari seorang pengemis. Pengajaran dari tangannya yang menghulurkan wang dan tanganku yang menerimanya. Sungguh, tidak ada orang yang mahu menadahkan tangan demi memanjangkan usia hidupnya. Kitalah yang selalu memaksa mereka, sama ada kita sedari ataupun tidak. Dunia tanpa kemiskinan itu tidak mustahil, jika kemiskinan dalam hati manusia dapat kita sirnakan.
90% kekayaan bumi dikuasai oleh 1% penduduknya.
Anak adalah masa depan keluarga dan bangsa. Itu sebabnya, semua orang tua berharap anak-anaknya bisa mengangkat harkat dan martabat keluarganya dan keluar dari himpitan ekonomi.
Namun apa jadinya bila ada anak-anak yang sejak kecil berada di jalanan dan menjadi pengemis kemudian menjadi penjaja seks komersial (PSK) saat mereka beranjak remaja/dewasa? Hal seperti ini dapat dijumpai Kota Makassar, Sulsel.
Beberapa anak jalanan yang dahulu menjadi pengemis pada sudut-sudut perampatan jalan yang ada lampu lalulintas di sepanjang jalan Sungai Saddang, kini tidak berada lagi di tempat itu untuk menadahkan tangan meminta-minta kepda pengendara.
Berbekal gincu, bedak, kondom dan tubuh yang ‘aduhai,’ sekitar pukul 23.00, anak-anak yang baru beranjak remaja itu terlihat berdiri di bawah naungan pohon besar (remang-remang) sambil melambaikan tangannya kepada sejumlah pengendara yang melintas di depan mereka.
Tidak sedikit kendaraan yang merespon lambaian tangan itu. Saat kendaraan itu berhenti, si ABG (anak baru gede) ini akan segera berlari mendekati kendaraan tersebut dan tak lama kemudian, ABG tersebut sudah berada di mobil dan melaju ke suatu tempat, entah kemana. Yang jelas, si ABG tersebut telah menemukan mangsanya.
Menurut pengakuan Adrian (20) yang dahulu banyak menghabiskan masa kecilnya di jalan untuk mencari sesuap nasi, beberapa teman-temannya terutama anak jalanan perempuan kini telah menjadi PSK.
Mereka terpaksa menempuh jalan tersebut karena tidak memiliki keterampilan lain untuk mencari pekerjaan, sementara mereka sendiri mengaku merasa malu bila tetap berada di persimpangan jalan dengan mengenakan pakaian compang-camping sambil membawa kotak kecil dan menyodorkannya kepada sejumlah pengendara jalan raya.
“Kalau tidak begini, kami mau cari uang dimana dan mau makan apa?” jelas seorang gadis berumur 15 tahun yang enggan menyebutkan namanya.
Yang jelas, katanya, apa yang dilakukannya itu tidak ditentang orang tuanya, justru orang tuanya merasa senang karena diberi uang dari hasil kerjaannya itu. Sayangnya, ia tidak mau menyebutkan jumlah pendapatan yang diperolehnya dari hasil kencan dengan pria hidung belang dan segera berlalu seolah tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk mencari korban-korban penikmat seks lainnya.
Transisi pekerjaan anak jalanan menjadi PSK ini diakui Nuryanto, pendamping anak jalanan yang telah bertahun-tahun bersama mereka.
“Umumnya, anak jalanan yang telah memasuki usia SMP merasa malu berada lagi di jalanan dan memilih untuk berada di pinggir-pinggir jalan yang remang-remang,” jelasnya.
Meski demikian, katanya, di Makassar belum ditemukan ada anak yang menjadi korban phedofelis seperti yang terjadi pada beberapa kota besar di Indonesia. “Beberapa ABG yang kini terjun ke ‘lembah hitam’ itu kemungkinan mereka yang kerap menjadi korban perilaku seksual saat berada di jalanan,” tambahnya.
Kapolwiltabes Makassar, Kombes Pol. Nurman Thahir mengatakan, hingga saat ini, pihaknya belum menemukan adanya kasus pelecehan yang dialami anak-anak jalanan.
“Mungkin ada diantara mereka yang menjadi korban pelecehan seksual namun mereka tidak berani melaporkannya kepada polisi,” kata Nurman yang mengaku prihatin dengan kondisi anak-anak jalanan di kota ini.
Yang jelas, katanya, aparat kepolisian akan melakukan tindakan tegas terhadap anak-anak jalanan bila mereka bertindak kriminal. Nurman juga berharap agar pemerintah setempat segera melakukan razia terhadap anak-anak jalanan yang dinilai bisa mengancam masa depannya dan mengganggu warga, khususnya pengguna jalan raya.
Sodomi Seorang anak jalanan yang sering mengamen di beberapa sudut jalan , Andi (13) mengaku nyaris menjadi korban sodomi saat salah seorang anak muda meminta dilayani dengan imbalan sejumlah uang.
Namun beruntung, hal tersebut tidak terjadi sebab Andi segera melarikan diri setelah menerima uang pemberian dari lelaki yang diketahui adalah seorang pengamen itu.
“Saya langsung lari ketika dia mengajak ke suatu tempat dan menyuruh saya untuk melayaninya,” ungkap Andi yang sering mengemis dan mengamen di perempatan lampu merah Jalan Mesjid Raya dan Jl. Andalas ini.
Perilaku seperti itu, menurut siswa SMP PGRI Makassar ini, sering dialami namun tidak membuatnya jera untuk terus mencari sesuap nasi di pinggir jalan. Sepulang sekolah, Andi yang orang tuanya berprofesi sebagai tukang becak ini langsung menjalankan aksinya sebagai pengamen di pinggir jalan di sudut lampu merah.
“Kalau malam minggu, saya biasa mengamen di Pantai Losari tetapi saya takut ke sana lagi karena banyak anak muda yang mau mengajak berbuat begituan (sodomi-red),” ujarnya.
Selain ancaman pelecehan seksual, Andi juga mengaku kerap mendapatkan perilaku kekerasan dari beberapa preman. Dirinya sering dipukul dengan menggunakan rotan bila tidak menyerahkan hasil setoran mengamen atau tidak bekerja selama beberapa hari.
Berbeda halnya yang dialami Yanti (11), siswa kelas V SD Maradekaya I Makassar yang juga kerap mendapatkan tindak kekerasan dari orang tuanya dan sering mengalami pelecehan seks. Menurut pengakuannya, beberapa pengendara yang berhenti di jalan bersaha mengajaknya ke suatu tempat setelah diiming-iming akan diberikan uang Rp100.000. Namun ia menolaknya dan segera lari setelah menghempaskan tangan si pengendara yang mulai menggeranyangi tubuhnya.
Ibu Yanti, Hasmiati (35) mengaku terpaksa menyuruh anaknya tetap berada di jalan agar bisa memenuhi kehidupan keluarganya dan seolah tidak risau dengan ancaman kekerasan seksual yang dihadapi puterinya itu.
“Kalau tidak begitu, kita mau makan apa?” tutur ibu beranak empat ini yang sering mengawasi aktivitas anak-anaknya di jalan. Keempat anaknya itu diperintahkan untuk mencari uang di jalan, tidak terkecuali dengan anaknya yang baru berumur tujuh bulan.
Sementara dari penghasilan yang diperoleh ke-empat anaknya ini, dia telah memiliki dua sepeda motor bahkan hasil pendapatan anaknya itu digunakan untuk bermain judi.
Prihatin Sejumlah LSM, legislatif dan eksekutif mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami anak-anak jalanan ini, namun segala upaya yang telah dilakukan berbagai elemen masyarakat, tidak cukup membantu bahkan jumlah anak jalanan di kota “anging mammiri” ini semakin bertambah banyak.
Bahkan Lembaga Perlidungan Anak (LPA) Sulsel mengaku mengalami kesulitan untuk memberikan perlindungan hukum kepada anak-anak jalanan yang kerap mendapatkan perilaku pelecehan seksual dan tindak kekerasan, sebab mereka tidak berani melaporkan kejadian tersebut.
Selama ini, kata Ketua LPA Sulsel, Mappinawang, pihaknya hanya menangani atau memberikan perlindungan kepada anak jalanan yang terlibat maslaah hukum, anak-anak yang diperdagangkan atau mengalami pelecehan seksual dan adanya mobilisasi anak-anak jalanan.
“Anak peru dilindungi karena mereka memiliki empat hak, seperti hak untuk hidup, tumbuh kembang, berpartisipasi dan mendapatkan perlindungan hukum seperti yang tertuang dalam UU Pelrindungan Anak Nomor 3/1997,” jelasnya.
Perlindungan hukum terhadap anak jalanan ini, tidak hanya berlaku terhadap anjal perempuan, tetapi juga kepada anjal laki-laki yang kerap mengalami pelecehan seksual. Sebab itu, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penyisiran terhadap sejumlah anak jalanan.
Anggota DPRD Makassar, Syamsu Niang pun mengaku prihatin dengan kondisi anak jalanan yang dihadapi. Dia meminta kepada pemerintah setempat untuk segera menertibkan anak-anak jalanan.
Pasalnya, kalau hal tersebut dibiarkan, anak-anak tersebut tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga merugikan dirinya sendiri. “Penanganan anak-anak jalanan ini khan sudah dianggarkan dalam APBD Makassar,” jelas anggota komisi C DPRD Makassar yang membidangi kesejahteraan ini.
Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin sendiri mengaku bahwa pihaknya telah menghabiskan APBD 2005 senilai ratusan juta untuk membina keterampilan kepada anak-anak jalanan dan orang tuanya itu. “Kami sudah memberikan bantuan kepada ratusan KK kurang mampu, masing-masing KK diberikan santunan sekitar Rp3 juta belum termasuk bantuan peralatan masak dan sarana pembuatan kue yang bisa digunakan untuk membuka usaha kecil,” jelas Ilham.
Namun sayang, upaya pemerintah ini belum berhasil untuk meminimalisir jumlah anak-anak yang berada di jalan. Para orang tua malah menyuruh anak-anak mereka untuk mencari uang dengan alasan bahwa bantuan berupa uang yang diberikan pemerintah Kota Makassar sudah habis.
Sehingga salah satu alternatif yang dianggap paling jitu untuk menyingkirkan anak dari jalanan adalah tidak memberikan uang kepada mereka.
Kadis Sosial Makassar, Ibrahim Saleh bertekad tahun 2007, Makassar sudah bebas anjal. Pihaknya mempersiapkan beberapa langkah untuk mengatasai anak jalanan dan pengemis. Misalnya dengan mensinkronkan program Pemerintah Kota, Pemerintah Provinsi dan ’stakeholder’ untuk melakukan penertiban secara terpadu. ”Pokoknya, kita targetkan tahun 2007 mendatang, Kota Makassar sudah bebas dari pengemis dan anak jalanan,” tegas Ibrahim.
Selain melakukan penertiban, Dinsos Makassar juga akan memberdayakan ekonomi keluarga mereka. “Dengan diberdayakannya ekonomi mereka, maka tidak akan ada lagi alasan bagi mereka untuk turun ke jalan meminta-minta,” kata Ibrahim.
Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Makassar, sebanyak 718 orang yang berasal dari 502 kepala keluarga (KK) tergolong anak yang bekerja di jalan. Dari jumlah ini, sekitar 337 orang anak beroperasi di pusat kegiatan ekonomi, 109 orang anak pemulung dan 272 orang anak pengemis yang beroperasi dari rumah ke rumah.
Sedangkan anak yang betul-betul tergolong sebagai anak jalanan dan hidup di jalan mencapai 230 orang yang berasal dari 146 kepala keluarga (KK). Dari jumlah ini, sekitar 199 orang diantaranya berasal dari keluarga fakir miskin dan 31 orang anak dari penyandang eks penyakit kronis.
Sulitnya mengatasi anak-anak jalanan ini diakui pula Ketua Forum Pendamping Anak Kota Makassar, Nuryanto. Pasalnya, sejumlah anak-anak yang terjaring dalam razia yang kemudian dimasukkan dalam tempat tertentu untuk diberikan pembinaan dan keterampilan lainnya, tidak bisa menjamin anak-anak itu tidak akan kembali lagi ke jalan.
Apalagi katanya, dukungan orang tua yang mendorong anaknya untuk tetap kembali ke jalan sangat besar Pengaruhnya. Sebab lanjut Nuryanto, mayoritas para orang tua anak jalanan (anjal) memiliki prinsip untuk mengajar anak mereka hidup mandiri (bekerja) meski dengan cara meminta-minta di jalan. “Kalau mereka sudah kehabisan modal/subisidi yang diberikan pemerintah, tentu akan kembali ke jalan lagi sebab mereka berpikir bahwa mencari uang di jalan itu lebih mudah dan hasilnya banyak,” jelas anggota divisi pelayanan advokasi anak Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel ini.
Padahal kata Nuryanto, Rumah Sosial Perlidungan Anak (RSPA) yang dahulu bernama rumah singgah banyak melakukan pembinaan kepada anak-anak jalanan. Mereka diberikan pula pendidikan informal dan penanaman nilai-nilai hidup.
Sebab itu katanya, dalam upaya pemberdayaan anak, pihaknya juga meminta kepada pemerintah untuk tidak melakukan razia terhadap anak-anak jalanan tetapi kepada orang tua mereka yang setia mengawasi anak-anaknya di jalan.
“Semua itu tergantung pada orang tua mereka masing-masing, sebab merekalah yang memiliki peran penting dan penentu kebijakan, apakah anak-anaknya dibiarkan untuk tetap hidup di jalan atau tidak,” kata Nuryanto.
Untuk 2010 ini, ia belum bisa memberi penjelasan mengenai bentuk penanganan pengemis. Ia berkelit sedang melakukan kajian. "Nanti saya rumuskan lebih detail lagi," katanya.
Anggota Komisi Kesejahtaraan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah Makassar, Ikbal Djalil menilai tentu ada sebab sehingga pengemis tidak ingin pulang kampung, misalnya mereka tidak punya penghasilan di daerahnya dan selalu dikucilkan. Disinilah peran pemerintah, kata dia, menelorkan solusi jitu untuk kehidupan bekas penderita kusta ini.
Ia menawarkan agar pemerintah memberikan keterampilan dan modal terhadap mereka, supaya keinginan untuk mengemis tidak ada lagi. Pemerintah juga perlu memperkuat koneksi hingga ke daerah asal para pengemis, supaya ada tanggungjawab pemerintah daerah untuk mengawasi mereka. "Administrasi kependudukan juga diperketat, supaya laju urbanisasi bisa dikontrol dengan baik," katanya.
Maraknya pengemis di Makassar sudah menjadi fenomena yang selalu disoroti berbagai pihak setiap tahunnya, pemerintah telah mebuat regulasi yang cukup banyak untuk menangani mereka. Diantaranya pembuatan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang penanggulangan pengemis dan anak jalanan. Namun aturan yang memberi sanksi kurungan penjara bagi pengemis yang berkeliaran di kota itu tersebut sulit diterapkan dengan baik. "Memang masih cukup kurang realisasinya," kata Ibrahim.
Saat ini pengemis bekas penderita kusta di Makassar berkeliaran hampir diseluruh ruas jalan dan pusat keramaian. Mereka mudah ditemui di Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan Balai Kota, Jalan Ahmad Yani. Selan itu mereka sering memasuki tempat wisata seperti Pantai Losari, kemudian warung makan dan kafe.
Kisah Anak Pengemis yang Menjadi Anggota Skuad MFS 2000 Makassar
Kisah/cerita ini saya dapat waktu search di google tentang MFS 2000 (SSB di Makassar). Tulisan ini saya dapat di blogs/multiply saudara Tomi dan tulisan aslinya terdapat di panyingkul.com.
Saya petikkan tulisan bagus tentang perjuangan seorang anak pengemis di Makassar untuk bisa bergabung dalam klub sepak bola di kotanya. Berkat keuletan dan persahabatannya dengan seorang anak wakil rakyat, anak miskin itu bisa masuk dalam tim inti, turut memenangkan pertandingan Liga Junior di Jakarta dan berkesempatan mencicipi rumput stadion sepak bola di Lyon, Perancis.
Terdengar seperti fiksi? Ini cerita nyata yang ditulis oleh Aan Mansyur, salah satu peserta pelatihan Jurnalisme Orang Biasa yang diselenggarakan oleh Panyingkul, situs yang didedikasikan untuk "merayakan jurnalisme orang biasa" (klik di sini untuk melihat lebih lanjut tentang Panyingkul).
Ini cerita hebat, yang ditulis berkat gagasan hebat untuk "merayakan jurnalisme orang biasa" (aku suka banget dengan frasa ini. Gagah kedengarannya)
Abanda, berpose di depan Biblioholic.
Foto : Basrul Haq
Bola Nasib Abanda
M. Aan Mansyur
“Saya sangat percaya nasib itu bisa berubah, sepanjang kita mau berusaha.”
(Daeng Halimah, nenek Abanda)
SEORANG PEREMPUAN MENDEKAT. Perempuan itu membawa nampan berwarna coklat berisi permen. Ia berjalan anggun mendekati setiap kursi menawarkan permen aneka rasa kepada para penumpang.
"Permen itu gratis," bisik Herli ke telinga kiri Abanda. "Jika kita naik pesawat, kuping akan terasa sakit," tambah Herli. "Maka untuk mengurangi rasa sakit, kita harus mengunyah permen sebanyak-banyaknya."
Saat tiba giliran Abanda, yang duduk dekat jendela, ia mengambil banyak permen. Pramugari yang membawa nampan kecil berisi permen itu membuat senyumnya lebih lebar saat melihat tingkah Abanda. Baginya, mungkin itu sangat menggelikan.
Karena gugup, Abanda lupa mengucapkan terima kasih, seperti yang sering ia lakukan dulu jika ada orang yang menjatuhkan kepingan uang logam di wadah sabun di tangannya.
Abanda kelihatan sungguh tegang duduk di salah satu kursi Merpati Nusantara Airlines, sementara teman-temannya tenang saja. Mungkin mereka sudah terbiasa naik pesawat, begitu pikir Abanda. Di antara 14 anak anggota tim Makassar Football School (MFS) 2000 yang akan berlaga di Liga Danone 2005 di Jakarta, Abanda yakin betul dirinyalah yang paling miskin. Di ruang tunggu, sebelum berangkat, semua anggota tim ditemani orang tuanya yang berpakaian bagus dan menggenggam ponsel mahal, kecuali dirinya. Semua anak lain membawa uang jajan, sementara ia tak membawa uang sepeser pun.
Hari itu, di bawah terik matahari bulan Agustus, Daeng Mantang, ibunya, yang seharusnya mengantar Abanda ke bandara sedang berada di Jalan Mesjid Raya, di sekitar lampu merah.. Neneknya, Daeng Halimah, dan adik-adiknya juga berada di sana, sedang menengadahkan tangannya pada jendela mobil yang terperangkap lampu merah. Sewaktu Abanda dan rombongannya melewati Jalan Mesjid Raya menuju bandara siang itu, ia masih sempat melihat Daeng Halimah dan adik-adiknya di sana masing-masing sedang memegang wadah sabun berwarna biru langit. “Itu nenekku,” kata Abanda pada Herli, sahabatnya, sambil menunjuk Daeng Halimah yang berdiri di trotoar mengamati mobil yang lewat. Bagi Abanda, Herli sudah seperti saudara. Kepada Herli, ia tidak menutupi apapun tentang diri dan keluarganya.
Subuh hari saat pamit, Abanda tidak berani meminta Daeng Halimah dan ibunya menemani ke bandara. Tentu saja tak akan ada yang berani melakukannya, pikir Abanda. Mereka pasti malu memperlihatkan tangan dan kakinya yang aus digerus penyakit kusta.
Sebelum keluar dari pintu rumah kontrakan neneknya yang sempit, Abanda merengkuh tubuh ringkih Daeng Halimah. Abanda bisa merasakan bagaimana tubuh neneknya bergetar menahan rasa haru. Saudara-saudaranya, Melisa, Jule, Fandi, dan Aisyah berdiri mengamatinya dari jarak yang tak bisa ia jangkau, mata mereka basah juga karena haru.
Subuh itu sungguh lain. Dulu, di waktu-waktu seperti itu Daeng Halimah sudah membangunkan Abanda sambil sibuk menyiapkan perlengkapannya, baju tua yang bau dan robek sana-sini, untuk kemudian bersegera berangkat ke tempatnya biasa bekerja. Tetapi tidak subuh itu, Daeng Halimah menemani Abanda menunggu penjemput yang akan membawanya ke Karebosi, di markas MFS berkumpul dengan teman-temannya yang juga akan berangkat ke Jakarta menjemput mimpinya masing-masing.
Hari itu, Daeng Halimah akan terlambat bekerja. Bagi Daeng Halimah, mengemis adalah bekerja. Mengemis adalah satu-satunya pekerjaan bagi nenek dan ibu Abanda. Jika saja nenek dan ibunya bisa melakukan pekerjaan lain, tentu mereka tak akan jadi pengemis. Penyakit kusta menjadi nasib buruk yang tidak memberi banyak pilihan hidup.
***
23 APRIL 1994, Abanda lahir di tengah keluarga berantakan di lokasi yang disediakan pemerintah sejak tahun 1970-an khusus untuk para penderita penyakit kusta di Makassar. Sebelum menikah, Daeng Mantang, ibu Abanda, adalah seorang gadis nakal. Tetangga-tetangga Daeng Mantang tahu hal itu. Abanda pernah bertanya kepada Daeng Mantang tentang tato di lengan kanannya tetapi ia marah dan tidak menjawabnya. Kata Daeng Halimah, sang nenek, dulu Daeng Mantang seorang pemabuk. Sampai nasib buruk kemudian datang pelan-pelan melalui kusta yang memakan jari-jari kaki dan tangan Daeng Mantang, seperti orang-orang tua lainnya di sana.
Kata Daeng Halimah, Abanda sudah jadi pengemis saat usianya belum sebulan. Abanda digendong Melisa, kakaknya yang lima tahun lebih tua, dari satu pintu pete-pete ke pintu pete-pete lainnya menagih simpati orang-orang. Sejak itu, Abanda tak lagi mengenal cuaca. Hujan atau kemarau tak ada bedanya bagi Abanda. Itulah sebabnya kulitnya legam. Gosong terbakar.. Itu jugalah sebabnya teman-temannya di MFS memanggilnya Abanda, meskipun sesungguhnya orang-orang di lingkungan rumahnya memanggilnya Aco dan di daftar hadir sekolah namanya Muhammad Nur. Abanda diambil dari nama mantan pemain Persatuan Sepakbola Makassar (PSM), Abanda Herman. Kulit mereka nyaris sama hitamnya; Abanda anak jalanan yang mimpi jadi pemain bola, Abanda Herman pemain yang dikontrak dari Kamerun.
Abanda adalah anak kedua dari lima bersaudara. Sejak kecil Abanda tinggal bersama Daeng Halimah. Sebenarnya Daeng Halimah adalah tante Daeng Mantang. Tetapi karena tiga suami Daeng Halimah tak bisa memberinya satu pun anak, maka setelah tua ia mengangkat Abanda sebagai anak. Daeng Mantang tak keberatan satu beban hidupnya pindah ke tangan tantenya.
Ibu dan ayah Abanda sering bertengkar. Daeng Mantang boros dan tidak tahu menabung. Rumah milik mereka satu-satunya dijual kemudian mereka mengontrak di sepetak rumah kecil milik tetangganya yang tak layak disebut tempat tinggal. Tempat tinggal para penderita penyakit kusta yang terletak di RT 2 RW 2 Tamalanrea Jaya, Jalan Perintis Kemerdekaan VI itu kini dihimpit oleh pondokan mahasiswa. Sedikit demi sedikit rasa percaya diri orang-orang seperti Daeng Halimah dan orangtua Abanda muncul karena bergaul dengan masyarakat umum. Meskipun tentu tidak semudah yang Abanda bayangkan, banyak orang yang tetap meludah jika melihat tangan dan kaki Daeng Halimah. “Saya selalu berpikir bahwa keluargaku adalah tempat sampah yang penuh nasib buruk,” tutur Abanda dengan mata basah, saat ia menuturkan kehidupan keluarganya.
Setiap hari, sebelum Abanda sekolah, dari pagi hingga pukul 11 malam ia harus bekerja sebagai pengemis di dekat Mesjid Raya yang kini telah dipugar menjadi cantik berkat sumbangan dana 1,5 milyar rupiah dari Wakil Presiden, M. Jusuf Kalla. Setelah sekolah di SD Bung, di depan Kampus Universitas Hasanuddin, Jl. Perintis Kemerdekaan, Abanda hanya bekerja dari sore sampai malam hari. Bubar sekolah, ia harus bergegas menuju tempat di mana Daeng Halimah, Daeng Mantang, dan adik-adiknya mencari kepingan-kepingan uang logam. Ia tak sempat mengganti seragam sekolahnya. Daeng Halimah yang membawa pakaian ganti untuk cucunya di tempat mangkal mereka.
Abanda tak pernah membayangkan dirinya akan bermain bola seperti anak-anak lelaki lainnya yang sering ia lihat sore hari dijemput bapaknya. Di tempat ia mangkal, Abanda sering melihat anak-anak siswa MFS lewat dibonceng ayah mereka pulang seusai latihan melintas di jalan itu. Meskipun ia memang senang bermain bola, masuk MFS adalah sesuatu yang mustahil baginya. Membayar uang pendaftaran lima ratus ribu rupiah dan iuran bulanan dua puluh lima ribu rupiah tentu sangat besar dan berat baginya. Dalam sehari, Abanda hanya bisa mendapatkan uang paling banyak 10 ribu rupiah. Sebagian uang itu ia simpan untuk membayar biaya bulanan sekolahnya. Sebagian lagi untuk neneknya yang harus membayar kredit. Sewaktu jatuh sakit, Daeng Halimah harus meminjam uang tujuh ratus lima puluh ribu rupiah untuk membeli obat. Setelah sembuh, Daeng Halimah harus mengembalikan uang itu tiga kali lipat. Demi membantu meringankan beban Daeng Halimah, Abanda harus terus menjadi pengemis setelah bubar sekolah. “Saya sebenarnya malu mengemis, tetapi utang nenekku banyak,” kata bocah berkulit legam ini.
* * *
DESEMBER 2004, Abanda bersama Herli akhirnya bisa ikut menjadi siswa MFS. Herli tak mau masuk MFS jika Abanda, sahabatnya, juga tak ikut. Abanda tentu tak mungkin mendapatkan uang lima ratus ribu rupiah. Herli membujuk ayahnya, Syamsunia, untuk membiayai Abanda. Syamsunia, salah seorang anggota DPRD Sulsel, menyanggupi permintaan anaknya.
Sewaktu masih SD, Herli dan Abanda memang sudah menjalin persahabatan yang aneh. Herli anak yang berasal dari keluarga yang serba berkecukupan, sementara Abanda seorang pengemis. Bagi Abanda, Herli sangat berjasa memberinya rasa percaya diri untuk bisa bergaul dengan anak-anak lain yang nasibnya lebih beruntung. Abanda tahu banyak teman-temannya memandangnya rendah sebab ia seorang anak jalanan. Seorang pengemis. “Tetapi Herli berbeda dengan teman-teman saya yang lain. Meskipun ia tahu saya seorang pengemis dan keluargaku penderita kusta, ia tetap ingin jadi sahabatku,” kata Abanda tentang Herli.
Saat pertama bergabung di MFS, kecuali Herli, tak ada yang tahu bahwa Abanda seorang pengemis yang sering mangkal di Jalan Mesjid Raya.
Seleksi pertama yang diikuti Abanda dan Herli adalah Liga Danone 2005 di Jakarta. Sebagai anak yang hidupnya keras, Abanda memiliki fisik yang kuat. Ia lolos seleksi, Herli juga. Oleh pelatihnya, Achmad Palallo, Abanda diposisikan sebagai stopper. Postur tubuh yang lebih tinggi daripada teman-temannya, membuatnya cocok berada di posisi itu.
Setelah dinyatakan lulus seleksi, saatnya pemeriksaan data. Pengurus MFS 2000 kemudian tak menemukan data Abanda di antara siswa-siswa lainnya. Diketahui kemudian bahwa Pak Syamsunia memasukkan Abanda ‘lewat jendela’ tanpa perlu membayar uang pendaftaran.
Melihat bakat yang ditunjukkan Abanda, manajer tim MFS, Diza R. Ali, mendekati Abanda yang sedang menangis membayangkan dirinya tidak jadi bermain karena ketahuan tidak terdaftar sebagai siswa. Kepada Diza, Abanda kemudian menceritakan kisah hidupnya. Diza yang dikenal keras tersentuh juga hatinya dan mengijinkan Abanda menjadi siswa MFS sekaligus sebagai anggota tim MFS di Liga Danone 2005.
Abanda senang sekali membayangkan dirinya akan bermain di Jakarta. Ia berjanji akan mempertahankan gawang dari gempuran lawan-lawannya. Abanda dikenal sebagai anak yang ngotot dan keras dalam bermain, meskipun sesungguhnya dalam pergaulan sehari-hari, ia seorang anak yang pemalu.
***
MINGGU SORE, 26 JUNI 2005, di Stadion Brojonegoro Kuningan Jakarta, Abanda dan kawan-kawannya berhasil mengalahkan tim Jawa Timur, Persebaya Junior, di Final Liga Danone Indonesia, dengan skor tipis 1 – 0 lewat gol dari Adi. Kawan-kawan Abanda merayakan kemenangan itu dengan saling merangkul dan kejar-kejaran di lapangan sambil berteriak, “Perancis, kami datang lagi!” Abanda tertunduk bergetar sendiri di depan gawang. Ia tak bisa membayangkan dirinya berada di Perancis mengikuti 2005 World Final Danone Nations Cup Ia dan kawan-kawannya telah diberitahu oleh manajer MFS, Diza Ali, bahwa jika ia menang ia akan pergi ke Perancis, seperti yang pernah dilakukan oleh siswa MFS tahun sebelumnya.
Sekembalinya dari Jakarta, ia semakin terus dibayangi oleh ketidakpercayaannya sendiri bahwa ia akan pergi ke Perancis. Ia bahkan tidak tahu di benua apa Perancis itu berada. Daeng Halimah juga sangat senang mendengar kabar cucunya akan berangkat ke Perancis, apalagi setelah menang di Jakarta, Abanda membawa pulang piala dan uang sebesartiga ratus ribu ribu yang ia bagi-bagi untuk nenek, ibu, dan saudara-saudaranya. Daeng Halimah menangis memeluknya saat ia menyerahkan uang hasil jerih payahnya bermain bola. Kata Daeng Halimah, itulah uang pertama yang diperoleh Abanda yang bukan dari hasil mengemis. Sebenarnya uang itu bukanlah hadiah dari kemenangan tim MFS di piala Danone. Panitia tidak menyediakan uang tunai sebagai hadiah. Kata Diza Ali di Harian Fajar, 28 Juni 2005, uang masing-masing tiga ratus ribu ribu itu sebenarnya adalah bonus yang ia rogoh dari sakunya sendiri.
Hasil yang diperlihatkan oleh Abanda, yang membuat timnya tidak kebobolan satu gol pun, dan kegigihan Abanda ingin jadi pemain bola membuat Diza Ali kemudian mengangkat Abanda sebagai anaknya. Sekembalinya dari Jakarta, Abanda kemudian menjelaskan kepada Daeng Halimah bahwa hidup dan sekolahnya akan dibiayai oleh manajernya. Daeng Halimah tak mungkin menolak nasib baik cucunya itu. Sejak saat itulah Abanda tak pernah lagi mangkal di Jl. Mesjid Raya bersama neneknya.
Setiap hari ia harus keras berlatih menghadapi pertandingan final piala Danone di Lyon, Perancis. Ia tak mau melepaskan mimpinya untuk bisa terbang ke Perancis. Setelah latihan, ia sering berdiri di pagar melihat-lihat para pemain PSM berlatih. Dari sanalah kemudian tumbuh keinginannya untuk menjadi pemain bola profesional yang main di PSM.
Diza Ali menargetkan MFS kali ini masuk lima besar. Tahun sebelumnya di ajang yang sama, mereka hanya berada di posisi 26 dari 32 peserta. Abanda merasa ia juga memiliki tanggung jawab besar itu, masuk lima besar. Ia bahkan berkata pada dirinya sendiri, “MFS harus juara!”
Sabtu, 28 Agustus 2005, dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, rombongan MFS bertolak ke Perancis. Abanda tak bisa memejamkan mata di pesawat. Ia tak bisa meredakan kegembiraan hatinya. Ia mengingat satu per satu wajah orang-orang yang dicintainya; Daeng Halimah, Daeng Mantang, Daeng Kaseng, saudara-saudaranya, dan teman-temannya di Jalan Mesjid Raya dan di lingkungan tempat tinggalnya. Ia tak bisa melupakan pesan neneknya, “Jadilah orang sukses, Nak!”
* * *
LEBIH 11.580 KILOMETER dari Indonesia, di sebuah lapangan basket di Lyon, Perancis, pada tanggal 5 September 2005, Abanda bergoyang bersama bersama anak-anak seusianya dari 32 negara. Abanda tak pernah bisa melupakan peristiwa itu dari kepalanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa betul-betul sebagai anak-anak. Sebelum menjadi siswa MFS dan bermain bola membela negaranya, ia selalu merasa sebagai anak yang terpaksa menjadi dewasa; mencari uang untuk makan dan membiayai sekolahnya sendiri. Di farewell party itu, ia bersenang-senang sebisanya. Ia melupakan semua kegetiran hidup yang selama ini tak mau beranjak darinya.
Meskipun tak bisa memenuhi target masuk lima besar, Abanda sangat senang bisa mengalahkan tim-tim besar seperti Belanda, Italia, Perancis, dan Irlandia. Ia tak bisa melupakan usapan jari, Achmad Palallo, pelatihnya, di kepalanya karena berhasil membawa MFS menjadi tim yang paling sedikit kebobolan gol. Tentu saja Abanda merasa ini adalah buah dari kerja kerasnya.
Sampai kini, Abanda masih bisa dengan lancar menceritakan kegembiraannya pernah bermain di Perancis. Di lingkungan para penderita kusta di tempat tinggalnya, ia dielu-elukan seperti seorang pahlawan yang pulang membawa kemenangan dari medan perang.
Daeng Halimah mengenang kisah kemenangan cucunya itu sebagai kebahagiaan paling besar yang pernah dirasakan keluarganya. Daeng Halimah, sambil melihat jari-jari tangannya yang aus, membanggakan cucunya. Ia berulang-ulang mengatakan, “Saya sangat percaya nasib itu bisa berubah, sepanjang kita mau berusaha.” Sebagai pengemis, Daeng Halimah tak pernah menyesali nasibnya. Seandainya ada orang yang mau menjadikan saya pembantu rumah tangga, tentu saja saya tak mau turun ke jalan, kata Daeng Halimah.
Di atas meja kecil tak bercat di sudut ruang tamu Daeng Halimah, berdiri sebuah piala berwana perak yang diterima Abanda di Perancis. Di atas piala itu, selembar foto Abanda bersama tim MFS lainnya, terpajang tanpa bingkai, di dinding rumah yag kusam itu.
***
SEPULANG DARI SEKOLAH, Selasa 11 April 2006, Abanda makan siang lalu mengganti seragamnya. Sekarang ia tak lagi butuh tergesa-gesa melakukannya. Ia kini tinggal di tempat tinggal ibu angkatnya, Diza R. Ali, di sudut barat-selatan Lapangan Karebosi, di mana kantor MFS berdiri. MFS yang diresmikan oleh Agum Gumelar, Ketua PSSI waktu itu, tanggal 23 Agustus 2000 sekarang menjadi tempat tinggal Abanda. Sebuah kamar kecil di sebelah kanan kamar seorang lelaki tua yang bertugas memotong rumput lapangan MFS, menjadi kamar Abanda. Di kamar itulah Abanda selama ini beristirahat selepas latihan.
Dengan baju seragam bola yang kedodoran berwarna biru berlengan putih bertuliskan Makassar Football School di punggungnya, Abanda memasuki lapangan sambil menenteng bola. Ia sudah tak canggung lagi berjalan bersama siswa-siswa lainnya yang rata-rata anak orang kaya.. Di lapangan ia memimpin teman-temannya berlari-lari, berbelok-belok menggiring bola melewati rintangan yang sudah dipasang oleh pelatihnya. Ia terlihat semakin lihai memainkan bola. Kini setiap hari Abanda harus berlatih mempersiapkan diri untuk ikut kembali berlaga di Liga Danone di Jakarta. Ia sangat berharap tahun ini timnya kembali bisa terbang ke Perancis dan menjadi juara. Dalam bermain bola, bocah legam itu selalu meniru gaya bertahan Rio Ferdinand, pemain Manchester United yang diidolakannya.
Abanda memang beruntung. Dari 400 lebih siswa MFS saat ini, ia terpilih kembali memperkuat MFS di Liga Danone.
Kini ia berkonsentrasi untuk latihan, ia tak perlu lagi turun ke jalan mencari uang untuk makan dan membiayai sekolahnya. Oleh ibu angkatnya, ia disekolahkan di SMP Nasional Makassar, di Jl. Ratulangi. Sekarang ia masih duduk di kelas 1, kelas 1 A.
Seusai latihan, Abanda masuk ke kamarnya mengambil handuk lalu mandi. Setelah itu ia harus menyelesaikan tugas dari sekolah yang harus ia kumpulkan besok harinya.
* * *
SELEPAS MAGRIB, SELASA, 11 April 2006, Daeng Halimah masih terlihat berjalan di antara pete-pete di Jl. Mesjid Raya. Sementara itu, Daeng Mantang dan suaminya, Daeng Kaseng, menikmati makan malam sambil menunggui gardu kecilnya yang belum lama mereka dirikan di rumah kontrakan mereka, di antara rumah-rumah para penderita kusta lainnya. Gardu kecil itu mereka bangun dari uang yang dipinjam dari tetangganya dengan bunga hampir tiga kali lipat dari nilai pinjaman.
Malam itu, Aisyah, adik bungsu Abanda sedang menengadahkan tangannya di lampu merah di Jalan Perintis Kemerdekaan, di sekitar Pintu II Universitas Hasanuddin, di jalan masuk Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Belum sebulan ia pindah ke tempat mangkal yang baru itu. Melisa, kakak Abanda yang telah menikah dengan seorang lelaki pemabuk dan kemudian bercerai, sedang berada di kamarnya berusaha menidurkan anaknya yang tak lagi memiliki ayah. Melisa dan suaminya bercerai dua bulan setelah anak mereka lahir.
Sementara di salah satu sudut Karebosi, Abanda baru saja menyelesaikan rutinitas latihannya. Setiap hari ia berlatih penuh semangat, demi untuk mewujudkan impiannya: menjadi pemain bola yang hebat dan membahagiakan keluarganya. (p!)
Langganan:
Postingan (Atom)

